Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Ketika Anak Didik Benar-Benar Masuk FHUI Maret 9, 2018

Filed under: cerita mengajarku,hukum — ayunp @ 7:44 am
Tags: , , , , ,

Bangga dan bahagia. Itu dua kata yang pantas menggambarkan isi hati saya di akhir masa tugas menjadi Guru PKn di sebuah SMA swasta di selatan Jakarta. Alasannya sederhana. Dua anak didik yang pernah saya ceritakan tahun lalu di postingan ini akhirnya berhasil menjadi satu almamater dengan saya di FHUI. Saya menjadi mahasiswa FHUI pada tahun 2007, sedangkan mereka menjadi mahasiswa FHUI pada tahun 2017 ini. Tepat satu dekade berselang, mereka menjadi ‘adik’ saya.

Menjadi mahasiswa FHUI adalah langkah awal untuk mencapai cita-cita mereka. Uniknya, cita-cita mereka sama: menjadi pengacara. Namun, saya agak berbeda ketika berinisiatif memberikan penguatan kepada mereka mengenai aktivitas yang sebaiknya mereka lakukan ketika berada di kampus. Bagaimana profil singkat mereka,  apa aktivitas yang saya rekomendasikan, dan apa alasan mereka menjadi pengacara? Mari kita simak bersama-sama.

1. Calon Direktur Asian Law Students’ Association

Adira, berhasil masuk ke FHUI melalui jalur talent scouting. Ketika berkuliah nanti, dia akan berada di kelas khusus internasional. Saat SMA, dia adalah seorang ketua OSIS. “Wah, kamu mah calon ketua (maksudnya direktur) ALSA nih! kata saya kepadanya ketika tak sengaja bertemu setelah pengumuman kelulusan SMA. “Aamiin, Bu!” jawabnya singkat.

Kemudian, mengapa Adira bercita-cita menjadi pengacara? Karena dia merasa prihatin dengan ketentuan hukum Indonesia yang masih belum dapat menjaga hasil karya cipta masyarakat. Betul sekali, pembajakan masih sering saja terjadi padahal sudah ada undang-undang mengenai hak kekayaan intelektual. Di tahun kesepuluhnya menjadi pengacara, dia ingin mendirikan firma hukum yang menangani kasus-kasus hukum internasional. Mantap!

2. Calon Best Oralist di Philip Jessup International Law Moot Court Competition

Berbeda dengan Adira, Raushan berhasil masuk ke FHUI melalui jalur SBMPTN sehingga ketika berkuliah nanti, dia akan berada di kelas reguler. Sewaktu SMA, Raushan sukses meraih predikat Best Oralist pada kompetisi moot court yang diikuti bersama adik kelasnya. Ketika mengucapkan selamat atas capaiannya di SBMPTN melalui pesan singkat, saya berkata padanya,”Semoga nanti dua atau tiga tahun lagi kamu bisa ikut  Philip Jessup International Law Moot Court Competition dan jadi best oralist.” Aamiin 

Nah, mengapa Raushan ingin menjadi pengacara? Ada empat alasannya. Pertama, supaya bisa berguna untuk orang lain. Kedua, supaya bisa memenuhi kebutuhan material. Ketiga, sebagai landasan untuk tujuan lain di masa depan. Keempat, supaya mengetahui bagaimana hukum Indonesia dilaksanakan. Selain itu, menurut Raushan, jumlah pengacara yang ada masih belum sebanding dengan jumlah penduduk yang harus dibela. Pendapat Raushan benar. Berdasarkan artikel ini, ketersediaan pengacara di Indonesia masih sangat jauh dari standar ideal, yaitu harus ada satu pengacara untuk seribu seratus penduduk (1:1100).

Ok, Nak! Selamat berjuang untuk menempuh masa-masa perkuliahan di FHUI. Kami menunggu kiprah kalian untuk mewujudkan hukum Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

GO, FIGHT, WIN, YES!

