Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Indahnya Ditebengin… April 3, 2013

Filed under: Hikmah — ayunp @ 2:32 am
Tags: ,

Ternyata punya motor itu berisiko ya…berisiko ditebengin sama orang lain. Tapi ya udah lah, diambil positifnya aja. Kan bisa jadi sarana supaya lebih bermanfaat buat sesama. Betul nggak?^^

Saya udah lumayan lama diamanahin punya motor nih. Sekitar enam tahun-an kalo nggak salah. Begitu deh, saya jadi punya ‘kelebihan’ baru. Apalagi kalo bukan ditebengin orang. Mulai dari ibu, kakak, adik, teman, semuanya mau nebeng sama saya. Kadang sering saya tawarin juga sih dengan tarif tertentu (he..he..he..bohong ding. Kan bukan tukang ojek ^0^). Kesel? Nggak tuh, happy-happy aja…Enjoy aja lagi (*niruiklan)

Kalo ditebengin sama orang yang udah dikenal mah biasa. Ada lagi nih yang luar biasa! Apa tuh? Ditebengin sama orang yang nggak dikenal sebelumnya! Seru deh! Setiap tebengan punya ceritanya masing-masing.

Tebengan Pertama

Baru aja nih ngeluarin motor dari rumah. Niatnya mau buru-buru cap cus. Eh, baru mau buka pager, saya lihat ada ibu-ibu berjilbab jalan agak terburu-buru. Ya udah deh, saya senyumin aja. Ibu itu langsung nyambut senyuman saya dengan bilang,”Mbak, maaf, bisa nebeng nggak?” Percakapan akhirnya lanjut…

“O iya Bu nggak apa-apa. Emang ibu mau kemana?” kata saya sambil pasang kunci mau nyalain mesin.

“Ini Mbak, saya mau ngajar nih di TK Damar. Udah telat nih…”kata Ibu sambil naik ke motor saya.

Akhirnya tancep gas deh. Sambil ngobrol, akhirnya saya tahu Ibu itu ternyata ngajar anak-anak yang nggak mampu di sebuah TK gratis. Keren banget dah!

Tebengan Kedua

Di sebuah pertigaan jalan, saya celingak-celinguk mau belok kiri. Eh, tiba-tiba ada Mbah Putri langsung duduk di jok motor.”Neng, anterin Mbah ke tukang pijit dong…” Ya udah deh, udah kadung duduk, gimana mau nolak, padahal lagi buru-buru nih. Ok, Alhamdulillah tukang pijitnya nggak terlalu jauh. Sebelum saya pergi, Mbahnya minta uang lima ribu buat bayar tukang pijit. Ok deh Mbah…*nyengir

Tebengan Ketiga

Di perempatan menuju ‘kantor’, saya lihat ada ibu yang lagi lari-lari. Ada apa gerangan? Saya lewat aja gitu di samping dia. Eh, dia malah bisik-bisik sama saya.”Mbak, bisa nebeng nggak? Saya mau ngejar anak saya…” Saya jadi ikutan  ‘panic at the disco’ juga nih. Langsung deh tancap gas.”Ayo Mbak cepet, itu anak saya udah lari…” Fiuuh, akhirnya ketemu juga tuh anaknya Ibu. Mmmm, ternyata bukan anak SD seperti yang saya kira. Anaknya itu udah gede dan (maaf) rada error. Kata ibunya, udah ketinggian ‘ilmu’…

Begitulah..smoga yang nebeng tambah banyak ya biar saya dapat banyak pahala… Aamiin^^

 

Iklan
 

Antara Senyum, Sayang, dan Nama Panjang Maret 31, 2013

Filed under: catatan harian,cerita da'wah sekolah — ayunp @ 2:40 pm
Tags: ,

Nama, sebuah rangkaian huruf penuh makna yang menjadi pengikat perkenalan antara dua insan. Dengan nama, seorang insan telah memperoleh identitas diri. Dengan nama, seorang insan tak akan asing bergaul dengan insan lain. Lebih jauh, dengan nama, seorang insan bahkan dapat menyentuh hati insan lain.

Pernah dengar kisah Hasan al Banna, seorang da’i asal Mesir yang hilir mudik menyeru manusia, mulai dari warung kopi hingga pelosok kampung? Salah satu kehebatannya adalah mampu menghafal nama objek dakwahnya dengan baik hingga membuat mereka terperangah. Pernah tahu kisah seorang guru agama di sebuah sekolah menengah atas? Beliau mampu menghafal seluruh nama murid di kelas yang diajarnya dan kemudian menyebut nama-nama itu di setiap munajat malamnya secara berurut!

Itulah ajaibnya sebuah nama yang dihafal dan diucapkan dengan sepenuh hati. Tersenyumkah bibir ini jika bertemu dengan para penghafal dan pengucap nama-nama itu?

Hampir satu tahun ini, saya diamanahkan untuk mengisi mentoring keislaman adik-adik kelas saya di  sebuah sekolah menengah atas yang terletak di selatan Jakarta. Jarak umur saya dengan adik-adik itu cukup jauh, kurang lebih delapan tahun. Oleh karena itu, saya harus pandai-pandai ‘merebut’ hati mereka. Langkah pertama yang saya lakukan adalah  mulai menghafal nama panggilan mereka satu per satu  ketika pertama kali bertemu. Agar ingat, saya langsung menggunakan nama-nama itu untuk memanggil mereka. Selain itu, saya juga membaca biodata mereka. Satu hal yang saya perhatikan dalam biodata itu adalah nama panjang mereka. Setelah itu, saya mulai menghafal nama panjang mereka masing-masing.

Berkaitan dengan nama-nama itu, ada sebuah peristiwa yang sangat berkesan bagi saya. Suatu hari, ketika mentoring belum dimulai, saya secara spontan memanggil satu per satu mereka yang telah hadir dengan nama panjangnya masing-masing. Hal ini saya lakukan tanpa rencana sebelumnya dan bertujuan untuk mencairkan suasanan saja agar terasa lebih akrab. Ternyata, ‘keisengan’ saya ini sepertinya menimbulkan kesan di hati mereka. Setelah selesai saya menyebutkan nama mereka semua, ada seorang adik yang bertanya, “Kakak, sayang ya sama kita?” Dengan tersipu malu, saya tersenyum simpul sembari berkata,”Iya Dik, Kakak sayang kalian…” Saat itu, saya merasa lega. Mereka semua akhirnya ikut tersenyum juga.

Subhanallah, dengan menghafal nama, senyum itu hadir dan sayang itu terungkap dalam kata.

Terima kasih adik-adikku, semoga senyum dan sayang kita abadi…

*seperti dituliskan untuk Lomba Menulis ‘Senyum Simpul’ Majalah Ummi