Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

 

Surat dari Mas Menteri untuk Para Pendidik Juli 28, 2016

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:38 pm
Tags: , , ,

surat dari mas menteri

 

Three Days with Raushan Juli 23, 2016

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 6:24 am
Tags: , , , , , ,

Selasa, 19 Juli 2016

Di H-1 menghadapi tahun ajaran baru, saya sempat galau. Di tengah kegalauan itu, ibu kepala sekolah menyuruh saya untuk melaksanakan sebuah tugas.  “Bu Ayu, besok tolong dampingi Raushan untuk lomba debat bahasa Inggris tingkat DKI ya di SMAUHT*. Berangkat jam 6 dari sekolah karena lombanya akan dimulai jam 07.30.”

Oke, berarti dari rumah saya harus berangkat jam 5.30 supaya tidak terlambat 🙂

“Tapi, Raushannya sudah tahu Bu kalau saya dampingi?” tanya saya.

“Oh, nanti biar guru bahasa Inggrisnya yang memberi tahu.”

Menjelang jam 7  malam, tiba-tiba telepon pintar saya berbunyi. Nomor depannya 0888 dan belum tersimpan di telepon saya. Saya kemudian mengangkatnya dan ada suara anak laki-laki di sana. Dan benar dugaan saya, itu Raushan yang menelepon. Dia mengonfirmasi apakah benar saya menjadi guru pendampingnya ketika lomba debat besok.

Rabu, 20 Juli 2016

Saya berangkat dari rumah jam 05.30 dan sampai di sekolah sekitar jam 05.50. Saya berusaha agar bisa tiba lebih awal sebelum Raushan sehingga dia tidak perlu menunggu. Setelah tiba di sekolah, saya memarkir motor saya, mentab kartu kehadiran, dan kemudian segera menghubungi Pak Ubang, supir sekolah yang akan mengantar ke SMAUHT. Menjelang jam 6, Raushan belum datang. Saya kemudian berinisiatif untuk meneleponnya. Ternyata, dia sudah hampir sampai di sekolah.

Sembari menunggu dia datang, saya bersama Pak Ubang segera naik ke mobil sekolah dan menunggunya di tempat parkir. Selang beberapa menit, Raushan datang juga. Dia ternyata diantar oleh ibunya. Saya kemudian keluar dari mobil dan bersalaman dengan ibunya.

“Ibu, untuk besok bagaimana?”tanya Ibunya Raushan

“Oh, Raushan masuk sekolah seperti biasa bu.”

“Bukannya lombanya 3 hari bu?”

“Oh, iya ya bu…” jawab saya sambil agak kebingungan

“Tolong titip anak saya ya… ”

Waduh, saya baru tahu kalau ternyata lombanya tiga hari, dari Rabu sampai Jumat. Ibu kepsek sepertinya lupa menyampaikannya kepada saya. Baiklah 🙂

Saya benar-benar melaksanakan anjuran Bapak Mendikbud di #HariPertamaSekolah untuk mengantar anak, tapi yang diantar adalah anak didik bukan anak kandung sendiri 🙂

Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, saya dan Raushan segera pamit. Setelah saya bersalaman, giliran Raushan yang mencium tangan ibunya. “Jangan lupa doanya ya, Nak!”pesan ibu kepada anak laki-lakinya itu.

Saya dan Raushan naik ke mobil sekolah. Di perjalanan, dia menjelaskan kepada saya kalau lomba pada hari ini diberitahukannya mendadak sekali, baru pada hari Selasa. Padahal, ini lombanya tingkat provinsi. Untungnya, saya masih ingat ketika dia mengikuti lomba debat di tingkat kota.

“Kamu dapat poin tertinggi kan waktu lomba di tingkat kota?”

“Iya, Bu.”

“Yang  dapat poin kedua perempuan kan?”

“Iya, dari (SMA) Tirta Marta. Yang ketiga laki-laki dari (SMA) 47.

Setelah sedikit membahas hasil lomba, saya memberitahukan kepadanya guru-guru yang akan mengajarnya di kelas XII.

“Wah, kamu beruntung nih tahu duluan dibandingkan teman-teman kamu!”

“Iya Bu, tenang aja saya nggak akan nyebarin kok.”

Sedikit cerita, Raushan itu murid yang saya ajar waktu kelas XI tahun ajaran lalu. Dia anak IPA, tetapi tetap antusias ketika belajar mata pelajaran IPS. Dia cukup aktif dan perhatian di pelajaran saya. Nilainya juga meningkat di semester kedua. Saya ingat, pernah di satu pertemuan yang membahas tentang organisasi internasional, dia memberitahukan kepada saya bahwa Inggris berencana keluar dari Uni Eropa. Kalau bukan dia yang memberi tahu, saya mungkin tidak akan mengupdate berita tersebut. Rencana itu benar-benar terjadi setelah  lebih banyak rakyat Inggris yang memilih opsi keluar dari Uni Eropa pada referendum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di kemudian hari, opsi terbanyak itu dikenal dengan istilah #Brexit.

