Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

 

Indahnya Lingkaran Itu… April 20, 2015

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:01 pm
Tags: , , ,

Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat di atas, para ghuraba (orang-orang terasing) masa kini mewujudkan sabada Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang shalat malam dan puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya.

Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah dakwahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizki membawakan pisang goreng yang tadi pagi dibuat ibunya atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.

Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan mabit (menginap) agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka rihlah (berwisata). Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahi dan mengagumi ciptaanNya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan, atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang jauh lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan.
“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR.Muslim, dari Abu Hurairah)

Di sana kita bisa jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah…ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Maka tepatlah jika forum seperti ini disebut sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.

Bahkan ketika suatu waktu anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di masjid kampus atau masjid kampung, mushola sekolah atau rumah seorang ustadz , lalu anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin kerena iseng saja, Insya Allah anda tidakkan kecewa.
“… Seorang malaikat berkata, “Rabbi di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan majelis itu. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk mem-bersamainya!” (Potongan hadits Mutaffaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah, lihat Riyadhush Shalihin Bab Keutamaan Lingkaran Majelis Dikir)

Maka demi Allah, apa yang anda tunggu? Perkenalkan diri anda pada mereka sejelas-jelasnya. Katakan, anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu Insya Allah akan mencarikan majelis lain yang indah untuk anda. Kalau di kampus anda ada kegiatan bernama Mentoring maka bergabunglah. Setelah itu, bisa jadi Allah akan menguji anda, mungkin dengan perasaan bawah majelis ini tidak seperti yang anda harapkan, maka bersabarlah…

Mungkin kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.
Source:Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah

 

Bukan… Desember 25, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 2:55 pm
Tags: ,

Bukan dijebak

tapi dikenalkan perlahan

pada medan yang lebih luas

pada amal yang lebih beragam

Bukan ditipu

tapi dikenalkan bertahap

agar mengerti

agar tidak kaget

Bukan dikendalikan

tapi diarahkan

agar mengerti

harus jalan ke mana

harus bagaimana melangkah

Bukan dikekang

tapi ditunjukkan

mana yang benar

mana yang salah

Bukan diasingkan

tapi dikondisikan

sebelum dikeluarkan

di segala medan perjuangan

 

Selamat Menempuh Amanah, ROHIS 34 2016… November 4, 2014

Filed under: cerita da'wah sekolah — ayunp @ 3:19 pm
Tags: ,

IMG_8155559869195

Waktu terus berjalan. Kini tiba saatnya tongkat estafet kebaikan itu beralih. Dan akhirnya Allah takdirkan, ROHIS 34 2016 yang menerimanya…

Langkah-langkah ke depan tentunya lebih berat. Namun yakinlah bahwa semua bisa dijalani dengan pertolongan Allah. Teruslah berusaha, berdoa, dan bertawakkal kepadaNya, agar Islam bisa tegak di sekolah kita tercinta, SMAN 34.

Untuk memulai langkah-langkah itu, mulailah dari perencanaan yang matang. Setelah itu, berusaha mewujudkan perencanaan tersebut ke amal nyata. Selama mewujudkan amal tersebut, jangan segan untuk saling mengingatkan dalam bingkai kebenaran dan kesabaran. Setelah amal tersebut selesai dilakukan, periksalah kembali. Apakah amal tersebut sudah sesuai dengan yang direncanakan, apakah amal tersebut telah berlangsung secara efektif, dan seterusnya…

Lebih lanjut, teruslah berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Berusaha untuk menjaga target dan kualitas ibadah harian, terutama salat dan tilawah Alquran. Berusaha untuk menjaga kehadiran dalam halaqoh setiap pekannya sebagai sarana penguat ruhiyah dan ukhuwah. Berusaha untuk mengenal, memahami, dan menolong satu sama lain. Berusaha untuk sabar, lapang dada, dan berprasangka baik pada saudara-saudarinya…

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membantu dan menguatkan adik-adik ROHIS 34 2016. Teruslah bersemangat karena kalian sudah berada di jalan yang benar, insya Allah. Jalan Allah memang berliku, tapi ia tak akan pernah keliru…