Sumber tulisan

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt56a74ee917a37/rasio-jumlah-pengacara-dan-penduduk-di-empat-provinsi

Tulisan tentang Cita-Cita Adira dan Cita-Cita Raushan di Buku Ekspresi Angkatan XX

*pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/ketika-anak-didik-benar-benar-masuk-fhui

 

 

Iklan
 

Cerita HSM 5: Awalnya Kebingungan, Akhirnya Jadi Runner Up

Filed under: cerita mengajarku,hukum — ayunp @ 7:26 am
Tags: , , , ,

hukumpedia-ICC 1

Nekat. Itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana keputusan saya ketika memilih menjadi guru pendamping bagi ketiga anak didik yang akan mengikuti 10th High School Moot Court Competition ( 10th HSMCC), 4-6 November 2016. Pasalnya, kompetisi yang diadakan setiap tahun oleh Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan itu menuntut saya mempelajari hal-hal baru ini secara cepat: International Humanitarian Law (IHL), International Criminal LawRome Statute, dan aturan-aturan lain terkait IHL. Belum lagi harus mempelajari kasus fiktif ‘Prosecutor vs En Sabah Nuur’ sebagai bekal untuk membuat Memorial of Prosecutor dan Memorial of Defendant.

Ok, saya menganggap semua hal tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Pasalnya, kompetisi ini sangat istimewa karena satu-satunya kompetisi mootcourt untuk murid SMA dengan model International Criminal Court. Karena ini kompetisi istimewa, maka anak didik saya yang menjadi pesertanya juga istimewa. Satu di antara keistimewaan mereka adalah kemampuan Bahasa Inggris mereka yang jauh lebih baik daripada saya.

Dengan niat untuk membantu anak didik saya belajar dan mengembangkan potensi mereka, saya akhirnya berusaha untuk mendampingi semampu saya. Dengan berbekal instinct sebagai sarjana hukum dan pengalaman mendampingi kompetisi yang sama di tahun sebelumnya, saya berusaha membantu mereka mempersiapkan diri  di sela-sela kesibukan mengajar.

Oh ya, siapa saja anak didik saya yang terpilih untuk menjadi tim dalam kompetisi mootcourt tersebut? Setelah meminta rekomendasi dari Guru Bahasa Inggris Kelas XI dan XII, akhirnya saya memutuskan untuk memilih tiga anak, yaitu satu anak kelas XII dan dua anak kelas XI. Mereka adalah Raushan Aljufri (first counsel), Deidra Cambaliza (second counsel), dan Alexa Noorfatimah Satryo (researcher) Saya sengaja membuat komposisi satu tim seperti itu agar adik kelas bisa belajar dari kakak kelasnya yang notabene memang hebat speaking skillnya.

Inilah perjalanan yang saya lalui bersama mereka yang tergabung dalam tim HSM 5. Perasaan saya ketika melaluinya campur aduk. Ada senang, capek, bingung, khawatir. Namun semuanya berakhir membahagiakan dan membanggakan ^^

Memorials yang Membuat Bingung

Tahap pertama yang harus dilalui adalah menyusun memorials, baik Memorial of Prosecutor dan Memorial of Defendant Sebelum itu dilakukan, perlu dipahami dulu kasus yang diberikan, yaitu Prosecutor vs En Sabah Nuur. Dalam kasus tersebut, terdapat sekitar dua puluh fakta yang juga dilengkapi dengan dakwaan (count) yang harus dijatuhkan kepada terdakwanya. Setelah membaca kasus, ternyata ada dua hal yang harus dibuktikan oleh prosecutor, yaitu apakah terdakwa terlibat dua kejahatan, yaitu war crimes attacking protected object  dengan pertanggungjawaban individu dan war crimes attacking civilian population dengan pertanggungjawaban komando. Sebaliknya, defendant harus menyanggah kalau tidak terlibat dua kejahatan tersebut.

Sepintas, membuat memorials terlihat mudah karena tinggal membuktikan apakah unsur-unsur pasal dalam dua kejahatan tersebut terpenuhi atau tidak. Masukkan elements of crime pasal-pasal Rome Statute yang berhubungan dengan dua kejahatan tadi, kemudian kaitkan dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi ada yang membuat saya dan anak-anak bingung. Bagaimana caranya agar memorials yang dibuat lebih kaya dengan peraturan lain dan kasus-kasus sebelumnya? Walaupun diliputi kebingungan, memorials tetap berusaha disusun dengan baik dalam waktu yang cukup lama, dari awal September hingga pertengahan Oktober. Sebenarnya saya merasa agak bersalah karena kurang maksimal melakukan final checking. Masih ada dua dasar hukum yang salah tulis dan beberapa kalimat yang sebenarnya bisa diperbaiki.