Oke, kita kembali ke obrolan Raushan dengan saya.

“Bu, kata teman saya yang sudah di sana (SMAUHT), hari ini hanya technical meeting saja. Lombanya baru mulai besok.”

“Oh ya?”

“Iya Bu, nanti kita lihat aja di sana.”

Setelah mencari-cari keberadaan SMAUHT karena Pak Ubang sempat nyasar, akhirnya sampai juga di sana, sekitar jam 7.15. Dan ternyata benar, hari ini lomba debatnya belum dimulai.

Sebelum technical meeting ada acara pembukaan lomba oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan pembukaan ini sempat ngaret sampai jam 08.30. Ya, harap maklum karena penyelenggaranya dinas 🙂

Setelah acara pembukaan dan technical meeting selesai, Raushan berdiskusi dengan teman-temannya dari sekolah lain untuk mempersiapkan materi lomba debat esok hari. Saya memberinya waktu sampai jam 12 siang. Sembari menunggu, saya juga mengobrol dengan guru dari sekolah lain.

Saat sedang mengobrol, saya membuka aplikasi line saya dan mendapat pesan dari Raushan. Dia memberitahukan kepada saya kalau sedang mencari tempat foto kopi di luar SMAUHT. Saya mengizinkan dan tetap mengingatkannya untuk segera kembali ke sekolah setelah selesai foto kopi.

Jam 12 lebih sedikit, Raushan kembali bersama teman-temannya. Saya cukup terkejut karena ternyata dia mengizinkan teman-temannya untuk memperbanyak buku petunjuk lomba debat yang dia miliki. Anak yang baik. Dia tidak segan untuk berbagi kepada teman-temannya yang notabene adalah rivalnya dalam lomba.

Di perjalanan pulang, saya mengajaknya ngobrol kembali. Kalau diem-dieman, asli nggak enak banget. Saya lah yang sering membuka obrolan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, saya dan dia lebih banyak mengobrol tentang lomba debat bersama seorang ibu guru yang menumpang mobil sekolah. Beliau adalah panitia lomba debat tersebut. Sebuah keuntungan buat Raushan karena dia berdiskusi lebih jauh soal lomba yang akan dimulai keesokan harinya.

Setelah ibu guru itu turun, saya ngobrol dengannya lagi.

“Rumah kamu dimana?”

“Dekat kok Bu, di daerah Pondok Labu. Depan kompleks timah.”

“Oh, yang di deketnya lagi di bangun tol ya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu biasanya dijemput atau pulang sendiri.”

“Saya pulang sendiri. Naik angkot.”

Wuih, anti mainstream!  Karena anak-anak di sekolah saya biasanya diantar sama supirnya naik mobil.

“Hari ini jam terakhir ngapain Bu?”

“Masih belajar sih, tapi kalau kamu mau pulang nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa Bu, saya mau ikut belajar aja.”

Nanggung, Nak…bentar lagi juga pulang. Batin saya.

“Ya sudah, nanti ibu lihatin jadwalnya di ruang guru.”

Dasar anak suka belajar 🙂

Kamis, 21 Juli 2016

Hari ini, lomba dimulai. Seperti kemarin, Raushan diantar lagi oleh ibunya. Dia awalnya sempat bingung mencari saya dan Pak Ubang karena kami agak terlambat untuk menuju parkiran.

Selama di perjalanan, saya lebih banyak diam. Tidak terlalu banyak bicara. Raushan pun demikian.

Alhamdulillah, sampai di SMAUHT tidak terlambat walaupun jalannya agak jauh sedikit karena jalan yang dilewati kemarin ada yang ditutup. Sampai di sana, Raushan memilih untuk berada di luar tempat lomba dulu. Saat itu, saya mulai membuka obrolan dengannya.

“Gimana persiapannya? Udah buat prediksi sama teman-teman kan tentang motion debat yang akan keluar?

“Iya, udah Bu.”

“Berarti tinggal perkuat kontennya ya? lanjut saya.

“Kalau konten, nanti Bu tergantung motionnya apa yang dikasih.”

Di hari H lomba, saya tidak terlalu banyak bicara dengannya. Dia tampak asyik ngobrol dan bercengkrama dengan teman-temannya dari sekolah lain. Dia dan timnya tampil di babak kelima. Sembari menunggu, mereka menonton teman-teman lain yang berdebat di empat babak sebelumnya. Dia dan timnya baru tampil setelah istirahat makan siang.