Lillah..Fillah..Billah

Sepenuh cinta,

@ayu_np
Rohis 34 2007

 

Terima Kasih ROHIS 34 2015 :)

Filed under: cerita da'wah sekolah — ayunp @ 2:18 pm
Tags: , ,

‘Main’ sama anak-anak ROHIS lagi? Kenapa nggak? Itu yang terjadi di bulan Juli 2012, tepatnya di bulan Ramadhan. Pertama kali bertemu sama ade-ade yang tanpa ragu memberikan pilihan ‘ikut ROHIS’ di formulir yang harus diisi sama murid baru 34. Daaan saat itu pula jadilah mereka bagian dari ‘ROHIS 34 2015’. Hmm, kalau saya angkatan 2007, berarti jarak umur antara saya dan mereka lumayan jauh juga, 8 tahun! Tapi lanjuut aja dah…Bismillah bisa!

Dan akhirnya bener kok, bisa! Menjadi bagian dari mereka bukan hanya terbatas pada pertemuan pekanan setiap Jumat yang disebut #Melingkar. Tapi lebih dari itu… Saya harus ikut serta dalam setiap agenda yang mereka lakukan. Dan salah satu agenda yang harus saya ikuti adalah pemilihan ketua ROHIS 34 dan Kaputnya…

IMG_20140405_154516

Singkat cerita, akhirnya terpilihlah Ketua ROHIS 34 dan Kaput yang baru di bulan Oktober 2013 setelah melalui proses yang lumayan panjang. Dan setelah itu, terbentuklah BPH dan staf-stafnya. Wuih, senang melihat ade-ade yang awalnya masih ‘lucu-lucu’ itu berkembang, belajar menjadi pemimpin. Bukan pemimpin biasa, tapi pemimpin untuk menegakkan Islam di 34! Bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Bersyukur bisa menjadi bagian dari ROHIS 34 2015!

Bersama ROHIS 34 2015 memang banyak dinamika. Saya sudah ‘kenyang’ dicurhatin. Hehe… Namun demikian, saya melihat banyak kekuatan di sana. Ikhwan dan akhwat yang kompak namun berusaha tetap menjaga adab dalam berinteraksi. Ada usaha untuk berinovasi dalam membuat program, misalnya aplikasi android timeschedule ROHIS, training wirausaha, lomba desain poster untuk publikasi Tafakur Alam, menghidupkan kembali nasyid, daan sepertinya masih banyak lagi (maaf gak hafal^^). Ada juga semangat untuk mengisi ruhiyah dalam #Melingkar setiap pekannya…

Selain itu, beberapa hal ‘spesial’ yang saya dapatkan terkait kebersamaan saya dengan ROHIS 34 2015. Pertama, terkait passion saya dalam Dakwah Sekolah. Saya sudah lebih dari tiga tahun bantu-bantu di 34, tapi baru merasa mendapat passion itu di tahun 2012 sampai sekarang. Dan passion itu saya dapatkan bersama ROHIS 34 2015! Kedua, sadar akan kesalahan yang lalu. Saya menyadari kalau di tahun-tahun yang lalu ada kesalahan yang saya lakukan, yaitu tidak berusaha disiplin untuk meluangkan waktu berkontribusi maksimal di 34. Dan Allah memberikan saya kesempatan untuk memperbaikinya bersama ROHIS 34 2015. Allahu Akbar!

IMG_6425420153022

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk ROHIS 34 2015. Semoga Allah menerima semua amal kebaikan kalian dan memaafkan serta memperbaiki hal-hal yang masih kurang. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk tetap berkontribusi walau sudah ‘lulus’ jadi BPH dan staf di periode ini. Kembali lagi untuk membantu adik-adiknya menegakkan Islam di 34. Dan satu hal, tetap istiqomah #Melingkar setiap pekan, jangan putus seumur hidup…Semoga kebersamaan kita abadi hingga di surgaNya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin…

Lillah… Fillah… Billah…
Sepenuh cinta,
@ayu_np
ROHIS 34 2007

 

Cerita Itikaf 1435 H: 13 Jam di Masjid Ukhuwah Islamiyah Juli 27, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 4:01 am
Tags: , , , ,
Foto: Abiyyah

Photo by: Abiyyah

Satu kata yang patut diucapkan: Alhamdulillah. Kenapa? Karena adik-adik ini begitu bersemangat untuk menunaikan sunnah Rasul yang mulai ditinggalkan di akhir bulan Ramadhan. Apa sunnah Rasul itu? Tentu saja Itikaf.