It’s ok. Saya sangat menghargai upaya anak-anak dalam menyusun memorials di sela-sela kesibukan sekolah mereka. Buat saya, sekelas anak SMA sudah sangat bagus  bisa melakukan hal itu. Satu hal lagi, saya bangga karena memorials yang disusun benar-benar hasil kerja satu tim.

Latihan Oral Presentation yang Sederhana

Awalnya, saya menargetkan paling tidak ada empat sesi latihan oral presentationI setelah memorials selesai disusun. Namun hanya terealisasi dua kali dan berlangsung sederhana. Saya hanya menyusun pertanyaan-pertanyaan dari memorials berdasarkan apa yang saya pahami. Setelah itu saya berusaha menginterrupt anak didik saya yang menjadi first counsel dan second counsel ketika mereka sedang mempresentasikan memorialsnya. Walaupun berlangsung sederhana, paling tidak anak didik saya mengetahui gambaran situasi ketika kompetisi nanti. Saya mengatakan kepada mereka bahwa harus siap menghadapi dua hal ketika oral presentation: diinterupsi hakim ketika presentasi dan kemudian diberikan pertanyaan yang ‘muter-muter’.

Gagal Technical Meeting Karena Demo 411

Awalnya, saya sudah mengajak anak-anak untuk mengikuti technical meeting di UPH pada tanggal 4 November 2016. Namun anak-anak kelas XI mendadak tidak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang harus diselesaikan. Tinggal saya dan anak kelas XII yang bisa ikut. Ketika itu, saya ragu untuk datang ke UPH. Situasi tidak menentu karena demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menghadiri technical meeting untuk memperkecil risiko. Lagipula panitia sudah memutuskan bahwa menghadiri technical meeting adalah pilihan bukan kewajiban. Untungnya, panitia mengirimkan jadwal kompetisi dan memorials lawan sehingga anak-anak bisa mempersiapkan diri di Jumat malamnya.

Clear Holder: Ada dan Perlu

Saya berusaha mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan ketika kompetisi dalam dua buah clear holder, yaitu untuk first counsel dan second counsel. Yang saya persiapkan juga sederhana: statement of facts Prosecutor vs En Sabah Nuur, beberapa pasal dalam Rome Statute dan Customary Law of IHL, dan memorials. Khusus second counsel ditambah dengan speech yang merupakan rangkuman dari memorials. First counsel lebih nyaman membuat sendiri poin-poin ketika oral presentation sehingga tidak perlu ada speech yang dimasukkan ke clear holdernya. Satu di antara kunci keberhasilan mooting adalah kerapian dan keteraturan berkas sehingga clear holder dan isinya sangat perlu dibawa.

Hari H Lomba: All Out!

Ketika hari H lomba, saya bukan lagi mooting coach. Saya telah berubah menjadi spiritual coach. Saya lebih banyak mendukung dan mendoakan anak-anak saja. Memberikan feedback ke anak-anak juga seperlunya karena pada setiap babak judges juga memberikan feedback yang lebih komprehensif.

Saya melihat sendiri, anak-anak benar-benar mengeluarkan semua potensi yang mereka miliki. Mereka belajar dari babak demi babak, terutama ketika preliminary round yang dijalani sebanyak dua kali. Mereka memperhatikan sekali feedback dari judges dan berusaha memperbaiki penampilan mereka pada babak selanjutnya. Sebelum tampil, mereka juga meriset sendiri hal-hal yang menguatkan argumen mereka. Ketika itu, saya percaya sepenuhnya bahwa anak-anak bisa tampil maksimal.

Upaya yang dilakukan dan doa yang dilantunkan akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak berhasil melaju hingga ke babak final! Satu pencapaian yang lebih baik dari tahun lalu. Ya, walaupun ketika semifinal saya sempat deg-degan karena ketahuan ada dasar hukum yang salah tulis di memorial, akhirnya dengan berbagai pertimbangan, judges memutuskan anak-anak didik saya yang berhak tampil di babak final. Setelah berusaha yang terbaik di babak final, akhirnya mereka berhasil menjadi 1st Runner Up. Daan, first counsel tim HSM 5 berhasil meraih Best Oralist. Great!

Di balik semua keberhasilan yang telah diraih, ada satu hal yang menjadi bahan renungan saya:  Finally, each of us will face The Most Just of Judges in the hereafter. Have we prepared?

*pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/cerita-hsm-5-awalnya-kebingungan-akhirnya-jadi-runner-up

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

Ketika Anak Didik Mau Masuk FH

Sebagai guru yang latar belakangnya sarjana hukum, saya senang sekali apabila mengetahui ada anak didik saya yang ingin masuk ke fakultas hukum (FH). Hoho, yang jelas saya yakin sekali mereka akan jauh lebih hebat daripada saya. Satu di antara ciri khas mereka adalah pandai berbicara dan hobi berpendapat. Wow, itu ‘modal’ yang berguna banget untuk masuk ke FH!

Berikut kisah dua anak didik saya yang mau masuk fakultas hukum. Selamat membaca…

Anak Didik Pertama

Dia anak perempuan. Sewaktu kelas XI, dia memang mengatakan kepada saya berminat masuk ke fakultas hukum. Bahkan, karya ilmiah yang dibuatnya sebagai tugas pelajaran muatan lokal bertema hukum. Saya membantunya untuk memperkaya referensi karya ilmiahnya dengan meminjamkan buku ‘Hukum dan Perilaku’ karya Satjipto Rahardjo. Ketika saya tanya kepadanya, “Nak, itu buku yang ibu pinjamkan berguna tidak?” Alhamdulillah, katanya sangat berguna 

Setelah agak lama, bukunya belum juga dikembalikan. Ketika saya bertemu lagi dengannya, dia sudah naik ke kelas XII. Saya tidak lagi mengajarnya. Ketika tak sengaja berpapasan dengannya, saya mengajaknya berbincang sejenak.

“Nak, masih ingat buku yang pernah ibu pinjamkan dulu? Itu buat kamu saja. Masih mau masuk FH kan? Kamu harus baca buku itu sebelum masuk FH. Ibu agak menyesal karena terlambat membaca buku itu ketika kuliah”

“Iya, Bu. Saya mau masuk FH. Beneran buat saya? Makasih banyak. Doain ya Bu bisa masuk FHUI.”

Gak apa lah ya..’Diracunin’ sedikit sama sosio-legal perspective semenjak dini  Biar jadi sarjana hukum berhati nurani…

Anak Didik Kedua

“Kamu mau kuliah dimana nanti?”

“Ya, kalau nggak (fakultas) hukum, ya (fakultas ilmu) komputer juga nggak apa-apa bu.”

Gumam saya dalam hati,”Ambil (fakultas ilmu) komputer? Jangaaan, gak cocok… Bukan kamu banget.”

“Udah, kamu ‘nyebrang’ aja lah ke hukum. Kebanyakan orang hukum juga anak IPA”

“Iya sih, kalau hukum pilihan kariernya lebih luas.”

“Iya, ambil hukum internasional nanti.”

Itu percakapan saya ketika di perjalanan mendampinginya lomba debat bahasa Inggris. Siapa dia? Anak seorang diplomat yang suka membaca dan pandai sekali berargumen. Ya, like father like son lah. Dia anak IPA, tapi kemungkinan besar mau ‘nyebrang’ ambil FH ketika kuliah nanti.

Prediksi saya, kalau memang anak ini jadi kuliah di FH, di tahun 2045, dia bisa jadi adalah Menteri Luar Negeri Indonesia. Karena ada kemungkinan dia akan menjadi diplomat seperti bapaknya. Semoga!

 

 We gotta go go HUKUM go

We gotta fight fight HUKUM fight

We gotta win win HUKUM win

Go go 

Fight fight

 Win win

Yes!

 

pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/ketika-anak-didik-mau-masuk-fh

 

 

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

 

Surat dari Mas Menteri untuk Para Pendidik Juli 28, 2016

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:38 pm
Tags: , , ,

surat dari mas menteri

 

Three Days with Raushan Juli 23, 2016

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 6:24 am
Tags: , , , , , ,

Selasa, 19 Juli 2016

Di H-1 menghadapi tahun ajaran baru, saya sempat galau. Di tengah kegalauan itu, ibu kepala sekolah menyuruh saya untuk melaksanakan sebuah tugas.  “Bu Ayu, besok tolong dampingi Raushan untuk lomba debat bahasa Inggris tingkat DKI ya di SMAUHT*. Berangkat jam 6 dari sekolah karena lombanya akan dimulai jam 07.30.”

