Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Ngajar PKn Pakai Meme, Why Not? :) April 15, 2015

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 12:48 am
Tags: , ,

Ini dia meme pertama saya tentang sistem perundang-undangan. Cukup berhasil karena anak-anak tertawa saat saya tunjukkan ini kepada mereka ūüôā

Meme Hierarki PerUUan

Iklan
 

Libur Telah Usai, Apa Ceritamu? Juli 9, 2013

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 6:49 am
Tags: ,

Libur telah usai…

Libur telah usai…

Hore..Hore…Hore…

Keluarkan tas dan bukumu

Lupakan keluh kesahmu

Hehe, mungkin nggak ya kalau lagunya Tasya berubah judul jadi ‘Libur Telah Usai’? Maksudnya, anak-anak sekolah jadi semangat bin bahagia setelah liburan selesai karena mau buru-buru sekolah…

Menjelang awal Ramadhan dan awal tahun ajaran baru ini, saya mau berbagi sedikit tentang liburan. Tak sengaja, saya menemukan tulisan dua murid saya tentang liburan. Saya dulu pernah berjanji kepada mereka, tulisan yang paling bagus akan ‘dipajang’ di internet. Setelah sekiaaan lama, belum saja ‘pajang’ juga. Inilah saatnya menepati janji ya ūüôā

Tulisan Pertama

Liburan ke Bali

oleh Dani

Pada hari Minggu, aku berlibur ke Bali. Aku berlibur ke Bali bersama keluarga. Aku berangkat ke bandara pukul 09.00 pagi. Aku berangkat naik taksi. Saat sampai di bandara, orang tuaku membeli tiket pesawat di loket. Saat sudah membeli tiket, aku dan keluargaku masuk ke pesawat.

Saat di dalam pesawat, aku sangat senang. Aku melihat awan dan langit. Saat sampai di Bali, aku ke pantai. Aku dan orang tuaku melihat pemandangan pantai dan matahari  terbenam. Saat matahari sudah terbenam, aku dan orang tuaku menyewa hotel. Aku dan orang tuaku akhirnya tidur.

Di pagi hari, aku dan orang tuaku bersiap-siap untuk pergi kembali ke rumah. Setelah bersiap-siap, aku dan orang tuaku pergi ke bandara naik taksi. Saat sampai di bandara, orang tuaku membeli tiket  pesawat di loket. Setelah membeli tiket, aku dan orang tuaku naik pesawat. Saat sampai di rumah, aku sangat rindu rumahku. Hari ini adalah hari yang menyenangkan

Tulisan Kedua

Berlibur ke Rumah Kakek

oleh Erlen

Pada suatu hari, aku diajak oleh ibu dan ayah ke rumah kakek di Ciledug. Kami berangkat menaiki mobil. Sesampai di sana, aku turun dari mobil dan bersalaman dengan kakek. Setelah itu, aku diajak kakek pergi ke sawah menaiki sepeda. Sesampai di sana aku berjalan dan aku melihat kerbau yang sedang membajak sawah. Aku menanam padi di sawah. Di sana ternyata ada orang-orangan.

Aku lelah. Kata kakekku, sebaiknya kita istirahat di kursi itu. Sehabis itu, kami pulang ke rumah. Sesampai di rumah kakek, aku mengatakan kepada ayah dan ibu, aku ingin menginap di sini. Ibu membolehkan menginap karena aku sedang libur sekolah. Aku berterima kasih kepada ayah dan ibu. Itulah cerita yang menyenangkan berlibur ke rumah kakek.

Sobat, apa cerita liburanmu? ^^

 

Catatan 22 Oktober: Dari Riuh Sampai Lagu Tik-Tik Bunyi Hujan Oktober 23, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 2:27 am
Tags: ,

Pada 22 Oktober ini, aku kembali mengajar  di kelas 6 SD yang begitu riuh. Anak-anaknya suka sekali berbicara, sampai-sampai aku harus sering berteriak untuk mendiamkan mereka. Ada juga anak yang bercanda dan bermain-main. Aku sempat merasa kesal juga.

Hari ini aku mengajar Bahasa Inggris. Sekali lagi, kesabaranku diuji. Pelajaran yang sebelumnya sudah pernah kusampaikan ternyata telah sedikit dilupakan oleh mereka.

Setelah aku menerangkan kembali materi yang pernah kusampaikan dulu, kemudian aku menyuruh mereka mengerjakan soal latihan. Suasana kelas ramai dengan pertanyaan sehingga membuat aku sibuk untuk menjawabnya.

“Kak, I’d rather apa artinya?”

Pears itu apa kak?”

Librarian itu apa kak?”

Bahkan arti her dan his juga ditanya.

“Adik-adik,kataku,”kalau ketemu her atau his itu diartikan -nya!”

Setelah sedikit ‘rusuh’, akhirnya latihan selesai dikerjakan. Sebelum mereka pulang, saya mengajarkan mereka sebuah lagu.

