Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

Iklan
 

Surat dari Mas Menteri untuk Para Pendidik Juli 28, 2016

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:38 pm
Tags: , , ,

surat dari mas menteri

 

Three Days with Raushan Juli 23, 2016

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 6:24 am
Tags: , , , , , ,

Selasa, 19 Juli 2016

Di H-1 menghadapi tahun ajaran baru, saya sempat galau. Di tengah kegalauan itu, ibu kepala sekolah menyuruh saya untuk melaksanakan sebuah tugas.  “Bu Ayu, besok tolong dampingi Raushan untuk lomba debat bahasa Inggris tingkat DKI ya di SMAUHT*. Berangkat jam 6 dari sekolah karena lombanya akan dimulai jam 07.30.”

Oke, berarti dari rumah saya harus berangkat jam 5.30 supaya tidak terlambat 🙂

“Tapi, Raushannya sudah tahu Bu kalau saya dampingi?” tanya saya.

“Oh, nanti biar guru bahasa Inggrisnya yang memberi tahu.”

Menjelang jam 7  malam, tiba-tiba telepon pintar saya berbunyi. Nomor depannya 0888 dan belum tersimpan di telepon saya. Saya kemudian mengangkatnya dan ada suara anak laki-laki di sana. Dan benar dugaan saya, itu Raushan yang menelepon. Dia mengonfirmasi apakah benar saya menjadi guru pendampingnya ketika lomba debat besok.

Rabu, 20 Juli 2016

Saya berangkat dari rumah jam 05.30 dan sampai di sekolah sekitar jam 05.50. Saya berusaha agar bisa tiba lebih awal sebelum Raushan sehingga dia tidak perlu menunggu. Setelah tiba di sekolah, saya memarkir motor saya, mentab kartu kehadiran, dan kemudian segera menghubungi Pak Ubang, supir sekolah yang akan mengantar ke SMAUHT. Menjelang jam 6, Raushan belum datang. Saya kemudian berinisiatif untuk meneleponnya. Ternyata, dia sudah hampir sampai di sekolah.

Sembari menunggu dia datang, saya bersama Pak Ubang segera naik ke mobil sekolah dan menunggunya di tempat parkir. Selang beberapa menit, Raushan datang juga. Dia ternyata diantar oleh ibunya. Saya kemudian keluar dari mobil dan bersalaman dengan ibunya.

“Ibu, untuk besok bagaimana?”tanya Ibunya Raushan

“Oh, Raushan masuk sekolah seperti biasa bu.”

“Bukannya lombanya 3 hari bu?”

“Oh, iya ya bu…” jawab saya sambil agak kebingungan

“Tolong titip anak saya ya… ”

Waduh, saya baru tahu kalau ternyata lombanya tiga hari, dari Rabu sampai Jumat. Ibu kepsek sepertinya lupa menyampaikannya kepada saya. Baiklah 🙂

Saya benar-benar melaksanakan anjuran Bapak Mendikbud di #HariPertamaSekolah untuk mengantar anak, tapi yang diantar adalah anak didik bukan anak kandung sendiri 🙂

Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, saya dan Raushan segera pamit. Setelah saya bersalaman, giliran Raushan yang mencium tangan ibunya. “Jangan lupa doanya ya, Nak!”pesan ibu kepada anak laki-lakinya itu.

Saya dan Raushan naik ke mobil sekolah. Di perjalanan, dia menjelaskan kepada saya kalau lomba pada hari ini diberitahukannya mendadak sekali, baru pada hari Selasa. Padahal, ini lombanya tingkat provinsi. Untungnya, saya masih ingat ketika dia mengikuti lomba debat di tingkat kota.

“Kamu dapat poin tertinggi kan waktu lomba di tingkat kota?”

“Iya, Bu.”

“Yang  dapat poin kedua perempuan kan?”

“Iya, dari (SMA) Tirta Marta. Yang ketiga laki-laki dari (SMA) 47.

Setelah sedikit membahas hasil lomba, saya memberitahukan kepadanya guru-guru yang akan mengajarnya di kelas XII.

