Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Ramadhan Delivery Juni 6, 2015

Filed under: catatan harian — ayunp @ 2:08 pm
Tags:

buku ramadan

Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) di SMPN 85 Jakarta adalah sebuah acara yang tidak pernah saya lewatkan dua Ramadhan yang lalu, tepatnya tahun 2011 dan tahun 2012 .  Di Tahun 2011, ada sebuah peristiwa yang membuat saya geli. Ada sebagian anak-anak yang ‘keukeuh’ mau delivery makanan dari sebuah restoran cepat saji di tengah malam! Awalnya, mereka sendiri yang telepon ke restoran itu. Saat menelepon, mereka ‘meracau’ tidak jelas sehingga mas-mas pelayan resto yang menerima telepon menjadi bingung. “Sini kakak yang ngomong! Kalian tulis makanan apa yang mau dipesan!” tegas saya.

Setelah mengetahui berapa harga pesanan yang harus dibayar, saya mengumpulkan uang mereka untuk membayar pesanan itu. Saya pula yang menunggu pesanan itu datang. Sayangnya, saya tidak ikutan makan lho! 🙂

Nah, di MABIT selanjutnya pada tahun 2012, saya sekamar lagi dengan sebagian anak-anak itu. Spontan, saya langsung bilang,”Dek, tahun lalu ikut mabit kan? Masih ingat kakak nggak?” Mereka jawab, “Iya Kak masih ingat. Yang delivery itu kan?” Lalu saya ledekin deh mereka,”Nggak mau delivery lagi nih?” Mereka diam aja tuh..hehe.

tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan in Love

 

Cerita Itikaf 1435 H: 13 Jam di Masjid Ukhuwah Islamiyah Juli 27, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 4:01 am
Tags: , , , ,
Foto: Abiyyah

Photo by: Abiyyah

Satu kata yang patut diucapkan: Alhamdulillah. Kenapa? Karena adik-adik ini begitu bersemangat untuk menunaikan sunnah Rasul yang mulai ditinggalkan di akhir bulan Ramadhan. Apa sunnah Rasul itu? Tentu saja Itikaf.

Itu semangat bagi yang bisa hadir. Bagaimana yang tidak bisa? Mereka juga bersemangat dengan menunjukkan ‘kesedihannya’ karena tidak bisa hadir akibat datangnya tamu bulanan. Sampai-sampai mereka harus dihibur begini, “Insya Allah udah dicatet pahalanya.Kan udah niat mau ikut itikaf…”

Qadarulloh, itikaf itu berlangsung juga di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Depok pada 24-25 Ramadhan 1435 H. Waktunya cukup singkat, sekitar 13 jam, tapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Ada silaturahim dengan saudari yang awalnya hanya bertemu lewat dunia maya. Ada juga ‘kopdar’ dengan adik kelas yang sudah lama tak bertatap muka. Ifthar bersama di tengah hujan lebat. Salat tarawih dan salat tahajjud yang singkat dengan imam yang fasih melantukan juz-juz akhir Alquran. Berjaga sampai larut untuk menyelesaikan lembar demi lembar tilawah, sampai-sampai ada yang tertidur dengan tangan masih menggenggam erat  mushafnya. Sahur lebih awal dengan menu sederhana. Salat subuh ditemani Surat AlMulk. Dan kajian subuh yang temanya ‘anti mainstream’, tentang kondisi Gaza, penjara terbesar di dunia. Sampai-sampai, penyampai kajian meneteskan air matanya karena teringat dengan nasib anak-anak Gaza yang pernah dijumpainya empat tahun silam.

Selain itu, ada juga tiga sesi kajian yang kalau dihubungkan akan saling berkaitan satu sama lain. Sesi pertama,  kajian sebelum tarawih tentang peran manusia sebagai hamba Allah dan khalifah dalam membangun peradaban. Sesi kedua, kajian itikaf tentang bagaimana para khulafaur rasyidin membangun peradaban sepeninggal Rasulullah. Sesi ketiga, kajian subuh tentang bagian dari peradaban yang harus diselamatkan: Gaza di Palestina.

Dan akhirnya, ada narasi besar yang menjadi benang merah dari itikaf kali ini: Membangun peradaban Islam dan menyelamatkan Palestina adalah dua perkara penting yang tak bisa dipisahkan.

 

Catatan Tarawih Dua: Menolak Misi Juli 6, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:56 pm
Tags: , ,

 

 

“Tante bukannya nggak suka ya, para ustadz bangun rumah-rumah tahfizh. Tapi mbok ya ada yang buat aksi sosial gitu. Lihat deh gereja di sana, ada dokternya. Orang Muslim pada berobat. Belum lagi yang kursus jahit, sebelum mulai kan diajarin cara doa mereka.”

“Itu lagi, di kampung atas. Ada PAUD gratis, yang biayain dewan gereja. Pembantu tante anaknya belajar di sana lagi. Ya, tante bilangin supaya hati-hati. Nah, waktu itu yang ngelola PAUD pernah mau ngontrak rumah tante. Udah mau tanda tangan kontrak nih, eh gak jadi karena tante ceramahin…”

Gadis ‘kecil’ bermukena putih yang satu shaf salat dengan tante itu hanya berkomentar singkat,”Iya, mereka kalau ngasi bantuan pasti nggak gratis. Ada ‘misi’nya.”

Setelah itu, dia merasa harus berbuat sesuatu sambil bergumam dalam hati. Hmmm, ternyata masih ada orang memiliki ghirah terhadap agama ini. Dan satu hal, kewajiban itu ternyata lebih banyak daripada waktu yang tersedia sehingga perlu saling menanggung beban ummat ini…

 

Catatan Tarawih Satu : Imam Grogi Lulusan Hadramaut

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:53 pm
Tags:

 

Bacaan Alfatihahnya lantang dan lancar. Namun ada satu yang mengganggu, yaitu beberapa makhrijul huruf yang kurang ‘pas’. Tapi ya sudah, imam juga manusia, ada kekurangannya.

Ada jeda antara salat dua-dua rakaat dengan salat witir. Jeda yang lamanya kira-kira 15 menit  itu digunakan oleh imam untuk menyampaikan  ceramah singkat.

“Perkenalkan, nama ana Syamsudin. Maaf kalau agak grogi karena baru pertama kali jadi imam di sini. Umurnya masih kecil (sambil malu-malu). Baru 25-24 gitu…”

Oalah, mungkin karena itu ya, bacaan salatnya jadi agak ‘berantakan’. #baiklah J

Isi ceramah Mas Syamsudin tentang sejarah puasa Ramadhan. O, ternyata puasa itu baru  diperintahkan pada tahun ke-2 Hijriah. Ceramahnya memang belum sistematis dan sering diulang-ulang (maklum masih grogi ^^)

“Bapak, Ibu, bukannya mau nyombong nih. Setelah lulus Aliyah, ana dapat beasiswa 5 tahun ke Hadramaut. Masya Allah, di sana kalau puasa panas sekali!”

Wuih, lulusan Hadramaut ternyata…

Besoknya, Mas Syamsudin jadi imam dan ngisi ceramah lagi. Groginya udah mulai berkurang lho! Kali ini, dia cerita tentang peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Ramadhan, yaitu Perang Badar. Pasukan Umat Islam yang ketika itu berjumlah 300-an ternyata bisa mengalahkan Pasukan Quraisy yang berjumlah 1000-an. Allahu Akbar!