Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Biarkan Pancasila ‘Hidup’ Maret 28, 2013

Filed under: hukum — ayunp @ 3:27 pm
Tags: ,

Kini, Pancasila kembali ramai diperbincangkan. Setelah ‘bertahan’ sekian lama di lisan para peserta upacara, setelah ‘berdiam’ dalam perut burung garuda di puncak dinding bangunan, Pancasila kembali hadir memenuhi ruang-ruang berita. Banyak yang berkomentar. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Semua membahas hal ini: Pancasila sebagai asas tunggal dalam organisasi massa (ormas).

Berbagai ormas yang berasas tertentu merasa gelisah. Jika teks ‘Pancasila  sebagai asas tunggal’ benar-benar dicantumkan dalam undang-undang, maka keberadaan ormas itu akan terancam. Terancam dibekukan dan dibubarkan. Terancam tak dapat lagi beraktivitas untuk menyemarakkan negeri tercinta ini. Hmmm, mungkinkah Pancasila ‘setega’ itu? Bukankah Pancasila itu alat pemersatu? Bukankah Pancasila itu penjamin kebebasan untuk berorganisasi?

Saya yakin, Pancasila masih menjadi alat pemersatu. Pancasila juga bukanlah pengekang bagi kebebasan berorganisasi di negeri tercinta ini. Dengan dibalut semangat ‘Bhineka Tunggal Ika’, Pancasila adalah identitas keIndonesiaan, apapun ‘baju pemikiran’ yang dipakai oleh setiap ormas. Dengan didukung semangat ‘Persatuan Indonesia’, Pancasila adalah pengikat keIndonesiaan agar setiap ormas menyadari bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Memang nampak ideal. Mungkinkah diwujudkan?

Jawabannya, mungkin! Lalu, bagaimana caranya? Mudah saja. Tak perlu menjadikan Pancasila sebagai teks hukum. Mengapa? Teks hukum itu rawan pelanggaran! Coba lihat, sudah berapa banyak teks hukum yang dilanggar di negeri ini? Tegakah kita jika nantinya Pancasila hanya terlihat indah di atas kertas namun tak jua dilaksanakan? Tegakah kita jika nantinya Pancasila hanya tersusun rapi tanpa terpatri rapi di sanubari? Tegakah kita jika nantinya Pancasila hanya ‘manis di bibir’ namun ‘pahit di implementasi’?

Biarkan Pancasila hidup menjadi perilaku hukum bagi setiap ormas. Biarkan kemudian perilaku hukum itu terwujud dalam semangat untuk menghidupkan Pancasila di sanubari mereka. Biarkan perilaku hukum itu tercurah dalam pengejawantahan nilai-nilai Pancasila pada setiap aktivitas mereka. Bukankah Ketuhanan Yang Maha Esa, keadilan, keberadaban, persatuan, musyawarah mufakat, adalah semangat dan nilai-nilai yang universal dan manusiawi juga? Selama sebuah ormas bertujuan mulia, mustahil semangat dan nilai-nilai itu tak dikenal oleh mereka…

Meniatkan seluruh aktivitas ormas untukNya saja, bukan semata untuk mencari popularitas tak nyata, adalah perwujudan semangat ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Perwujudan nilai keadilan dan keberadaban adalah dengan menempatkan suatu hal yang berkaitan dengan ormas secara proporsional, patut, dan wajar. Sedangkan perwujudan persatuan adalah berusaha sekuat tenaga menghindari konflik dengan ormas lain yang akan berujung pada retaknya keutuhan negeri. Kemudian, mengedepankan soliditas internal dan eksternal ormas dalam bingkai musyawarah mufakat adalah perwujudan nilai agar tercapai hikmat dan kebijaksanaan.

Jadi, biarkan saja nilai dan semangat Pancasila itu hidup, kemudian bertransformasi menjadi ‘perilaku hukum’ yang menjiwai seluruh aktivitas ormas…

Bisakah?