Bahkan, saya mengingatkannya agar melaksanakan salat zuhur melalui line chat sajaKata-katanya saya benar-benar pilih agar tidak terkesan menyuruh. Tapi sayang, line chat nya hanya diread  dan sepertinya hatinya belum tergerak untuk menuju ke masjid sekolah

😦

Alhamdulillah,  dia tampil di babak kelima dengan sangat baik. Berperan sebagai pembicara kedua yang  berhasil melakukan satu kali interupsi dan juga menyampaikan reply speech. Setelah menunggu sepuluh menit, hasil babak pertama hingga babak kelima diumumkan oleh juri. Dan dia berhasil menempati peringkat ketujuh dari tiga puluh pembicara. Dengan demikian, dia termasuk 12 pembicara terbaik yang akan masuk ke babak selanjutnya. Hebat!

Di babak selanjutnya, dia juga tampil sangat baik. Kestabilan performanya terjaga. Ketika itu, saya merasa yakin dia akan masuk menjadi 6 pembicara terbaik. Bahkan, saya juga berharap dia bisa masuk menjadi 3 pembicara terbaik. Tetapi keyakinan dan harapan saya itu masih harus dibuktikan pada keesokan hari.

Di perjalanan pulang, saya juga lebih banyak diam. Namun dia sedikit berdiskusi tentang lomba debat yang  baru selesai jam 5 sore  tadi dengan ibu guru yang ikut menebeng lagi hari ini. Setelah ibu guru itu turun, saya memulai lagi pembicaraan dengannya.

How do you feel today?”

(senyum-senyum saja tidak menjawab)

“Oh iya, SDmu di Cikal ya?”

“Iya bu.”

“Kalo SMP?”

“Di Lazuardi.”

“Oh, yang di Jalan Margasatwa itu ya?”

“Iya bu.”

“Kan kamu pernah di New York. Terus bagaimana sekolahnya?”

Ketika saya bertanya itu, dia bercerita agak panjang. Saya agak lupa detailnya. Tapi yang jelas ternyata dia lahir di Belanda, kemudian sempat berpindah ke Swiss dan New York. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia sampai sekarang. Ya, risiko anak diplomat…

“Tapi nanti kuliah di Indonesia kan?”

“Iya bu, saya kan mau nyebrang ke (fakultas) hukum. Kalau S-1 di luar mana bisa…Beberapa bulan lagi ayah, ibu, dan adik saya mau pindah ke New York karena ditempatkan di KJRI sana. Tapi saya nggak ikut karena mau kuliah di sini.”

“Ok, kalau S-2 ya baru kamu di luar negeri ya…”

“Iya Bu…”

Saya juga sempat menyinggung sedikit tentang lomba debat.

“Kalau kamu masuk 3 besar, nanti finalnya di Palu.”

“Palu? Itu dimana?”

“Di Sulawesi Tengah.”

“Semoga bisa masuk tiga besar ya Bu.”

“Iya, ibu selalu berdoa kok supaya kamu bisa.”

Ketika maghrib tiba, kamipun sampai di sekolah.

Sebelum turun dari mobil, Raushan sempat memastikan lagi kepada saya.

“Besok kita berangkat jam 6.30 kan?”Sama ibu lagi kan ke sananya?”

“Iya Nak…”

Jumat, 22 Juli 2016

Raushan tiba lebih dulu dari saya. Dia tampak menunggu sambil berdiri di dekat parkiran motor. Saya melihatnya lebih dulu dan langsung saya panggil. Akhirnya dia menghampiri saya menuju parkiran motor.

“Maaf, Ibu baru sampai.”

“Nggak apa Bu. Kalau berangkatnya jam 6 saya malah nggak ada yang ngantar.”

Dia akhirnya menuju mobil sekolah setelah bersalaman dengan beberapa guru yang ditemuinya.

Di perjalanan berangkat,  saya juga lebih banyak diam. Saya hanya bertanya satu pertanyaan.

“Kemarin kamu sampai rumah jam berapa?”

“Jam 6.30, Bu. Macet.”

Pak Ubang juga menimpali.

“Saya baru sampai rumah jam 8.00.Macet banget di Depok!”

Ketika sampai di SMAUHT, Raushan agak gelisah. Dia tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir saja. Sepertinya, dia agak nervous sebelum mendengar pengumuman 6 pembicara terbaik yang akan maju ke babak final. Ada temannya yang mengingatkan supaya dia jangan terlalu nervous.

Akhirnya doa saya terkabul. Raushan berhasil masuk menjadi enam pembicara terbaik sehingga berhak masuk ke babak final. Motion di babak final agak sensitif buat saya karena membahas tentang pro-kontra penerapan syariat Islam di sebuah negara. Raushan berada di affirmative team yang berperan sebagai pemerintah yang tidak setuju terhadap penerapan syariat Islam di sebuah negara.

Sebelum maju, saya sempat berbisik kepadanya,

Good Luck, Raushan!”

Thank you, Miss” balasnya.

