Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Ketika Anak Didik Benar-Benar Masuk FHUI Maret 9, 2018

Filed under: cerita mengajarku,hukum — ayunp @ 7:44 am
Tags: , , , , ,

Bangga dan bahagia. Itu dua kata yang pantas menggambarkan isi hati saya di akhir masa tugas menjadi Guru PKn di sebuah SMA swasta di selatan Jakarta. Alasannya sederhana. Dua anak didik yang pernah saya ceritakan tahun lalu di postingan ini akhirnya berhasil menjadi satu almamater dengan saya di FHUI. Saya menjadi mahasiswa FHUI pada tahun 2007, sedangkan mereka menjadi mahasiswa FHUI pada tahun 2017 ini. Tepat satu dekade berselang, mereka menjadi ‘adik’ saya.

Menjadi mahasiswa FHUI adalah langkah awal untuk mencapai cita-cita mereka. Uniknya, cita-cita mereka sama: menjadi pengacara. Namun, saya agak berbeda ketika berinisiatif memberikan penguatan kepada mereka mengenai aktivitas yang sebaiknya mereka lakukan ketika berada di kampus. Bagaimana profil singkat mereka,  apa aktivitas yang saya rekomendasikan, dan apa alasan mereka menjadi pengacara? Mari kita simak bersama-sama.

1. Calon Direktur Asian Law Students’ Association

Adira, berhasil masuk ke FHUI melalui jalur talent scouting. Ketika berkuliah nanti, dia akan berada di kelas khusus internasional. Saat SMA, dia adalah seorang ketua OSIS. “Wah, kamu mah calon ketua (maksudnya direktur) ALSA nih! kata saya kepadanya ketika tak sengaja bertemu setelah pengumuman kelulusan SMA. “Aamiin, Bu!” jawabnya singkat.

Kemudian, mengapa Adira bercita-cita menjadi pengacara? Karena dia merasa prihatin dengan ketentuan hukum Indonesia yang masih belum dapat menjaga hasil karya cipta masyarakat. Betul sekali, pembajakan masih sering saja terjadi padahal sudah ada undang-undang mengenai hak kekayaan intelektual. Di tahun kesepuluhnya menjadi pengacara, dia ingin mendirikan firma hukum yang menangani kasus-kasus hukum internasional. Mantap!

2. Calon Best Oralist di Philip Jessup International Law Moot Court Competition

Berbeda dengan Adira, Raushan berhasil masuk ke FHUI melalui jalur SBMPTN sehingga ketika berkuliah nanti, dia akan berada di kelas reguler. Sewaktu SMA, Raushan sukses meraih predikat Best Oralist pada kompetisi moot court yang diikuti bersama adik kelasnya. Ketika mengucapkan selamat atas capaiannya di SBMPTN melalui pesan singkat, saya berkata padanya,”Semoga nanti dua atau tiga tahun lagi kamu bisa ikut  Philip Jessup International Law Moot Court Competition dan jadi best oralist.” Aamiin 

Nah, mengapa Raushan ingin menjadi pengacara? Ada empat alasannya. Pertama, supaya bisa berguna untuk orang lain. Kedua, supaya bisa memenuhi kebutuhan material. Ketiga, sebagai landasan untuk tujuan lain di masa depan. Keempat, supaya mengetahui bagaimana hukum Indonesia dilaksanakan. Selain itu, menurut Raushan, jumlah pengacara yang ada masih belum sebanding dengan jumlah penduduk yang harus dibela. Pendapat Raushan benar. Berdasarkan artikel ini, ketersediaan pengacara di Indonesia masih sangat jauh dari standar ideal, yaitu harus ada satu pengacara untuk seribu seratus penduduk (1:1100).

Ok, Nak! Selamat berjuang untuk menempuh masa-masa perkuliahan di FHUI. Kami menunggu kiprah kalian untuk mewujudkan hukum Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

GO, FIGHT, WIN, YES!

Sumber tulisan

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt56a74ee917a37/rasio-jumlah-pengacara-dan-penduduk-di-empat-provinsi

Tulisan tentang Cita-Cita Adira dan Cita-Cita Raushan di Buku Ekspresi Angkatan XX

*pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/ketika-anak-didik-benar-benar-masuk-fhui

 

 

Iklan
 

Cerita HSM 5: Awalnya Kebingungan, Akhirnya Jadi Runner Up

Filed under: cerita mengajarku,hukum — ayunp @ 7:26 am
Tags: , , , ,

hukumpedia-ICC 1

Nekat. Itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana keputusan saya ketika memilih menjadi guru pendamping bagi ketiga anak didik yang akan mengikuti 10th High School Moot Court Competition ( 10th HSMCC), 4-6 November 2016. Pasalnya, kompetisi yang diadakan setiap tahun oleh Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan itu menuntut saya mempelajari hal-hal baru ini secara cepat: International Humanitarian Law (IHL), International Criminal LawRome Statute, dan aturan-aturan lain terkait IHL. Belum lagi harus mempelajari kasus fiktif ‘Prosecutor vs En Sabah Nuur’ sebagai bekal untuk membuat Memorial of Prosecutor dan Memorial of Defendant.