Tik-tik bunyi hujan disebut rainy

Langitnya cerah namanya sunny

Kalau berawan namanya cloudy

Berkabut foggy bersalju snowy

Mereka senang diajarkan lagu itu.”Kak, nanti aku mau nyanyi lagu itu di sekolah! teriak seorang murid kepadaku.

Aku juga merasa senang karena mereka bisa menyanyikan lagi lagu anak-anak. Pasalnya,¬† kebanyakan lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu dewasa bernada cinta ‘picisan’

Dan…aku akhirnya menemukan sebuah strategi! Kalau mengajar mereka, aku harus menggunakan media lagu. ^0^

Catatan:

Terima kasih untuk pengajar muda yang sudah posting lagu tik-tik hujan untuk media pembelajaran Bahasa Inggris di belajar.indonesiamengajar.org.

 

Hidup Damdas 16 Batu! Oktober 16, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 4:25 pm
Tags: , ,

Damdas 16 Batu a la Ayu

Senin sore kemarin, Farhan, muridku yang masih duduk di kelas 4 SD, mengajakku untuk belajar Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ). Ternyata, dia akan menempuh ulangan tengah semester besok dan pelajaran itu yang akan diuji. Jadilah dia ‘mendaulatku’ agar berperan sebagai pengetes hasil belajarnya siang tadi. “Ayo Kak, tanyain aku tentang PLBJnya, bahan (ulangannya) cuma bab 2 dan bab 3, bab 1-nya nggak,” rajuknya kepadaku.

Tanya jawab pada materi bab 2 berlangsung lancar karena pokok bahasannya cukup mudah, mengenai alat-alat komunikasi. Dia menjawab pertanyaanku dengan baik. Alat-alat komunikasi tradisional, pemanfaatan alat komunikasi, dan cara merawat alat komunikasi, sudah dihafalnya ‘di dalam kepala’. Kalau begitu, aku pantas mengatakan ‘WOW’ kepadanya.. ^^

Nah, ‘masalah’ akhirnya datang pada tanya jawab materi bab 3. Ternyata oh ternyata, materi pada bab itu adalah tentang permainan tradisional Betawi! Ketika aku bertanya padanya ,”Farhan, sudah pernah main ini?” Dia menggeleng tanda tak pernah. Apa pula permainan ini, namanya sungguh aneh, “DAMDAS 16 BATU”. Baru sekarang aku mengetahui ternyata ada permainan macam itu!

Dengan setengah malas, aku bertanya saja padanya,”Apa nilai dari permainan ini.” Dia juga menjawabnya dengan nada yang enggan, “Membantu konsentrasi dalam belajar, melatih kejujuran…”

Dia kemudian merajukku lagi,”Kak, kita coba aja yuk permainannya!” Mendengar itu, aku tambah tak bersemangat lagi. “Aduh Nak, beberapa menit lagi jam mengajarku tiba, aku belum sempat rehat barang sebentar”, gumamku dalam hati.

Dia tiba-tiba meninggalkanku keluar. Untuk apa? Ya, dia ternyata benar-benar mencari batu untuk main damdas itu! Baiklah, aku menjadi semangat kembali. Dengan sigap, kuambil kertas koran yang ada di dekatku, lalu kutiru bidang permainan damdas yang ada di buku. Yap, akhirnya jadi juga. Walaupun garisnya mencong-mencong tak karuan, yang penting sudah miriplah!

Dan…Dia kembali dengan membawa batu-batu kecil. Lalu kususun batu-batu itu di bidang damdas tadi. “Wah, ternyata batunya kurang, Farhan!” Dia kemudian berlari keluar dengan cepat dan membawa batu tambahan.

Permainan damdas akhirnya dimulai. Kita berdua suit untuk menentukan siapa yang maju terlebih dulu. Tiba gilirannya maju. Lalu giliranku. Nah, tiba-tiba di tengah permainan aku berpikir,”Bagaimana ini, batuku dan batunya selintas sama. Harus dibedakan!” Akhirnya aku ambil spidol biru untuk mewarnai batunya agar berbeda dengan batuku.

Permainan dimulai kembali. Perlahan, aku baru mengerti cara memainkannya. Mirip seperti bermain halma atau catur jawa. Ternyata asyik juga ya!

Aku akui, Farhan lebih pandai dariku. Dia berhasil memenangkan dua dari dua ronde yang kita mainkan bersama…

Hidup Damdas 16 Batu!

 

Anak Baik = Anak Cerdas Oktober 13, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 11:55 am
Tags: , ,

Setelah membaca buku ‚ÄėOrang Tuanya Manusia‚Äô karya Pak Munif Chatib, saya akhirnya memahami ada tiga aspek kemampuan belajar yang sebaiknya dimiliki oleh seorang anak, yaitu:

  1. aspek kemampuan afektif yang berkaitan dengan nilai dan sikap;
  2. aspek kemampuan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan atau keterampilan setelah menerima pengetahuan, dan;
  3.  aspek kemampuan kognitif yang berkaitan dengan kegiatan berpikir.