Raushan tetap tampil dengan performa terbaik. Bahkan ada beberapa teman dari sekolah lain yang merekam speechnya. Raushan menjelaskan dengan sangat baik mengenai mengapa pemerintah perlu melarang penerapan syariat Islam dengan disertai contoh negara-negara Islam yang melakukan ‘penyimpangan’. Bahkan dia sempat mengakhiri penyampaian contoh-contoh itu dengan frasa yang menyindir,’ What a wonderful country!’.

Namun dalam hati saya agak miris juga. He, ini anak sekolah Islam kenapa bisa ngomong begini 🙂 Tapi ya sudah, karena seorang debaters harus ‘bermain’ sesuai dengan peran yang diperolehnya. Di perjalanan pulang nanti, saya berniat untuk menanyakan pendapatnya sebagai pribadi mengenai syariat Islam.

Di dalam hati, saya hanya bergumam sendiri..Ya, kalau syariat Islam diperdebatkan, pihak yang antisyariat, cepat atau lambat akan kalah deh. Sehebat apapun argumen untuk menentangnya, syariat Islam yang langsung diciptakan oleh Allah akan selalu tampak kesempurnaannya. Di situ uniknya Islam. Semakin ditentang, semakin dicaci, semakin tampak cahayaNya.

Saya langsung teringat ayat ini

Ash Shaff 8

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Bahkan, argumen Raushan langsung dicounter  oleh Hafizh dengan berapi-api. Hafizh adalah pembicara yang ada di negative team yang berperan sebagai rakyat yang mendukung penerapan syariat Islam. Uniknya, setelah debat selesai, mereka berdua langsung bersalaman dan Hafizh berkata kepada Raushan,” What a great debate!”

Singkat cerita (karena udah malem nih ), Raushan akhirnya mendapat peringkat kelima sehingga dia tidak berhasil meraih posisi tiga besar. Alhamdulillah, dia tidak merasa kecewa karena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran. Dan alhamdulillahnya lagi, dia hari ini pergi salat jumat tanpa perlu saya ingatkan. Di perjalanan pulang ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya, dia berpandangan cukup positif terhadap syariat Islam. Satu hal lagi yang juga menggembirakan, dia ternyata  suka membaca buku apa saja karena pengaruh dari ayahnya.

Sebelum sampai di sekolah, dia bertanya kepada saya, “Bu, hari ini  ngapain di jam terakhir?”

“Oh, cuma nonton pensi aja dari anak kelas X. Nggak belajar.”

“Ya udah deh, saya mau pulang aja…”

What a good boy ! Nah gitu, kalau udah nanggung jamnya, pulang aja ke rumah. Nggak usah ‘kerajinan’ deh 🙂

 

Nice to be with you in these 3 days, Uci*.

Stay hungry, stay foolish.

Never stop learning!

IMG_20160722_233825

 

*SMAUHT: Sekolah Menengah Atas Unggulan Husni Thamrin, sebuah sekolah negeri yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur

*Uci: panggilan Raushan di  keluarganya

 

Indahnya Lingkaran Itu… April 20, 2015

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:01 pm
Tags: , , ,

Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat di atas, para ghuraba (orang-orang terasing) masa kini mewujudkan sabada Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang shalat malam dan puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya.

Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah dakwahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizki membawakan pisang goreng yang tadi pagi dibuat ibunya atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.

Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan mabit (menginap) agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka rihlah (berwisata). Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahi dan mengagumi ciptaanNya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan, atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang jauh lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan.
“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR.Muslim, dari Abu Hurairah)

Di sana kita bisa jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah…ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Maka tepatlah jika forum seperti ini disebut sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.

Bahkan ketika suatu waktu anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di masjid kampus atau masjid kampung, mushola sekolah atau rumah seorang ustadz , lalu anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin kerena iseng saja, Insya Allah anda tidakkan kecewa.
“… Seorang malaikat berkata, “Rabbi di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan majelis itu. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk mem-bersamainya!” (Potongan hadits Mutaffaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah, lihat Riyadhush Shalihin Bab Keutamaan Lingkaran Majelis Dikir)

Maka demi Allah, apa yang anda tunggu? Perkenalkan diri anda pada mereka sejelas-jelasnya. Katakan, anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu Insya Allah akan mencarikan majelis lain yang indah untuk anda. Kalau di kampus anda ada kegiatan bernama Mentoring maka bergabunglah. Setelah itu, bisa jadi Allah akan menguji anda, mungkin dengan perasaan bawah majelis ini tidak seperti yang anda harapkan, maka bersabarlah…

Mungkin kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.
Source:Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah

 

Catatan 22 Oktober: Dari Riuh Sampai Lagu Tik-Tik Bunyi Hujan Oktober 23, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 2:27 am
Tags: ,

Pada 22 Oktober ini, aku kembali mengajar  di kelas 6 SD yang begitu riuh. Anak-anaknya suka sekali berbicara, sampai-sampai aku harus sering berteriak untuk mendiamkan mereka. Ada juga anak yang bercanda dan bermain-main. Aku sempat merasa kesal juga.