“Wah, kamu beruntung nih tahu duluan dibandingkan teman-teman kamu!”

“Iya Bu, tenang aja saya nggak akan nyebarin kok.”

Sedikit cerita, Raushan itu murid yang saya ajar waktu kelas XI tahun ajaran lalu. Dia anak IPA, tetapi tetap antusias ketika belajar mata pelajaran IPS. Dia cukup aktif dan perhatian di pelajaran saya. Nilainya juga meningkat di semester kedua. Saya ingat, pernah di satu pertemuan yang membahas tentang organisasi internasional, dia memberitahukan kepada saya bahwa Inggris berencana keluar dari Uni Eropa. Kalau bukan dia yang memberi tahu, saya mungkin tidak akan mengupdate berita tersebut. Rencana itu benar-benar terjadi setelah  lebih banyak rakyat Inggris yang memilih opsi keluar dari Uni Eropa pada referendum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di kemudian hari, opsi terbanyak itu dikenal dengan istilah #Brexit.

Oke, kita kembali ke obrolan Raushan dengan saya.

“Bu, kata teman saya yang sudah di sana (SMAUHT), hari ini hanya technical meeting saja. Lombanya baru mulai besok.”

“Oh ya?”

“Iya Bu, nanti kita lihat aja di sana.”

Setelah mencari-cari keberadaan SMAUHT karena Pak Ubang sempat nyasar, akhirnya sampai juga di sana, sekitar jam 7.15. Dan ternyata benar, hari ini lomba debatnya belum dimulai.

Sebelum technical meeting ada acara pembukaan lomba oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan pembukaan ini sempat ngaret sampai jam 08.30. Ya, harap maklum karena penyelenggaranya dinas 🙂

Setelah acara pembukaan dan technical meeting selesai, Raushan berdiskusi dengan teman-temannya dari sekolah lain untuk mempersiapkan materi lomba debat esok hari. Saya memberinya waktu sampai jam 12 siang. Sembari menunggu, saya juga mengobrol dengan guru dari sekolah lain.

Saat sedang mengobrol, saya membuka aplikasi line saya dan mendapat pesan dari Raushan. Dia memberitahukan kepada saya kalau sedang mencari tempat foto kopi di luar SMAUHT. Saya mengizinkan dan tetap mengingatkannya untuk segera kembali ke sekolah setelah selesai foto kopi.

Jam 12 lebih sedikit, Raushan kembali bersama teman-temannya. Saya cukup terkejut karena ternyata dia mengizinkan teman-temannya untuk memperbanyak buku petunjuk lomba debat yang dia miliki. Anak yang baik. Dia tidak segan untuk berbagi kepada teman-temannya yang notabene adalah rivalnya dalam lomba.

Di perjalanan pulang, saya mengajaknya ngobrol kembali. Kalau diem-dieman, asli nggak enak banget. Saya lah yang sering membuka obrolan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, saya dan dia lebih banyak mengobrol tentang lomba debat bersama seorang ibu guru yang menumpang mobil sekolah. Beliau adalah panitia lomba debat tersebut. Sebuah keuntungan buat Raushan karena dia berdiskusi lebih jauh soal lomba yang akan dimulai keesokan harinya.

Setelah ibu guru itu turun, saya ngobrol dengannya lagi.

“Rumah kamu dimana?”

“Dekat kok Bu, di daerah Pondok Labu. Depan kompleks timah.”

“Oh, yang di deketnya lagi di bangun tol ya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu biasanya dijemput atau pulang sendiri.”

“Saya pulang sendiri. Naik angkot.”

Wuih, anti mainstream!  Karena anak-anak di sekolah saya biasanya diantar sama supirnya naik mobil.

“Hari ini jam terakhir ngapain Bu?”

“Masih belajar sih, tapi kalau kamu mau pulang nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa Bu, saya mau ikut belajar aja.”

Nanggung, Nak…bentar lagi juga pulang. Batin saya.

“Ya sudah, nanti ibu lihatin jadwalnya di ruang guru.”