 

lomba blog pusaka indonesia 2013

Iklan
 

Profil Pengadilan Akhirat November 21, 2012

Filed under: Hikmah,hukum — ayunp @ 3:32 am
Tags:

Dasar hukum : al-Qur’an dan Hadist

Kompetensi relatif: gak ada tuh, orang ‘pengadilannya’ cuma satu

Kompetensi absolut: menerima, memeriksa, dan mengadili seluruh  amal manusia yang pernah hidup di dunia

Hakim: Yang Mahaadil dan Mahabijaksana, Allah Subhanahu Wa Ta’ala (dialah hakim tunggal)

Penuntut Umum: Para malaikat yang pernah mencatat amal-amal manusia dan manusia yang pernah dizalimi oleh manusia lainnya

Pembelanya: iman dan amal shalih

Pembuktian berasal dari catatan-catatan amal manusia selama hidup di dunia dan kesaksian Yang Maha Melihat

Pada hari itu, mulut manusia dikunci… Anggota badannya yang akan menjadi saksi

Pengadilan ini istimewa karena tidak mengenal istilah terdakwa. Smua manusia, kecuali yang dikehendaki lain olehNya, pasti akan menjalani peradilan di pengadilan ini..(termasuk yang nulis ini tentunya)

Putusannya ada tiga: masuk surga, masuk neraka atau ‘dicuci’ dulu di neraka baru masuk surga

Putusannya bersifat final, tidak ada banding, kasasi apalagi Peninjauan Kembali!!

 

Sikap Ketua KPK: TEGAS dan BERANI Oktober 20, 2012

Filed under: hukum — ayunp @ 2:46 pm
Tags:

Lihatlah lambang KPK! Kedua huruf K berwarna hitam dan huruf P berwarna merah. Warna-warna itu bukannya tanpa makna. Hitam berarti TEGAS. Merah berarti BERANI.

Seperti arti lambangnya, seorang Ketua KPK haruslah TEGAS dan BERANI. TEGAS  memberantas korupsi dan  BERANI melawan koruptor. TEGAS menegakkan hukum dan BERANI bersikap benar dan adil.

Kedua sikap itulah yang akan saya pegang teguh jika menjadi seorang Ketua KPK dan  saya akan menanamkannya kepada seluruh jajaran KPK. Saya juga akan menanamkan kedua sikap itu kepada anggota keluarga saya

Inilah perwujudan kedua sikap itu:

  • TEGAS dalam menyelidik, menyidik, dan menuntut para koruptor. Tidak takut dan terpengaruh terhadap ancaman serta tekanan apapun;
  • TEGAS dalam memutuskan segala hal yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan korupsi;
  • TEGAS dalam berkoordinasi dengan aparat penegak hukum lain, yaitu polisi, hakim, dan jaksa;
  • BERANI untuk mencegah korupsi, baik yang bersifat materiil (suap, gratifikasi) maupun immateriil (korupsi waktu), mulai dari diri sendiri dan keluarganya;
  • BERANI untuk memberantas korupsi  dengan menegakkan ketentuan hukum yang berlaku kepada setiap pelaku korupsi, tanpa pandang bulu;
  • BERANI untuk mengawasi penyelenggaraan negara dan menindak apabila terjadi penyimpangan.

Dan untuk anggota keluarga, saya akan menanamkan dua hal ini: TEGAS untuk menolak segala hasil korupsi yang mungkin saja bisa saya bawa pulang ke rumah dan BERANI untuk mendukung saya mencegah dan memberantas korupsi.

 

 

 

 

Maaf, Kami Tak Menerima Tip Oktober 14, 2012

Filed under: Hikmah,hukum — ayunp @ 2:29 pm
Tags:

 

Saya dan keluarga sudah setahun lebih ini berobat di sebuah pondok bekam yang terletak di daerah Bekasi Timur. Kami betah berobat di sana karena pelayanannya ramah dan biayanya cukup terjangkau. Selain itu, suasana tempatnya juga nyaman dan bersih.

Ada suatu hal yang membuat saya terkesan. Para terapis yag bekerja di pondok bekam itu tak mau menerima tip dari pasien. Baik ibu maupun kakak saya, pernah mencoba memberikan uang tip kepada mereka sebagai tanda terima kasih. Namun mereka selalu menolaknya dengan halus. “Maaf Pak, Maaf Bu, di sini kami nggak boleh nerima tip”, begitu kata mereka.

Dugaan saya, mereka tak mau menerima uang tip karena sudah terikat aturan yang dibuat oleh pimpinan mereka yang akrab dipanggil ‘Abi’ dan ‘Ummi’. Nah, boleh dikatakan ‘Abi’ dan ‘Ummi’ sudah berhasil mensosialisasikan aturan tersebut kepada mereka. Inilah aturan yang ‘bukan sekadar di mulut’. Aturan ini juga dibuktikan dalam tindakan nyata, MENOLAK PEMBERIAN  TIP.