Hari ini aku mengajar Bahasa Inggris. Sekali lagi, kesabaranku diuji. Pelajaran yang sebelumnya sudah pernah kusampaikan ternyata telah sedikit dilupakan oleh mereka.

Setelah aku menerangkan kembali materi yang pernah kusampaikan dulu, kemudian aku menyuruh mereka mengerjakan soal latihan. Suasana kelas ramai dengan pertanyaan sehingga membuat aku sibuk untuk menjawabnya.

“Kak, I’d rather apa artinya?”

Pears itu apa kak?”

Librarian itu apa kak?”

Bahkan arti her dan his juga ditanya.

“Adik-adik,kataku,”kalau ketemu her atau his itu diartikan -nya!”

Setelah sedikit ‘rusuh’, akhirnya latihan selesai dikerjakan. Sebelum mereka pulang, saya mengajarkan mereka sebuah lagu.

Tik-tik bunyi hujan disebut rainy

Langitnya cerah namanya sunny

Kalau berawan namanya cloudy

Berkabut foggy bersalju snowy

Mereka senang diajarkan lagu itu.”Kak, nanti aku mau nyanyi lagu itu di sekolah! teriak seorang murid kepadaku.

Aku juga merasa senang karena mereka bisa menyanyikan lagi lagu anak-anak. Pasalnya,  kebanyakan lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu dewasa bernada cinta ‘picisan’

Dan…aku akhirnya menemukan sebuah strategi! Kalau mengajar mereka, aku harus menggunakan media lagu. ^0^

Catatan:

Terima kasih untuk pengajar muda yang sudah posting lagu tik-tik hujan untuk media pembelajaran Bahasa Inggris di belajar.indonesiamengajar.org.

 

Hidup Damdas 16 Batu! Oktober 16, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 4:25 pm
Tags: , ,

Damdas 16 Batu a la Ayu

Senin sore kemarin, Farhan, muridku yang masih duduk di kelas 4 SD, mengajakku untuk belajar Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ). Ternyata, dia akan menempuh ulangan tengah semester besok dan pelajaran itu yang akan diuji. Jadilah dia ‘mendaulatku’ agar berperan sebagai pengetes hasil belajarnya siang tadi. “Ayo Kak, tanyain aku tentang PLBJnya, bahan (ulangannya) cuma bab 2 dan bab 3, bab 1-nya nggak,” rajuknya kepadaku.

Tanya jawab pada materi bab 2 berlangsung lancar karena pokok bahasannya cukup mudah, mengenai alat-alat komunikasi. Dia menjawab pertanyaanku dengan baik. Alat-alat komunikasi tradisional, pemanfaatan alat komunikasi, dan cara merawat alat komunikasi, sudah dihafalnya ‘di dalam kepala’. Kalau begitu, aku pantas mengatakan ‘WOW’ kepadanya.. ^^

Nah, ‘masalah’ akhirnya datang pada tanya jawab materi bab 3. Ternyata oh ternyata, materi pada bab itu adalah tentang permainan tradisional Betawi! Ketika aku bertanya padanya ,”Farhan, sudah pernah main ini?” Dia menggeleng tanda tak pernah. Apa pula permainan ini, namanya sungguh aneh, “DAMDAS 16 BATU”. Baru sekarang aku mengetahui ternyata ada permainan macam itu!

Dengan setengah malas, aku bertanya saja padanya,”Apa nilai dari permainan ini.” Dia juga menjawabnya dengan nada yang enggan, “Membantu konsentrasi dalam belajar, melatih kejujuran…”

Dia kemudian merajukku lagi,”Kak, kita coba aja yuk permainannya!” Mendengar itu, aku tambah tak bersemangat lagi. “Aduh Nak, beberapa menit lagi jam mengajarku tiba, aku belum sempat rehat barang sebentar”, gumamku dalam hati.

Dia tiba-tiba meninggalkanku keluar. Untuk apa? Ya, dia ternyata benar-benar mencari batu untuk main damdas itu! Baiklah, aku menjadi semangat kembali. Dengan sigap, kuambil kertas koran yang ada di dekatku, lalu kutiru bidang permainan damdas yang ada di buku. Yap, akhirnya jadi juga. Walaupun garisnya mencong-mencong tak karuan, yang penting sudah miriplah!

Dan…Dia kembali dengan membawa batu-batu kecil. Lalu kususun batu-batu itu di bidang damdas tadi. “Wah, ternyata batunya kurang, Farhan!” Dia kemudian berlari keluar dengan cepat dan membawa batu tambahan.