Dasar anak suka belajar 🙂

Kamis, 21 Juli 2016

Hari ini, lomba dimulai. Seperti kemarin, Raushan diantar lagi oleh ibunya. Dia awalnya sempat bingung mencari saya dan Pak Ubang karena kami agak terlambat untuk menuju parkiran.

Selama di perjalanan, saya lebih banyak diam. Tidak terlalu banyak bicara. Raushan pun demikian.

Alhamdulillah, sampai di SMAUHT tidak terlambat walaupun jalannya agak jauh sedikit karena jalan yang dilewati kemarin ada yang ditutup. Sampai di sana, Raushan memilih untuk berada di luar tempat lomba dulu. Saat itu, saya mulai membuka obrolan dengannya.

“Gimana persiapannya? Udah buat prediksi sama teman-teman kan tentang motion debat yang akan keluar?

“Iya, udah Bu.”

“Berarti tinggal perkuat kontennya ya? lanjut saya.

“Kalau konten, nanti Bu tergantung motionnya apa yang dikasih.”

Di hari H lomba, saya tidak terlalu banyak bicara dengannya. Dia tampak asyik ngobrol dan bercengkrama dengan teman-temannya dari sekolah lain. Dia dan timnya tampil di babak kelima. Sembari menunggu, mereka menonton teman-teman lain yang berdebat di empat babak sebelumnya. Dia dan timnya baru tampil setelah istirahat makan siang.

Bahkan, saya mengingatkannya agar melaksanakan salat zuhur melalui line chat sajaKata-katanya saya benar-benar pilih agar tidak terkesan menyuruh. Tapi sayang, line chat nya hanya diread  dan sepertinya hatinya belum tergerak untuk menuju ke masjid sekolah

😦

Alhamdulillah,  dia tampil di babak kelima dengan sangat baik. Berperan sebagai pembicara kedua yang  berhasil melakukan satu kali interupsi dan juga menyampaikan reply speech. Setelah menunggu sepuluh menit, hasil babak pertama hingga babak kelima diumumkan oleh juri. Dan dia berhasil menempati peringkat ketujuh dari tiga puluh pembicara. Dengan demikian, dia termasuk 12 pembicara terbaik yang akan masuk ke babak selanjutnya. Hebat!

Di babak selanjutnya, dia juga tampil sangat baik. Kestabilan performanya terjaga. Ketika itu, saya merasa yakin dia akan masuk menjadi 6 pembicara terbaik. Bahkan, saya juga berharap dia bisa masuk menjadi 3 pembicara terbaik. Tetapi keyakinan dan harapan saya itu masih harus dibuktikan pada keesokan hari.

Di perjalanan pulang, saya juga lebih banyak diam. Namun dia sedikit berdiskusi tentang lomba debat yang  baru selesai jam 5 sore  tadi dengan ibu guru yang ikut menebeng lagi hari ini. Setelah ibu guru itu turun, saya memulai lagi pembicaraan dengannya.

How do you feel today?”

(senyum-senyum saja tidak menjawab)

“Oh iya, SDmu di Cikal ya?”

“Iya bu.”

“Kalo SMP?”

“Di Lazuardi.”

“Oh, yang di Jalan Margasatwa itu ya?”

“Iya bu.”

“Kan kamu pernah di New York. Terus bagaimana sekolahnya?”

Ketika saya bertanya itu, dia bercerita agak panjang. Saya agak lupa detailnya. Tapi yang jelas ternyata dia lahir di Belanda, kemudian sempat berpindah ke Swiss dan New York. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia sampai sekarang. Ya, risiko anak diplomat…

“Tapi nanti kuliah di Indonesia kan?”

“Iya bu, saya kan mau nyebrang ke (fakultas) hukum. Kalau S-1 di luar mana bisa…Beberapa bulan lagi ayah, ibu, dan adik saya mau pindah ke New York karena ditempatkan di KJRI sana. Tapi saya nggak ikut karena mau kuliah di sini.”

“Ok, kalau S-2 ya baru kamu di luar negeri ya…”

“Iya Bu…”

Saya juga sempat menyinggung sedikit tentang lomba debat.