Ok, saya menganggap semua hal tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Pasalnya, kompetisi ini sangat istimewa karena satu-satunya kompetisi mootcourt untuk murid SMA dengan model International Criminal Court. Karena ini kompetisi istimewa, maka anak didik saya yang menjadi pesertanya juga istimewa. Satu di antara keistimewaan mereka adalah kemampuan Bahasa Inggris mereka yang jauh lebih baik daripada saya.

Dengan niat untuk membantu anak didik saya belajar dan mengembangkan potensi mereka, saya akhirnya berusaha untuk mendampingi semampu saya. Dengan berbekal instinct sebagai sarjana hukum dan pengalaman mendampingi kompetisi yang sama di tahun sebelumnya, saya berusaha membantu mereka mempersiapkan diri  di sela-sela kesibukan mengajar.

Oh ya, siapa saja anak didik saya yang terpilih untuk menjadi tim dalam kompetisi mootcourt tersebut? Setelah meminta rekomendasi dari Guru Bahasa Inggris Kelas XI dan XII, akhirnya saya memutuskan untuk memilih tiga anak, yaitu satu anak kelas XII dan dua anak kelas XI. Mereka adalah Raushan Aljufri (first counsel), Deidra Cambaliza (second counsel), dan Alexa Noorfatimah Satryo (researcher) Saya sengaja membuat komposisi satu tim seperti itu agar adik kelas bisa belajar dari kakak kelasnya yang notabene memang hebat speaking skillnya.

Inilah perjalanan yang saya lalui bersama mereka yang tergabung dalam tim HSM 5. Perasaan saya ketika melaluinya campur aduk. Ada senang, capek, bingung, khawatir. Namun semuanya berakhir membahagiakan dan membanggakan ^^

Memorials yang Membuat Bingung

Tahap pertama yang harus dilalui adalah menyusun memorials, baik Memorial of Prosecutor dan Memorial of Defendant Sebelum itu dilakukan, perlu dipahami dulu kasus yang diberikan, yaitu Prosecutor vs En Sabah Nuur. Dalam kasus tersebut, terdapat sekitar dua puluh fakta yang juga dilengkapi dengan dakwaan (count) yang harus dijatuhkan kepada terdakwanya. Setelah membaca kasus, ternyata ada dua hal yang harus dibuktikan oleh prosecutor, yaitu apakah terdakwa terlibat dua kejahatan, yaitu war crimes attacking protected object  dengan pertanggungjawaban individu dan war crimes attacking civilian population dengan pertanggungjawaban komando. Sebaliknya, defendant harus menyanggah kalau tidak terlibat dua kejahatan tersebut.

Sepintas, membuat memorials terlihat mudah karena tinggal membuktikan apakah unsur-unsur pasal dalam dua kejahatan tersebut terpenuhi atau tidak. Masukkan elements of crime pasal-pasal Rome Statute yang berhubungan dengan dua kejahatan tadi, kemudian kaitkan dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi ada yang membuat saya dan anak-anak bingung. Bagaimana caranya agar memorials yang dibuat lebih kaya dengan peraturan lain dan kasus-kasus sebelumnya? Walaupun diliputi kebingungan, memorials tetap berusaha disusun dengan baik dalam waktu yang cukup lama, dari awal September hingga pertengahan Oktober. Sebenarnya saya merasa agak bersalah karena kurang maksimal melakukan final checking. Masih ada dua dasar hukum yang salah tulis dan beberapa kalimat yang sebenarnya bisa diperbaiki.

It’s ok. Saya sangat menghargai upaya anak-anak dalam menyusun memorials di sela-sela kesibukan sekolah mereka. Buat saya, sekelas anak SMA sudah sangat bagus  bisa melakukan hal itu. Satu hal lagi, saya bangga karena memorials yang disusun benar-benar hasil kerja satu tim.

Latihan Oral Presentation yang Sederhana

Awalnya, saya menargetkan paling tidak ada empat sesi latihan oral presentationI setelah memorials selesai disusun. Namun hanya terealisasi dua kali dan berlangsung sederhana. Saya hanya menyusun pertanyaan-pertanyaan dari memorials berdasarkan apa yang saya pahami. Setelah itu saya berusaha menginterrupt anak didik saya yang menjadi first counsel dan second counsel ketika mereka sedang mempresentasikan memorialsnya. Walaupun berlangsung sederhana, paling tidak anak didik saya mengetahui gambaran situasi ketika kompetisi nanti. Saya mengatakan kepada mereka bahwa harus siap menghadapi dua hal ketika oral presentation: diinterupsi hakim ketika presentasi dan kemudian diberikan pertanyaan yang ‘muter-muter’.