Permainan damdas akhirnya dimulai. Kita berdua suit untuk menentukan siapa yang maju terlebih dulu. Tiba gilirannya maju. Lalu giliranku. Nah, tiba-tiba di tengah permainan aku berpikir,”Bagaimana ini, batuku dan batunya selintas sama. Harus dibedakan!” Akhirnya aku ambil spidol biru untuk mewarnai batunya agar berbeda dengan batuku.

Permainan dimulai kembali. Perlahan, aku baru mengerti cara memainkannya. Mirip seperti bermain halma atau catur jawa. Ternyata asyik juga ya!

Aku akui, Farhan lebih pandai dariku. Dia berhasil memenangkan dua dari dua ronde yang kita mainkan bersama…

Hidup Damdas 16 Batu!

 

Cerita Sekolahku

Filed under: Hikmah — ayunp @ 2:17 pm
Tags: , ,

1.  Apa sih yang kamu dapatkan dari sekolah selama ini ?

Alhamdulillah, saya termasuk anak yang beruntung karena bisa menempuh pendidikan sampai jenjang S-3. Upss, jangan takjub dulu. Maksudnya S-3 itu, ya SD, SMP, dan SMA. Hehe.. Selama 12 tahun bersekolah, banyak sekali hal yang sudah saya dapatkan. Kalau mau dihitung banyak dapat suka atau dukanya, dijamin yang lebih banyak itu sukanya. Kalau dukanya, palingan kalau PRnya banyak, dihukum guru, nilai ulangannya jelek, kalau ada ulangan dadakan, dapat guru yang gak enak,dapat temen yang ngeselin, dan lain-lain (loh,gimana sih kok jadi banyak gini? *nyengir). Tenang saudara-saudariku, pada kesempatan ini saya akan lebih banyak sharing mengenai hal-hal yang menyenangkan yang saya dapatkan selama bersekolah. Mau tahu? Nih dia…

A. Pengetahuan

Selama duduk di bangku SD,SMP sampai SMA, sudah banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan. Coba deh lihat mata pelajaran yang sudah saya pelajari selama 12 tahun bersekolah: agama Islam,matematika,IPA (fisika,kimia,biologi),IPS (sejarah,geografi,ekonomi,sosiologi),bahasa indonesia,bahasa inggris,bahasa jerman, bahasa perancis,kesenian,kewarganegaraan,pendidikan jasmani dan kesehatan,pendidikan lingkungan dan kehidupan jakarta. Banyak banget ya teman! Nah, dari setiap mata pelajaran itu, saya telah mendapatkan berbagai macam pengetahuan yang amat berguna bagi perjalanan kehidupan saya. Saya merasakan, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan yang dimilikinya akan semakin berkembang. Saat masih di SD, pengetahuan yang dikuasai masih 30 %, kemudian di SMP meningkat menjadi 50%. Di SMA, bisa saja meningkat lagi menjadi 70%. Mau pengetahuan berkembang menjadi 100% bahkan lebih? Lanjutkan kuliah sampai mendapatkan gelar S-3 yang sebenarnya. Bahkan kalau bisa, sekalian jadi profesor!

B. Teman dan Sahabat

Seorang bijak pernah berkata,”Berteman itu dengan siapa saja, Bersahabat itu dengan orang-orang pilihan.” Selama bersekolah, saya mendapatkan teman dan sahabat sekaligus. Dari SD hingga SMA, saya bersekolah di sekolah negeri sehingga saya dapat dengan mudah berteman dengan siapa saja. Mulai dari berteman dengan yang kaya hingga berteman dengan yang tidak mampu. Mulai dari berteman dengan yang pandai hingga berteman dengan yang prestasinya biasa-biasa saja. Mulai dari berteman dengan yang ‘gaul’ sampai yang ‘kuper’ dan ‘autis’. Dari teman-teman saya itu, saya belajar untuk memahami karakter orang lain dan bersikap lapang dada. Untuk sahabat, saya mulai mendapatkannya di SMP dan SMA, yaitu ketika saya bergabung dalam organisasi Rohani Islam. Sampai sekarang, saya masih menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat saya selama di SMP dan SMA. Dengan mereka, saya bisa berbagi suka dan duka serta sedih dan gembira. Dengan perantaraan sekolah di SMP dan SMA, Allah telah memberikan kepada saya sahabat-sahabat yang terbaik.