“Kalau kamu masuk 3 besar, nanti finalnya di Palu.”

“Palu? Itu dimana?”

“Di Sulawesi Tengah.”

“Semoga bisa masuk tiga besar ya Bu.”

“Iya, ibu selalu berdoa kok supaya kamu bisa.”

Ketika maghrib tiba, kamipun sampai di sekolah.

Sebelum turun dari mobil, Raushan sempat memastikan lagi kepada saya.

“Besok kita berangkat jam 6.30 kan?”Sama ibu lagi kan ke sananya?”

“Iya Nak…”

Jumat, 22 Juli 2016

Raushan tiba lebih dulu dari saya. Dia tampak menunggu sambil berdiri di dekat parkiran motor. Saya melihatnya lebih dulu dan langsung saya panggil. Akhirnya dia menghampiri saya menuju parkiran motor.

“Maaf, Ibu baru sampai.”

“Nggak apa Bu. Kalau berangkatnya jam 6 saya malah nggak ada yang ngantar.”

Dia akhirnya menuju mobil sekolah setelah bersalaman dengan beberapa guru yang ditemuinya.

Di perjalanan berangkat,  saya juga lebih banyak diam. Saya hanya bertanya satu pertanyaan.

“Kemarin kamu sampai rumah jam berapa?”

“Jam 6.30, Bu. Macet.”

Pak Ubang juga menimpali.

“Saya baru sampai rumah jam 8.00.Macet banget di Depok!”

Ketika sampai di SMAUHT, Raushan agak gelisah. Dia tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir saja. Sepertinya, dia agak nervous sebelum mendengar pengumuman 6 pembicara terbaik yang akan maju ke babak final. Ada temannya yang mengingatkan supaya dia jangan terlalu nervous.

Akhirnya doa saya terkabul. Raushan berhasil masuk menjadi enam pembicara terbaik sehingga berhak masuk ke babak final. Motion di babak final agak sensitif buat saya karena membahas tentang pro-kontra penerapan syariat Islam di sebuah negara. Raushan berada di affirmative team yang berperan sebagai pemerintah yang tidak setuju terhadap penerapan syariat Islam di sebuah negara.

Sebelum maju, saya sempat berbisik kepadanya,

Good Luck, Raushan!”

Thank you, Miss” balasnya.

Raushan tetap tampil dengan performa terbaik. Bahkan ada beberapa teman dari sekolah lain yang merekam speechnya. Raushan menjelaskan dengan sangat baik mengenai mengapa pemerintah perlu melarang penerapan syariat Islam dengan disertai contoh negara-negara Islam yang melakukan ‘penyimpangan’. Bahkan dia sempat mengakhiri penyampaian contoh-contoh itu dengan frasa yang menyindir,’ What a wonderful country!’.

Namun dalam hati saya agak miris juga. He, ini anak sekolah Islam kenapa bisa ngomong begini 🙂 Tapi ya sudah, karena seorang debaters harus ‘bermain’ sesuai dengan peran yang diperolehnya. Di perjalanan pulang nanti, saya berniat untuk menanyakan pendapatnya sebagai pribadi mengenai syariat Islam.

Di dalam hati, saya hanya bergumam sendiri..Ya, kalau syariat Islam diperdebatkan, pihak yang antisyariat, cepat atau lambat akan kalah deh. Sehebat apapun argumen untuk menentangnya, syariat Islam yang langsung diciptakan oleh Allah akan selalu tampak kesempurnaannya. Di situ uniknya Islam. Semakin ditentang, semakin dicaci, semakin tampak cahayaNya.

Saya langsung teringat ayat ini

Ash Shaff 8

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Bahkan, argumen Raushan langsung dicounter  oleh Hafizh dengan berapi-api. Hafizh adalah pembicara yang ada di negative team yang berperan sebagai rakyat yang mendukung penerapan syariat Islam. Uniknya, setelah debat selesai, mereka berdua langsung bersalaman dan Hafizh berkata kepada Raushan,” What a great debate!”