Hal ini membuat saya teringat pada sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Harvard Business School. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa semakin sering kebiasaan memberikan tip dilakukan warga, semakin tinggi pula tingkat korupsi negara dalam pemeringkatan indeks persepsi korupsi. Jadi, kebiasaan memberikan tip itu ternyata berbanding lurus dengan tingkat korupsi di suatu negara, loh!

Menurut saya, pondok bekam ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mencegah korupsi dari sebuah hal yang kecil, yaitu untuk tidak memberi dan menerima tip. Sungguh, inilah langkah kecil untuk melawan korupsi yang sudah ‘membudaya’ di negeri ini.

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah:188)

 

Cerita Skripsi Wakafku (Bagian 9 Habis) Oktober 13, 2012

Filed under: Hikmah,hukum — ayunp @ 12:31 pm

Garis Finish: Antara Jati Bening dan Kristal Ilmu Pengetahuan

Akhirnya, Allah mengizinkanku untuk menempuh garis finish ini. Skripsi yang sudah diuji tinggal sedikit mengalami revisi. Setelah revisi aku lakukan, aku membuat hard cover skripsiku. Setelah hard cover jadi, kini tiba saatnya untuk meminta pengesahan dari pembimbing dan penguji.  Aku tak mengalami kesulitan untuk menemui pembimbingku di kampus untuk meminta tanda tangannya. Namun penguji skripsiku tak demikian. Dari empat orang pengujiku, hanya tiga orang bisa dengan mudah aku temui di kampus. Namun satu orang penguji harus aku temui di rumahnya yang terletak di Jati Bening karena saat itu dia sedang bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ke Malaysia. Beruntung, aku bisa ke rumahnya bersama teman-temanku yang lain.

Setelah tanda tangan pembimbing dan penguji lengkap, aku segera melengkapi salinan skripsi dalam format soft copy.  Kemudian aku menyerahkan soft copy itu beserta skripsi yang telah dibuat hard cover-nya ke Perpustakaan Universitas Indonesia yang baru saja selesai dibangun. Alhamdulillah, aku tak mengalami hambatan berarti ketika menyerahkan hasil karyaku itu. Ya, akhirnya perjalanan penuh dinamika selama empat bulan ini berlabuh jua di Kristal ilmu pengetahuan itu…Puji syukur padaMu Yaa Rabb…

 

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

 

(QS Al-Insyirah 7-8)

 

Cerita Skripsi Wakafku (Bagian 8)

Filed under: Hikmah,hukum — ayunp @ 12:30 pm

Sidang ‘Pemeriksaan Skripsi’ dengan ’Acara Cepat’ di Hari Jumat

Setelah mengalami berbagai tekanan dan pergulatan, dengan izin Allah skripsiku selesai dan pembimbing menyetujui agar aku bisa segera mengikuti sidang. Setelah disetujui oleh pembimbingku, aku segera mengajukan waktu sidang kepada ketua program kekhususanku. Setelah melihat berbagai tanggal sidang yang ada, akhirnya dipilihlah tanggal 8 Juli 2011 sebagai waktu sidang skripsiku. Tanggal itu bertepatan dengan hari Jumat. Aku berharap di hari penuh berkah itu aku bisa memperoleh kelulusanku. Setelah mendapatkan tanggal sidang, aku bergegas menggandakan skripsiku dan memberikannya kepada para penguji.

Sehari sebelum sidang, rasa cemas tak bisa aku hindari. Namun puasa sunnah dan tilawah al-Qur’an yang aku lakukan perlahan-lahan bisa mengurangi rasa itu. Tak lupa, aku melakukan sholat malam dan sholat hajat. Itu semua aku lakukan agar Allah memudahkan aku menjalani sidang skripsi ini.

Hari sidang skripsi pun tiba. Dengan penuh harap dan cemas, aku berangkat dari rumah pukul 06.30. Aku sengaja berangkat lebih pagi agar beberapa jam sebelum sidang aku sudah bisa sampai di kampus. Sidang skripsiku sendiri rencananya akan dimulai pada pukul 09.00. Sesampainya di kampus, aku bergegas untuk melakukan sholat dhuha. Setelah itu, aku langsung menuju ruang sidangku.