Gagal Technical Meeting Karena Demo 411

Awalnya, saya sudah mengajak anak-anak untuk mengikuti technical meeting di UPH pada tanggal 4 November 2016. Namun anak-anak kelas XI mendadak tidak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang harus diselesaikan. Tinggal saya dan anak kelas XII yang bisa ikut. Ketika itu, saya ragu untuk datang ke UPH. Situasi tidak menentu karena demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menghadiri technical meeting untuk memperkecil risiko. Lagipula panitia sudah memutuskan bahwa menghadiri technical meeting adalah pilihan bukan kewajiban. Untungnya, panitia mengirimkan jadwal kompetisi dan memorials lawan sehingga anak-anak bisa mempersiapkan diri di Jumat malamnya.

Clear Holder: Ada dan Perlu

Saya berusaha mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan ketika kompetisi dalam dua buah clear holder, yaitu untuk first counsel dan second counsel. Yang saya persiapkan juga sederhana: statement of facts Prosecutor vs En Sabah Nuur, beberapa pasal dalam Rome Statute dan Customary Law of IHL, dan memorials. Khusus second counsel ditambah dengan speech yang merupakan rangkuman dari memorials. First counsel lebih nyaman membuat sendiri poin-poin ketika oral presentation sehingga tidak perlu ada speech yang dimasukkan ke clear holdernya. Satu di antara kunci keberhasilan mooting adalah kerapian dan keteraturan berkas sehingga clear holder dan isinya sangat perlu dibawa.

Hari H Lomba: All Out!

Ketika hari H lomba, saya bukan lagi mooting coach. Saya telah berubah menjadi spiritual coach. Saya lebih banyak mendukung dan mendoakan anak-anak saja. Memberikan feedback ke anak-anak juga seperlunya karena pada setiap babak judges juga memberikan feedback yang lebih komprehensif.

Saya melihat sendiri, anak-anak benar-benar mengeluarkan semua potensi yang mereka miliki. Mereka belajar dari babak demi babak, terutama ketika preliminary round yang dijalani sebanyak dua kali. Mereka memperhatikan sekali feedback dari judges dan berusaha memperbaiki penampilan mereka pada babak selanjutnya. Sebelum tampil, mereka juga meriset sendiri hal-hal yang menguatkan argumen mereka. Ketika itu, saya percaya sepenuhnya bahwa anak-anak bisa tampil maksimal.

Upaya yang dilakukan dan doa yang dilantunkan akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak berhasil melaju hingga ke babak final! Satu pencapaian yang lebih baik dari tahun lalu. Ya, walaupun ketika semifinal saya sempat deg-degan karena ketahuan ada dasar hukum yang salah tulis di memorial, akhirnya dengan berbagai pertimbangan, judges memutuskan anak-anak didik saya yang berhak tampil di babak final. Setelah berusaha yang terbaik di babak final, akhirnya mereka berhasil menjadi 1st Runner Up. Daan, first counsel tim HSM 5 berhasil meraih Best Oralist. Great!

Di balik semua keberhasilan yang telah diraih, ada satu hal yang menjadi bahan renungan saya:  Finally, each of us will face The Most Just of Judges in the hereafter. Have we prepared?

*pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/cerita-hsm-5-awalnya-kebingungan-akhirnya-jadi-runner-up

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

Ketika Anak Didik Mau Masuk FH

Sebagai guru yang latar belakangnya sarjana hukum, saya senang sekali apabila mengetahui ada anak didik saya yang ingin masuk ke fakultas hukum (FH). Hoho, yang jelas saya yakin sekali mereka akan jauh lebih hebat daripada saya. Satu di antara ciri khas mereka adalah pandai berbicara dan hobi berpendapat. Wow, itu ‘modal’ yang berguna banget untuk masuk ke FH!

Berikut kisah dua anak didik saya yang mau masuk fakultas hukum. Selamat membaca…

Anak Didik Pertama

Dia anak perempuan. Sewaktu kelas XI, dia memang mengatakan kepada saya berminat masuk ke fakultas hukum. Bahkan, karya ilmiah yang dibuatnya sebagai tugas pelajaran muatan lokal bertema hukum. Saya membantunya untuk memperkaya referensi karya ilmiahnya dengan meminjamkan buku ‘Hukum dan Perilaku’ karya Satjipto Rahardjo. Ketika saya tanya kepadanya, “Nak, itu buku yang ibu pinjamkan berguna tidak?” Alhamdulillah, katanya sangat berguna 

Setelah agak lama, bukunya belum juga dikembalikan. Ketika saya bertemu lagi dengannya, dia sudah naik ke kelas XII. Saya tidak lagi mengajarnya. Ketika tak sengaja berpapasan dengannya, saya mengajaknya berbincang sejenak.