Oke, berarti dari rumah saya harus berangkat jam 5.30 supaya tidak terlambat 🙂

“Tapi, Raushannya sudah tahu Bu kalau saya dampingi?” tanya saya.

“Oh, nanti biar guru bahasa Inggrisnya yang memberi tahu.”

Menjelang jam 7  malam, tiba-tiba telepon pintar saya berbunyi. Nomor depannya 0888 dan belum tersimpan di telepon saya. Saya kemudian mengangkatnya dan ada suara anak laki-laki di sana. Dan benar dugaan saya, itu Raushan yang menelepon. Dia mengonfirmasi apakah benar saya menjadi guru pendampingnya ketika lomba debat besok.

Rabu, 20 Juli 2016

Saya berangkat dari rumah jam 05.30 dan sampai di sekolah sekitar jam 05.50. Saya berusaha agar bisa tiba lebih awal sebelum Raushan sehingga dia tidak perlu menunggu. Setelah tiba di sekolah, saya memarkir motor saya, mentab kartu kehadiran, dan kemudian segera menghubungi Pak Ubang, supir sekolah yang akan mengantar ke SMAUHT. Menjelang jam 6, Raushan belum datang. Saya kemudian berinisiatif untuk meneleponnya. Ternyata, dia sudah hampir sampai di sekolah.

Sembari menunggu dia datang, saya bersama Pak Ubang segera naik ke mobil sekolah dan menunggunya di tempat parkir. Selang beberapa menit, Raushan datang juga. Dia ternyata diantar oleh ibunya. Saya kemudian keluar dari mobil dan bersalaman dengan ibunya.

“Ibu, untuk besok bagaimana?”tanya Ibunya Raushan

“Oh, Raushan masuk sekolah seperti biasa bu.”

“Bukannya lombanya 3 hari bu?”

“Oh, iya ya bu…” jawab saya sambil agak kebingungan

“Tolong titip anak saya ya… ”

Waduh, saya baru tahu kalau ternyata lombanya tiga hari, dari Rabu sampai Jumat. Ibu kepsek sepertinya lupa menyampaikannya kepada saya. Baiklah 🙂

Saya benar-benar melaksanakan anjuran Bapak Mendikbud di #HariPertamaSekolah untuk mengantar anak, tapi yang diantar adalah anak didik bukan anak kandung sendiri 🙂

Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, saya dan Raushan segera pamit. Setelah saya bersalaman, giliran Raushan yang mencium tangan ibunya. “Jangan lupa doanya ya, Nak!”pesan ibu kepada anak laki-lakinya itu.

Saya dan Raushan naik ke mobil sekolah. Di perjalanan, dia menjelaskan kepada saya kalau lomba pada hari ini diberitahukannya mendadak sekali, baru pada hari Selasa. Padahal, ini lombanya tingkat provinsi. Untungnya, saya masih ingat ketika dia mengikuti lomba debat di tingkat kota.

“Kamu dapat poin tertinggi kan waktu lomba di tingkat kota?”

“Iya, Bu.”

“Yang  dapat poin kedua perempuan kan?”

“Iya, dari (SMA) Tirta Marta. Yang ketiga laki-laki dari (SMA) 47.

Setelah sedikit membahas hasil lomba, saya memberitahukan kepadanya guru-guru yang akan mengajarnya di kelas XII.

“Wah, kamu beruntung nih tahu duluan dibandingkan teman-teman kamu!”

“Iya Bu, tenang aja saya nggak akan nyebarin kok.”

Sedikit cerita, Raushan itu murid yang saya ajar waktu kelas XI tahun ajaran lalu. Dia anak IPA, tetapi tetap antusias ketika belajar mata pelajaran IPS. Dia cukup aktif dan perhatian di pelajaran saya. Nilainya juga meningkat di semester kedua. Saya ingat, pernah di satu pertemuan yang membahas tentang organisasi internasional, dia memberitahukan kepada saya bahwa Inggris berencana keluar dari Uni Eropa. Kalau bukan dia yang memberi tahu, saya mungkin tidak akan mengupdate berita tersebut. Rencana itu benar-benar terjadi setelah  lebih banyak rakyat Inggris yang memilih opsi keluar dari Uni Eropa pada referendum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di kemudian hari, opsi terbanyak itu dikenal dengan istilah #Brexit.