Sekitar pukul 08.00, para dosen hukum Islam yang menjadi penguji skripsi terlihat sudah datang. Wilda, teman satu bimbinganku, mendapatkan ‘kehormatan’ untuk menempuh giliran pertama sidang. Saat Wilda menempuh sidang, rasa cemasku muncul kembali. Waktu terus bergerak. Ketika jarum jam menunjuk ke angka 9, Wilda belum juga keluar. Aku semakin bertambah cemas. Akhirnya, sekitar pukul 10.00 Wilda keluar dengan wajah yang agak pucat. Nah, giliranku telah tiba…

Sidangku yang rencananya berlangsung pukul 09.00 terpaksa ‘molor’. Namun ternyata hal itu membawa anugerah tersendiri buatku. Pasalnya, aku hanya menempuh sidang lebih sebentar daripada Wilda, hanya tiga puluh menit! Aku juga tak tahu pasti mengapa para penguji itu hanya menyidangkanku sebentar saja. Alhamdulillah, aku merasakan ini sebagai kemudahan dari Allah untukku. Aku menyebut sidang skripsiku ini sebagai ‘sidang dengan acara pemeriksaan cepat’. Dalam waktu kurang dari satu jam, sidangku telah selesai. Fiuhh, akhirnya…

Setelah menunggu beberapa menit, pembimbingku memanggil aku dan Wilda untuk masuk kembali ke ruang sidang. Rupanya akan segera diumumkan nilai akhir skripsi yang sudah diujikan. Alhamdulillah, kami berdua dinyatakan lulus dengan nilai A! Ya Allah terima kasih atas anugerahmu hari ini. Di luar ruang sidang, teman-teman kami banyak yang mengucapkan selamat. Pesan singkat di telepon genggamku juga mulai dibanjiri dengan ucapan selamat.  Selamat, hari ini resmi menjadi sarjana hukum!

 

Cerita Skripsi Wakafku (Bagian 7)

Filed under: Hikmah,hukum — ayunp @ 12:29 pm

Sakit Menjelang Deadline

            Awal Juni 2011 adalah pertanda semakin dekatnya deadline penyelesaian skripsiku. Kelelahanku sudah mencapai puncaknya, ditambah lagi dengan kebingunganku untuk menganalisis data-data yang sudah aku dapatkan dan menuliskannya dalam bab empat skripsiku. Kondisi itu cukup membuatku tertekan. Dan akhirnya peristiwa itu terjadi…

Ketika itu tanggal 6 Juni 2011. Aku harus mengikuti ujian akhir semesterku yang terakhir. Ujian yang harus aku ikuti adalah Pilihan Penyelesaian Sengketa pada pukul 13.00 di Auditorium FHUI. Ujian tersebut bentuknya berupa test tertulis dan praktik mediasi. Pada pagi hari sebelum ujian, aku masih berkutat dengan analisis data itu. Sebelum berangkat ke kampus, aku hanya makan sedikit nasi uduk yang dibelikan oleh ibuku. Sekitar pukul 11.00 aku berangkat ke kampus dengan motorku.

Setelah sampai di kampus, aku menunaikan shalat zuhur. Setelah shalat zuhur, aku kemudian berganti pakaian. Ya, memang untuk mengikuti ujian tersebut, aku harus berpakaian formal. Setelah itu, aku langsung bergegas menuju motorku untuk meletakkan pakaian yang telah aku gunakan sebelumnya.

Ketika aku ingin kembali dari parkiran motor menuju tempat teman-temanku sedang berkumpul, tiba-tiba aku merasakan mual yang luar biasa. Rasanya ingin muntah sehingga aku bergegas pergi ke kamar mandi. Dan ternyata benar. Aku akhirnya menumpahkan semua isi perutku! Ya Allah, padahal waktu ujian akan segera dimulai…

Setelah aku masuk ke ruang ujianpun, rasa mual masih belum hilang. Air teh hangat yang diberikan oleh teman-temanku keluar lagi. Bahkan ketika ujian sudah dimulai, aku muntah kembali di tengah teman-temanku satu kelompokku. Bajuku basah dan wajahku menjadi sangat pucat. Akhirnya, aku diminta untuk istirahat sejenak di luar ruangan dan berganti pakaian. Aku sempat merasa khawatir ketika itu. Aku takut sakitku ini membuatku tidak lulus ujian. Sempat pikiran-pikiran tidak lulus di semester ini menyergapku…

Alhamdulillah, keesokan harinya aku dibekam dan akhirnya sakitku ini bisa sembuh. Ibuku yang dengan sabar merawatku begitu memahami bahwa anaknya ini tengah tertekan karena skripsi. Beliau sempat sedikit marah melihatku yang agak ‘manja’ ketika sakit karena ingin tidur terus. Perlahan-lahan, aku mencoba kembali menulis skripsiku. Ayo Yu, tinggal selangkah lagi…Masa’ nyerah sih?