Menurut Pak Munif, jika seorang anak sudah memiliki satu dari tiga aspek kemampuan belajar di atas, maka dia sudah bisa dikatakan anak yang cerdas. Misalnya, ada seorang anak yang aspek kognitifnya lemah namun dia suka berlaku sopan kepada guru dan teman-temannya. Anak itu tetap bisa dikatakan sebagai  anak yang cerdas. Mengapa? Karena perilaku sopannya itu adalah bukti keunggulannya dalam aspek afektif.

Selama mengajar, saya berusaha menemukan aspek kemampuan afektif pada murid-murid saya. Alhamdulillah, saya mulai berhasil menemukannya satu per satu. Berikut ini akan saya kisahkan.

Es Krim dari Nazhilah

Di Senin pagi itu, saya cukup terkejut karena Nazhilah, seorang murid kelas 6, tiba-tiba masuk ke kelas yang saya ajar. Setelah masuk, dia langsung memberikan es krim kepada saya sambil berkata, ‚ÄúNih, buat Kakak.‚ÄĚ Wah, betapa senangnya hati saya. Nazhilah ternyata cerdas karena dia sudah mampu berbagi dengan orang lain! Padahal, dalam aspek kognitif, dia termasuk lemah dalam pelajaran matematika.

Penghapus dari Bella dan Spidol dari Aji

Saya begitu terkesan dengan kepekaan dua murid saya ini, Bella dan Aji. Sewaktu mengajar di kelas, saya agak kebingungan karena tidak menemukan penghapus papan tulis. Bella yang cepat tanggap langsung meminta izin keluar kelas dan segera mengambilkan penghapus itu untuk saya. Hebat! Bella amat peka dengan apa yang terjadi di sekitarnya, padahal secara kognitif dia lemah dalam pelajaran ¬†matematika. Hal yang mirip juga terjadi ketika saya mengajar di kelas Aji. Ketika menulis, spidol yang saya gunakan habis. Dengan intonasi suaranya yang lucu, Aji berkata kepada saya,‚ÄĚSini Kak, saya ambilkan spidolnya!‚ÄĚ Dia bergegas keluar dan segera mengambilkan spidol lain tanpa harus saya suruh terlebih dahulu. Aji memiliki kemampuan afektif yang baik padahal dia lemah dalam pelajaran Bahasa Inggris

Saya yakin, murid-murid saya ini cerdas karena mereka memiliki kemampuan afektif yang baik, walaupun dari segi kognitif ada kekurangannya Menurut saya, kekurangan dalam kemampuan afektif akan jauh lebih berbahaya daripada kekurangan dalam kemampuan kognitif dan psikomotorik. Kemampuan afektif yang baik adalah landasan bagi pengembangan kemampuan kognitif dan psikomotorik. Tanpa kemampuan afektif, pendidikan telah berubah menjadi sarana transfer ilmu an sich, bukan lagi sarana transfer nilai dan sikap.

*Foto karya  Asri Saraswati, Pengajar Muda di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan

 

Tolong… Juni 27, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 1:27 pm
Tags: , ,

Mengajar bukanlah hal yang asing dalam kehidupan saya. Semenjak memutuskan pilihan untuk menekuni pekerjaan ini, sesungguhnya ada beban yang menggelayut di hati. Sekadar mengajar, atau dengan perkataan lain mentransfer pengetahuan, sebenarnya bukan perkara yang terlalu sulit. Menerangkan sejelas-jelasnya materi pelajaran, kemudian mengajukan pertanyaan serta memberikan soal-soal latihan, rasanya cukup untuk mentransfer pengetahuan secara sederhana. Di samping itu, menjadi kewajiban pula untuk mentransfer ¬†sekecil apapun nilai. Inilah beban yang saya maksud,’transfer nilai’. Salah ¬†satu nilai kehidupan yang harus ditransfer adalah bagaimana agar murid terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik.

Kita semua tahu kalau kata ‘tolong’ termasuk salah satu magic word,¬†di samping kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’. Saya berusaha untuk membiasakan murid yang saya ajar untuk mengucapkan kata ‘tolong’. Sebagai contoh, suatu hari saat belajar, seorang murid meminta saya untuk menyalakan kipas angin yang ada di kelas. Pertama-tama dia berucap,”Kak, nyalain kipas angin dong!”. Saya tak langsung menuruti permintaannya. Saya kemudian memintanya untuk ¬†mengulangi ucapannya itu, “Ayo, bilangnya yang bagus ya! Kak, tolong nyalain kipas angin dong…” Setelah dia mengulangi ucapan sesuai dengan yang saya minta, baru saya menyalakan kipas angin itu.

Terkesan ribet? Memang iya, tetapi lebih ribet lagi bila dia sudah besar nanti menjadi sulit mengucapkan kata ‘tolong’.