Oke, kita kembali ke obrolan Raushan dengan saya.

“Bu, kata teman saya yang sudah di sana (SMAUHT), hari ini hanya technical meeting saja. Lombanya baru mulai besok.”

“Oh ya?”

“Iya Bu, nanti kita lihat aja di sana.”

Setelah mencari-cari keberadaan SMAUHT karena Pak Ubang sempat nyasar, akhirnya sampai juga di sana, sekitar jam 7.15. Dan ternyata benar, hari ini lomba debatnya belum dimulai.

Sebelum technical meeting ada acara pembukaan lomba oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan pembukaan ini sempat ngaret sampai jam 08.30. Ya, harap maklum karena penyelenggaranya dinas 🙂

Setelah acara pembukaan dan technical meeting selesai, Raushan berdiskusi dengan teman-temannya dari sekolah lain untuk mempersiapkan materi lomba debat esok hari. Saya memberinya waktu sampai jam 12 siang. Sembari menunggu, saya juga mengobrol dengan guru dari sekolah lain.

Saat sedang mengobrol, saya membuka aplikasi line saya dan mendapat pesan dari Raushan. Dia memberitahukan kepada saya kalau sedang mencari tempat foto kopi di luar SMAUHT. Saya mengizinkan dan tetap mengingatkannya untuk segera kembali ke sekolah setelah selesai foto kopi.

Jam 12 lebih sedikit, Raushan kembali bersama teman-temannya. Saya cukup terkejut karena ternyata dia mengizinkan teman-temannya untuk memperbanyak buku petunjuk lomba debat yang dia miliki. Anak yang baik. Dia tidak segan untuk berbagi kepada teman-temannya yang notabene adalah rivalnya dalam lomba.

Di perjalanan pulang, saya mengajaknya ngobrol kembali. Kalau diem-dieman, asli nggak enak banget. Saya lah yang sering membuka obrolan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, saya dan dia lebih banyak mengobrol tentang lomba debat bersama seorang ibu guru yang menumpang mobil sekolah. Beliau adalah panitia lomba debat tersebut. Sebuah keuntungan buat Raushan karena dia berdiskusi lebih jauh soal lomba yang akan dimulai keesokan harinya.

Setelah ibu guru itu turun, saya ngobrol dengannya lagi.

“Rumah kamu dimana?”

“Dekat kok Bu, di daerah Pondok Labu. Depan kompleks timah.”

“Oh, yang di deketnya lagi di bangun tol ya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu biasanya dijemput atau pulang sendiri.”

“Saya pulang sendiri. Naik angkot.”

Wuih, anti mainstream!  Karena anak-anak di sekolah saya biasanya diantar sama supirnya naik mobil.

“Hari ini jam terakhir ngapain Bu?”

“Masih belajar sih, tapi kalau kamu mau pulang nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa Bu, saya mau ikut belajar aja.”

Nanggung, Nak…bentar lagi juga pulang. Batin saya.

“Ya sudah, nanti ibu lihatin jadwalnya di ruang guru.”

Dasar anak suka belajar 🙂

Kamis, 21 Juli 2016

Hari ini, lomba dimulai. Seperti kemarin, Raushan diantar lagi oleh ibunya. Dia awalnya sempat bingung mencari saya dan Pak Ubang karena kami agak terlambat untuk menuju parkiran.

Selama di perjalanan, saya lebih banyak diam. Tidak terlalu banyak bicara. Raushan pun demikian.

Alhamdulillah, sampai di SMAUHT tidak terlambat walaupun jalannya agak jauh sedikit karena jalan yang dilewati kemarin ada yang ditutup. Sampai di sana, Raushan memilih untuk berada di luar tempat lomba dulu. Saat itu, saya mulai membuka obrolan dengannya.

“Gimana persiapannya? Udah buat prediksi sama teman-teman kan tentang motion debat yang akan keluar?

“Iya, udah Bu.”

“Berarti tinggal perkuat kontennya ya? lanjut saya.

“Kalau konten, nanti Bu tergantung motionnya apa yang dikasih.”

Di hari H lomba, saya tidak terlalu banyak bicara dengannya. Dia tampak asyik ngobrol dan bercengkrama dengan teman-temannya dari sekolah lain. Dia dan timnya tampil di babak kelima. Sembari menunggu, mereka menonton teman-teman lain yang berdebat di empat babak sebelumnya. Dia dan timnya baru tampil setelah istirahat makan siang.