Itu semangat bagi yang bisa hadir. Bagaimana yang tidak bisa? Mereka juga bersemangat dengan menunjukkan ‘kesedihannya’ karena tidak bisa hadir akibat datangnya tamu bulanan. Sampai-sampai mereka harus dihibur begini, “Insya Allah udah dicatet pahalanya.Kan udah niat mau ikut itikaf…”

Qadarulloh, itikaf itu berlangsung juga di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Depok pada 24-25 Ramadhan 1435 H. Waktunya cukup singkat, sekitar 13 jam, tapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Ada silaturahim dengan saudari yang awalnya hanya bertemu lewat dunia maya. Ada juga ‘kopdar’ dengan adik kelas yang sudah lama tak bertatap muka. Ifthar bersama di tengah hujan lebat. Salat tarawih dan salat tahajjud yang singkat dengan imam yang fasih melantukan juz-juz akhir Alquran. Berjaga sampai larut untuk menyelesaikan lembar demi lembar tilawah, sampai-sampai ada yang tertidur dengan tangan masih menggenggam erat  mushafnya. Sahur lebih awal dengan menu sederhana. Salat subuh ditemani Surat AlMulk. Dan kajian subuh yang temanya ‘anti mainstream’, tentang kondisi Gaza, penjara terbesar di dunia. Sampai-sampai, penyampai kajian meneteskan air matanya karena teringat dengan nasib anak-anak Gaza yang pernah dijumpainya empat tahun silam.

Selain itu, ada juga tiga sesi kajian yang kalau dihubungkan akan saling berkaitan satu sama lain. Sesi pertama,  kajian sebelum tarawih tentang peran manusia sebagai hamba Allah dan khalifah dalam membangun peradaban. Sesi kedua, kajian itikaf tentang bagaimana para khulafaur rasyidin membangun peradaban sepeninggal Rasulullah. Sesi ketiga, kajian subuh tentang bagian dari peradaban yang harus diselamatkan: Gaza di Palestina.

Dan akhirnya, ada narasi besar yang menjadi benang merah dari itikaf kali ini: Membangun peradaban Islam dan menyelamatkan Palestina adalah dua perkara penting yang tak bisa dipisahkan.

 

Catatan Tarawih Dua: Menolak Misi Juli 6, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:56 pm
Tags: , ,

 

 

“Tante bukannya nggak suka ya, para ustadz bangun rumah-rumah tahfizh. Tapi mbok ya ada yang buat aksi sosial gitu. Lihat deh gereja di sana, ada dokternya. Orang Muslim pada berobat. Belum lagi yang kursus jahit, sebelum mulai kan diajarin cara doa mereka.”

“Itu lagi, di kampung atas. Ada PAUD gratis, yang biayain dewan gereja. Pembantu tante anaknya belajar di sana lagi. Ya, tante bilangin supaya hati-hati. Nah, waktu itu yang ngelola PAUD pernah mau ngontrak rumah tante. Udah mau tanda tangan kontrak nih, eh gak jadi karena tante ceramahin…”

Gadis ‘kecil’ bermukena putih yang satu shaf salat dengan tante itu hanya berkomentar singkat,”Iya, mereka kalau ngasi bantuan pasti nggak gratis. Ada ‘misi’nya.”

Setelah itu, dia merasa harus berbuat sesuatu sambil bergumam dalam hati. Hmmm, ternyata masih ada orang memiliki ghirah terhadap agama ini. Dan satu hal, kewajiban itu ternyata lebih banyak daripada waktu yang tersedia sehingga perlu saling menanggung beban ummat ini…