C. Hidayah

Masa-masa sekolah, terutama masa SMP dan SMA, adalah masa yang berharga dalam hidup saya. Pada kedua masa sekolah itu, Allah berkenan memberikan hidayahNya kepada saya. Di kelas 1 SMP, saya yang mulanya ‘anak basket’ akhirnya masuk ROHIS (Rohani Islam) juga. Awalnya saya sempat memandang remeh walaupun di dalam hati, “Ah, buat apa masuk ROHIS, kan bisa kok belajar Islam sendiri.” Namun akhirnya Allah memilih saya untuk masuk ROHIS. Di kelas 3 SMP dan pada bulan Ramadhan, Allah mengizinkan saya untuk istiqomah menutup aurat hingga saat ini. Sebenarnya saya bisa saja menunda keputusan saya untuk menutup aurat hingga masuk SMA. Namun saya menyadari kalau saya tak tahu pasti kapan ajal menjemput. Bisa saja kan, saya ‘dipanggil’ sebelum masuk SMA? Hidayah itu semakin Allah kokohkan ketika di kelas 2 SMA saya diamanahkan untuk menjadi pengurus ROHIS. Saya sempat agak ‘membandel’ di kelas 1 SMA namun akhirnya Allah menjaga saya dengan amanah itu. Saya amat bersyukur bisa bersekolah sehingga saya bisa menjemput hidayahNya itu…

D. Pengalaman Organisasi

Sejujurnya,selama sekolah di SD dan SMP saya cukup aktif dalam organisasi. Mau tahu apa nama organisasinya? Tentu saja, ‘organisasi’ kelas (hehe). Kan memang di kelas, guru-guru kita sebenarnya udah ngajarin buat berorganisasi loh. Makanya kan ada ketua kelas, bendahara kelas, sekretaris kelas. Nah, saya beberapa kali ditunjuk jadi bendahara kelas dan sekretaris kelas. Sayangnya seumur-umur gak pernah sekalipun jadi ketua kelas (Kasian deh saya T__T ). Pas SMA, saya akhirnya ‘terjun’ di organisasi ‘beneran’ yang namanya ROHIS. Pertama masuk ROHIS, saya memilih jadi staf pembinaan. Terus pas saya kelas XI, saya terpilih jadi pengurus utama dan menjabat sebagai sekretaris. Saya merasa amat beruntung karena bisa mendapatkan pengalaman berorganisasi selama bersekolah. Dari situ, saya bisa belajar bagaimana mengatur waktu, berhubungan dengan orang lain, dan tentu saja LEADERSHIP. Keahlian saya di bidang lain juga jadi bertambah. Nah, sayang banget deh kalau teman-teman cuma sekolah aja tapi gak sama sekali berorganisasi. Sekolah itu ibarat makanan dan organisasi adalah bumbu penyedapnya. Setuju?

2. Ceritakan guru yang paling berkesan dalam hidup kamu Kalau ditanya siapa guru yang paling berkesan, saya gak bisa jawab hanya satu guru. Kenapa? Karena ada empat orang guru yang berkesan buat saya.

A. Bu Ros

Beliau adalah guru wali kelas saya waktu kelas 1 SD. Beliaulah guru yang berjasa mengajarkan saya membaca. Sewaktu masuk SD, saya sama sekali tidak bisa membaca sehingga hal ini sangat menyulitkan saya untuk menyerap pelajaran. Saya masih ingat, Bu Ros hanya menuliskan angka 6 dan 7 di rapor pertama saya. Namun hebatnya beliau tidak menuliskan angka ‘merah’ sama sekali. Sepertinya beliau tidak ingin motivasi belajar saya turun ya. Seingat saya, beliau juga menuliskan kata-kata motivasi di rapor pertama saya itu. Beliau dengan sabar membimbing saya agar bisa membaca. Walaupun saya sering menangis ketika belajar karena takut tidak bisa, beliau terus menyemangati saya. Berkat jasa beliau, saya bisa naik ke kelas 2 hingga akhirnya bisa lulus SD, lulus SMP, lulus SMA hingga lulus menjadi sarjana. Ya, beliau adalah peletak fondasi pertama dalam perjalanan pendidikan saya. Jika Allah mengizinkan saya meraih gelar Magister dan Doktor, maka saya tak boleh sekalipun melupakan jasa beliau…

B. Pak Ismu

Beliau adalah guru bahasa Inggris saya di SMP. Berkat pengajaran beliau, saya akhirnya bisa memahami bahasa Inggris dengan baik hingga saat ini. Ketika SD, kemampuan bahasa Inggris saya amatlah kurang. Namun ketika SMP dan diajar oleh beliau, kemampuan bahasa Inggris saya menjadi bertambah. Ketika pertama kali mengajar di kelas, beliau tidak langsung mengajarkan bahasa Inggris. Malah beliau mengajak saya dan teman-teman sekelas untuk main tebak-tebakan. Suasana belajar yang menyenangkan itu dibangun sejak awal dan kemudian berlanjut seterusnya.