Bahkan, saya mengingatkannya agar melaksanakan salat zuhur melalui line chat sajaKata-katanya saya benar-benar pilih agar tidak terkesan menyuruh. Tapi sayang, line chat nya hanya diread  dan sepertinya hatinya belum tergerak untuk menuju ke masjid sekolah

😦

Alhamdulillah,  dia tampil di babak kelima dengan sangat baik. Berperan sebagai pembicara kedua yang  berhasil melakukan satu kali interupsi dan juga menyampaikan reply speech. Setelah menunggu sepuluh menit, hasil babak pertama hingga babak kelima diumumkan oleh juri. Dan dia berhasil menempati peringkat ketujuh dari tiga puluh pembicara. Dengan demikian, dia termasuk 12 pembicara terbaik yang akan masuk ke babak selanjutnya. Hebat!

Di babak selanjutnya, dia juga tampil sangat baik. Kestabilan performanya terjaga. Ketika itu, saya merasa yakin dia akan masuk menjadi 6 pembicara terbaik. Bahkan, saya juga berharap dia bisa masuk menjadi 3 pembicara terbaik. Tetapi keyakinan dan harapan saya itu masih harus dibuktikan pada keesokan hari.

Di perjalanan pulang, saya juga lebih banyak diam. Namun dia sedikit berdiskusi tentang lomba debat yang  baru selesai jam 5 sore  tadi dengan ibu guru yang ikut menebeng lagi hari ini. Setelah ibu guru itu turun, saya memulai lagi pembicaraan dengannya.

How do you feel today?”

(senyum-senyum saja tidak menjawab)

“Oh iya, SDmu di Cikal ya?”

“Iya bu.”

“Kalo SMP?”

“Di Lazuardi.”

“Oh, yang di Jalan Margasatwa itu ya?”

“Iya bu.”

“Kan kamu pernah di New York. Terus bagaimana sekolahnya?”

Ketika saya bertanya itu, dia bercerita agak panjang. Saya agak lupa detailnya. Tapi yang jelas ternyata dia lahir di Belanda, kemudian sempat berpindah ke Swiss dan New York. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia sampai sekarang. Ya, risiko anak diplomat…

“Tapi nanti kuliah di Indonesia kan?”

“Iya bu, saya kan mau nyebrang ke (fakultas) hukum. Kalau S-1 di luar mana bisa…Beberapa bulan lagi ayah, ibu, dan adik saya mau pindah ke New York karena ditempatkan di KJRI sana. Tapi saya nggak ikut karena mau kuliah di sini.”

“Ok, kalau S-2 ya baru kamu di luar negeri ya…”

“Iya Bu…”

Saya juga sempat menyinggung sedikit tentang lomba debat.

“Kalau kamu masuk 3 besar, nanti finalnya di Palu.”

“Palu? Itu dimana?”

“Di Sulawesi Tengah.”

“Semoga bisa masuk tiga besar ya Bu.”

“Iya, ibu selalu berdoa kok supaya kamu bisa.”

Ketika maghrib tiba, kamipun sampai di sekolah.

Sebelum turun dari mobil, Raushan sempat memastikan lagi kepada saya.

“Besok kita berangkat jam 6.30 kan?”Sama ibu lagi kan ke sananya?”

“Iya Nak…”

Jumat, 22 Juli 2016

Raushan tiba lebih dulu dari saya. Dia tampak menunggu sambil berdiri di dekat parkiran motor. Saya melihatnya lebih dulu dan langsung saya panggil. Akhirnya dia menghampiri saya menuju parkiran motor.

“Maaf, Ibu baru sampai.”

“Nggak apa Bu. Kalau berangkatnya jam 6 saya malah nggak ada yang ngantar.”

Dia akhirnya menuju mobil sekolah setelah bersalaman dengan beberapa guru yang ditemuinya.

Di perjalanan berangkat,  saya juga lebih banyak diam. Saya hanya bertanya satu pertanyaan.

“Kemarin kamu sampai rumah jam berapa?”

“Jam 6.30, Bu. Macet.”

Pak Ubang juga menimpali.

“Saya baru sampai rumah jam 8.00.Macet banget di Depok!”