Singkat cerita (karena udah malem nih ), Raushan akhirnya mendapat peringkat kelima sehingga dia tidak berhasil meraih posisi tiga besar. Alhamdulillah, dia tidak merasa kecewa karena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran. Dan alhamdulillahnya lagi, dia hari ini pergi salat jumat tanpa perlu saya ingatkan. Di perjalanan pulang ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya, dia berpandangan cukup positif terhadap syariat Islam. Satu hal lagi yang juga menggembirakan, dia ternyata  suka membaca buku apa saja karena pengaruh dari ayahnya.

Sebelum sampai di sekolah, dia bertanya kepada saya, “Bu, hari ini  ngapain di jam terakhir?”

“Oh, cuma nonton pensi aja dari anak kelas X. Nggak belajar.”

“Ya udah deh, saya mau pulang aja…”

What a good boy ! Nah gitu, kalau udah nanggung jamnya, pulang aja ke rumah. Nggak usah ‘kerajinan’ deh 🙂

 

Nice to be with you in these 3 days, Uci*.

Stay hungry, stay foolish.

Never stop learning!

IMG_20160722_233825

 

*SMAUHT: Sekolah Menengah Atas Unggulan Husni Thamrin, sebuah sekolah negeri yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur

*Uci: panggilan Raushan di  keluarganya

 

Ayah, Dongengkan Aku November 6, 2012

Filed under: Puisi — ayunp @ 3:16 pm
Tags:

Ayah, dongengkan aku

Sebelum kuterlelap

Di atas pembaringan ini

 

Ayah, dongengkan aku

Sebelum kutenggelam

Di bawah tumpukan buku-buku

 

Ayah,dongengkan aku

Sebelum kutapaki

sisa-sisa masa kecilku

 

Setelah Lulus, Jaket Kuningku Menghilang Oktober 28, 2012

Filed under: Puisi — ayunp @ 2:18 pm
Tags:

*untuk almamaterku tercinta

 

Setelah lulus, jaket kuningku menghilang

Namun semangat itu

Idealisme itu

Tak ‘kan luntur

 

Setelah lulus, jaket kuningku menghilang

Namun cita-cita itu

Impian itu

Tak ‘kan sirna

 

Setelah lulus, jaket kuningku menghilang

Namun pengabdian itu

Pelayanan itu

Tak boleh padam

 

Setelah lulus, jaket kuningku menghilang

Namun ‘perkuliahan’ itu

Tak boleh berhenti

Sampai mati…

 

Catatan 22 Oktober: Dari Riuh Sampai Lagu Tik-Tik Bunyi Hujan Oktober 23, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 2:27 am
Tags: ,

Pada 22 Oktober ini, aku kembali mengajar  di kelas 6 SD yang begitu riuh. Anak-anaknya suka sekali berbicara, sampai-sampai aku harus sering berteriak untuk mendiamkan mereka. Ada juga anak yang bercanda dan bermain-main. Aku sempat merasa kesal juga.

Hari ini aku mengajar Bahasa Inggris. Sekali lagi, kesabaranku diuji. Pelajaran yang sebelumnya sudah pernah kusampaikan ternyata telah sedikit dilupakan oleh mereka.

Setelah aku menerangkan kembali materi yang pernah kusampaikan dulu, kemudian aku menyuruh mereka mengerjakan soal latihan. Suasana kelas ramai dengan pertanyaan sehingga membuat aku sibuk untuk menjawabnya.

“Kak, I’d rather apa artinya?”

Pears itu apa kak?”

Librarian itu apa kak?”

Bahkan arti her dan his juga ditanya.

“Adik-adik,kataku,”kalau ketemu her atau his itu diartikan -nya!”

Setelah sedikit ‘rusuh’, akhirnya latihan selesai dikerjakan. Sebelum mereka pulang, saya mengajarkan mereka sebuah lagu.

Tik-tik bunyi hujan disebut rainy

Langitnya cerah namanya sunny

Kalau berawan namanya cloudy

Berkabut foggy bersalju snowy

Mereka senang diajarkan lagu itu.”Kak, nanti aku mau nyanyi lagu itu di sekolah! teriak seorang murid kepadaku.