C. Bu Ibra

Bu Ibra adalah guru agama Islam saya di SMA. Alhamdulillah, selama 3 tahun bersekolah, saya selalu diajar oleh beliau. Ketika kelas XI, beliau menjadi wali kelas saya. Waktu itu beliau menjadi wali kelas XI IPS 1. Teman-teman pasti memahami, kalau anak-anak IPS adalah anak-anak ‘istimewa’ (maksudnya istimewa bandelnya..hehe). Dengan sabar, Bu Ibra mendidik saya dan teman-teman. Bahkan yang membuat saya dan teman-teman sekelas takjub, ternyata beliau mendoakan kami semua secara berurutan sesuai abjad dalam setiap shalat malamnya! Subhanallah.. Beliau juga sangat rajin datang ke kelas, lebih rajin daripada wali kelas lain. Beliau cukup sering membawakan kami makanan.Ya,beliau sungguh sangat perhatian pada kami semua.. Beliau adalah guru yang istimewa karena bisa menghafal semua nama murid-murid yang diajarnya. Bahkan dia masih ingat nama kakak saya yang pernah menjadi muridnya dua puluh tahun yang lalu! Luar biasa… Satu hal yang tak akan saya lupa dari Bu Ibra adalah saat beliau berta’ziah ke rumah saya ketika Bapak saya meninggal pada bulan Juli 2008. Saya sangat gembira ketika itu karena guru yang paling saya cintai ini bisa datang menghibur… Luv u always Bu Ibra ^^

D. Pak Wisnu

Sebenarnya beliau adalah guru ‘kedua’ saya. Beliau adalah guru IPS pada sebuah bimbingan belajar yang saya ikuti. Saya pertama kali diajari oleh beliau sewaktu kelas 3 SMP. Ketika itu, saya langsung ‘jatuh hati’ dengan gaya mengajar beliau yang mudah dimengerti serta sering diiringi dengan cerita dan humor. Berkat Pak Wisnu, saya semakin termotivasi untuk mengambil jurusan IPS di SMA. Karena dari beliaulah, saya menganggap IPS adalah bidang studi yang menyenangkan.

3. Bagaimana kamu di kelas ? pola belajar seperti apa yang kamu terapkan ?

Di kelas, saya sebenarnya termasuk anak yang cukup pendiam. Namun saya tetap berusaha untuk aktif, misalnya dengan menjawab pertanyaan guru. Selain itu, saya sangat menghindari untuk ngobrol saat guru sedang menerangkan pelajaran. Ketika guru menerangkan, saya lebih senang untuk mendengarkan dan mencatat. Untuk posisi duduk, saya lebih sering duduk di depan daripada di belakang. Saya juga cukup rajin untuk membawa semua buku pelajaran secara lengkap. Intinya, saya berusaha menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum belajar di kelas. Untuk pola belajar, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Tetapi saya berprinsip untuk tidak menyontek ketika mengerjakan PR dan fokus untuk menyiapkan ulangan harian maupun ulangan semester. Saya sebenarnya terbilang jarang untuk mengulang pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah bagi saya karena ketika diajarkan di kelas, saya sudah menyimak dengan cukup baik.

4. Pengalaman sekolah yang paling menyenangkan ?

Selama sekolah dari SD sampai SMA saya mempunyai berbagai pengalaman yang menyenangkan. Ayo,teman-teman mau tahu nggak? Nih dia..

A. Waktu SD kelas 6, saya pernah bergabung dalam tim cerdas cermat lomba keterampilan agama Islam bersama dua orang teman perempuan saya. Mungkin karena saya dan teman saya itu pintar (hehe, mungkin loh ya), guru agama Islam di SD akhirnya memilih kami untuk mewakili sekolah di lomba itu. Waktu itu saya dan teman-teman berlomba di tingkat kecamatan. Dan Alhamdulillah bisa dapat juara 1 setelah menyisihkan puluhan sekolah! Bahkan ada satu hal lagi yang membuat saya dan teman-teman bangga. Saya dan teman-teman yang notabene berasal dari SD Negeri berhasil mengalahkan sebuah SD Islam yang cukup terkenal di babak final. Padahal sebelumnya SD itu yang selalu juara. Namun di tingkat kota, saya dan teman-teman harus puas dengan predikat juara dua.

B. Waktu kelas 2 SMP, saya pernah diajak oleh guru biologi untuk nonton langsung acara kuis ‘Galileo’ di studio. Masih inget gak sama kuis ‘Galileo’? Itu loh, acara kuis yang pertanyaannya seputar sains gitu. Saya terpilih menjadi salah satu suporter dalam acara kuis tersebut karena ada kakak kelas saya yang menjadi peserta dalam kuis itu. Saya sangat senang karena itu menjadi pengalaman pertama saya menonton langsung acara di studio.

C. Waktu Kelas XII, saya sangat senang ketika mengetahui saya diterima di FHUI melalui jalur PPKB. Saya sama sekali tidak menyangka karena prestasi saya boleh dibilang biasa-biasa saja. Saya sangat bersyukur kepada Allah atas anugerah ini 🙂

*Sebagaimana dituliskan atas permintaan @udayusuf untuk narasumber bukunya yang berjudul “Bukan Kacamata Kuda”