Ketika sampai di SMAUHT, Raushan agak gelisah. Dia tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir saja. Sepertinya, dia agak nervous sebelum mendengar pengumuman 6 pembicara terbaik yang akan maju ke babak final. Ada temannya yang mengingatkan supaya dia jangan terlalu nervous.

Akhirnya doa saya terkabul. Raushan berhasil masuk menjadi enam pembicara terbaik sehingga berhak masuk ke babak final. Motion di babak final agak sensitif buat saya karena membahas tentang pro-kontra penerapan syariat Islam di sebuah negara. Raushan berada di affirmative team yang berperan sebagai pemerintah yang tidak setuju terhadap penerapan syariat Islam di sebuah negara.

Sebelum maju, saya sempat berbisik kepadanya,

Good Luck, Raushan!”

Thank you, Miss” balasnya.

Raushan tetap tampil dengan performa terbaik. Bahkan ada beberapa teman dari sekolah lain yang merekam speechnya. Raushan menjelaskan dengan sangat baik mengenai mengapa pemerintah perlu melarang penerapan syariat Islam dengan disertai contoh negara-negara Islam yang melakukan ‘penyimpangan’. Bahkan dia sempat mengakhiri penyampaian contoh-contoh itu dengan frasa yang menyindir,’ What a wonderful country!’.

Namun dalam hati saya agak miris juga. He, ini anak sekolah Islam kenapa bisa ngomong begini 🙂 Tapi ya sudah, karena seorang debaters harus ‘bermain’ sesuai dengan peran yang diperolehnya. Di perjalanan pulang nanti, saya berniat untuk menanyakan pendapatnya sebagai pribadi mengenai syariat Islam.

Di dalam hati, saya hanya bergumam sendiri..Ya, kalau syariat Islam diperdebatkan, pihak yang antisyariat, cepat atau lambat akan kalah deh. Sehebat apapun argumen untuk menentangnya, syariat Islam yang langsung diciptakan oleh Allah akan selalu tampak kesempurnaannya. Di situ uniknya Islam. Semakin ditentang, semakin dicaci, semakin tampak cahayaNya.

Saya langsung teringat ayat ini

Ash Shaff 8

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Bahkan, argumen Raushan langsung dicounter  oleh Hafizh dengan berapi-api. Hafizh adalah pembicara yang ada di negative team yang berperan sebagai rakyat yang mendukung penerapan syariat Islam. Uniknya, setelah debat selesai, mereka berdua langsung bersalaman dan Hafizh berkata kepada Raushan,” What a great debate!”

Singkat cerita (karena udah malem nih ), Raushan akhirnya mendapat peringkat kelima sehingga dia tidak berhasil meraih posisi tiga besar. Alhamdulillah, dia tidak merasa kecewa karena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran. Dan alhamdulillahnya lagi, dia hari ini pergi salat jumat tanpa perlu saya ingatkan. Di perjalanan pulang ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya, dia berpandangan cukup positif terhadap syariat Islam. Satu hal lagi yang juga menggembirakan, dia ternyata  suka membaca buku apa saja karena pengaruh dari ayahnya.

Sebelum sampai di sekolah, dia bertanya kepada saya, “Bu, hari ini  ngapain di jam terakhir?”

“Oh, cuma nonton pensi aja dari anak kelas X. Nggak belajar.”

“Ya udah deh, saya mau pulang aja…”

What a good boy ! Nah gitu, kalau udah nanggung jamnya, pulang aja ke rumah. Nggak usah ‘kerajinan’ deh 🙂

 

Nice to be with you in these 3 days, Uci*.

Stay hungry, stay foolish.

Never stop learning!

IMG_20160722_233825

 

*SMAUHT: Sekolah Menengah Atas Unggulan Husni Thamrin, sebuah sekolah negeri yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur

*Uci: panggilan Raushan di  keluarganya

 

Ayah, Dongengkan Aku November 6, 2012

Filed under: Puisi — ayunp @ 3:16 pm
Tags:

Ayah, dongengkan aku

Sebelum kuterlelap

Di atas pembaringan ini

 

Ayah, dongengkan aku

Sebelum kutenggelam

Di bawah tumpukan buku-buku

 

Ayah,dongengkan aku

Sebelum kutapaki

sisa-sisa masa kecilku