Aku juga merasa senang karena mereka bisa menyanyikan lagi lagu anak-anak. Pasalnya,  kebanyakan lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu dewasa bernada cinta ‘picisan’

Dan…aku akhirnya menemukan sebuah strategi! Kalau mengajar mereka, aku harus menggunakan media lagu. ^0^

Catatan:

Terima kasih untuk pengajar muda yang sudah posting lagu tik-tik hujan untuk media pembelajaran Bahasa Inggris di belajar.indonesiamengajar.org.

 

Hidup Damdas 16 Batu! Oktober 16, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 4:25 pm
Tags: , ,

Damdas 16 Batu a la Ayu

Senin sore kemarin, Farhan, muridku yang masih duduk di kelas 4 SD, mengajakku untuk belajar Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ). Ternyata, dia akan menempuh ulangan tengah semester besok dan pelajaran itu yang akan diuji. Jadilah dia ‘mendaulatku’ agar berperan sebagai pengetes hasil belajarnya siang tadi. “Ayo Kak, tanyain aku tentang PLBJnya, bahan (ulangannya) cuma bab 2 dan bab 3, bab 1-nya nggak,” rajuknya kepadaku.

Tanya jawab pada materi bab 2 berlangsung lancar karena pokok bahasannya cukup mudah, mengenai alat-alat komunikasi. Dia menjawab pertanyaanku dengan baik. Alat-alat komunikasi tradisional, pemanfaatan alat komunikasi, dan cara merawat alat komunikasi, sudah dihafalnya ‘di dalam kepala’. Kalau begitu, aku pantas mengatakan ‘WOW’ kepadanya.. ^^

Nah, ‘masalah’ akhirnya datang pada tanya jawab materi bab 3. Ternyata oh ternyata, materi pada bab itu adalah tentang permainan tradisional Betawi! Ketika aku bertanya padanya ,”Farhan, sudah pernah main ini?” Dia menggeleng tanda tak pernah. Apa pula permainan ini, namanya sungguh aneh, “DAMDAS 16 BATU”. Baru sekarang aku mengetahui ternyata ada permainan macam itu!

Dengan setengah malas, aku bertanya saja padanya,”Apa nilai dari permainan ini.” Dia juga menjawabnya dengan nada yang enggan, “Membantu konsentrasi dalam belajar, melatih kejujuran…”

Dia kemudian merajukku lagi,”Kak, kita coba aja yuk permainannya!” Mendengar itu, aku tambah tak bersemangat lagi. “Aduh Nak, beberapa menit lagi jam mengajarku tiba, aku belum sempat rehat barang sebentar”, gumamku dalam hati.

Dia tiba-tiba meninggalkanku keluar. Untuk apa? Ya, dia ternyata benar-benar mencari batu untuk main damdas itu! Baiklah, aku menjadi semangat kembali. Dengan sigap, kuambil kertas koran yang ada di dekatku, lalu kutiru bidang permainan damdas yang ada di buku. Yap, akhirnya jadi juga. Walaupun garisnya mencong-mencong tak karuan, yang penting sudah miriplah!

Dan…Dia kembali dengan membawa batu-batu kecil. Lalu kususun batu-batu itu di bidang damdas tadi. “Wah, ternyata batunya kurang, Farhan!” Dia kemudian berlari keluar dengan cepat dan membawa batu tambahan.

Permainan damdas akhirnya dimulai. Kita berdua suit untuk menentukan siapa yang maju terlebih dulu. Tiba gilirannya maju. Lalu giliranku. Nah, tiba-tiba di tengah permainan aku berpikir,”Bagaimana ini, batuku dan batunya selintas sama. Harus dibedakan!” Akhirnya aku ambil spidol biru untuk mewarnai batunya agar berbeda dengan batuku.

Permainan dimulai kembali. Perlahan, aku baru mengerti cara memainkannya. Mirip seperti bermain halma atau catur jawa. Ternyata asyik juga ya!

Aku akui, Farhan lebih pandai dariku. Dia berhasil memenangkan dua dari dua ronde yang kita mainkan bersama…

Hidup Damdas 16 Batu!