“Nak, masih ingat buku yang pernah ibu pinjamkan dulu? Itu buat kamu saja. Masih mau masuk FH kan? Kamu harus baca buku itu sebelum masuk FH. Ibu agak menyesal karena terlambat membaca buku itu ketika kuliah”

“Iya, Bu. Saya mau masuk FH. Beneran buat saya? Makasih banyak. Doain ya Bu bisa masuk FHUI.”

Gak apa lah ya..’Diracunin’ sedikit sama sosio-legal perspective semenjak dini  Biar jadi sarjana hukum berhati nurani…

Anak Didik Kedua

“Kamu mau kuliah dimana nanti?”

“Ya, kalau nggak (fakultas) hukum, ya (fakultas ilmu) komputer juga nggak apa-apa bu.”

Gumam saya dalam hati,”Ambil (fakultas ilmu) komputer? Jangaaan, gak cocok… Bukan kamu banget.”

“Udah, kamu ‘nyebrang’ aja lah ke hukum. Kebanyakan orang hukum juga anak IPA”

“Iya sih, kalau hukum pilihan kariernya lebih luas.”

“Iya, ambil hukum internasional nanti.”

Itu percakapan saya ketika di perjalanan mendampinginya lomba debat bahasa Inggris. Siapa dia? Anak seorang diplomat yang suka membaca dan pandai sekali berargumen. Ya, like father like son lah. Dia anak IPA, tapi kemungkinan besar mau ‘nyebrang’ ambil FH ketika kuliah nanti.

Prediksi saya, kalau memang anak ini jadi kuliah di FH, di tahun 2045, dia bisa jadi adalah Menteri Luar Negeri Indonesia. Karena ada kemungkinan dia akan menjadi diplomat seperti bapaknya. Semoga!

 

 We gotta go go HUKUM go

We gotta fight fight HUKUM fight

We gotta win win HUKUM win

Go go 

Fight fight

 Win win

Yes!

 

pernah ditulis di http://www.hukumpedia.com/novayunov/ketika-anak-didik-mau-masuk-fh

 

 

Ngajar PKn Pakai Meme, Why Not? :) April 15, 2015

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 12:48 am
Tags: , ,

Ini dia meme pertama saya tentang sistem perundang-undangan. Cukup berhasil karena anak-anak tertawa saat saya tunjukkan ini kepada mereka 🙂

Meme Hierarki PerUUan

 

Libur Telah Usai, Apa Ceritamu? Juli 9, 2013

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 6:49 am
Tags: ,

Libur telah usai…

Libur telah usai…

Hore..Hore…Hore…

Keluarkan tas dan bukumu

Lupakan keluh kesahmu

Hehe, mungkin nggak ya kalau lagunya Tasya berubah judul jadi ‘Libur Telah Usai’? Maksudnya, anak-anak sekolah jadi semangat bin bahagia setelah liburan selesai karena mau buru-buru sekolah…

Menjelang awal Ramadhan dan awal tahun ajaran baru ini, saya mau berbagi sedikit tentang liburan. Tak sengaja, saya menemukan tulisan dua murid saya tentang liburan. Saya dulu pernah berjanji kepada mereka, tulisan yang paling bagus akan ‘dipajang’ di internet. Setelah sekiaaan lama, belum saja ‘pajang’ juga. Inilah saatnya menepati janji ya 🙂

Tulisan Pertama

Liburan ke Bali

oleh Dani

Pada hari Minggu, aku berlibur ke Bali. Aku berlibur ke Bali bersama keluarga. Aku berangkat ke bandara pukul 09.00 pagi. Aku berangkat naik taksi. Saat sampai di bandara, orang tuaku membeli tiket pesawat di loket. Saat sudah membeli tiket, aku dan keluargaku masuk ke pesawat.

Saat di dalam pesawat, aku sangat senang. Aku melihat awan dan langit. Saat sampai di Bali, aku ke pantai. Aku dan orang tuaku melihat pemandangan pantai dan matahari  terbenam. Saat matahari sudah terbenam, aku dan orang tuaku menyewa hotel. Aku dan orang tuaku akhirnya tidur.

Di pagi hari, aku dan orang tuaku bersiap-siap untuk pergi kembali ke rumah. Setelah bersiap-siap, aku dan orang tuaku pergi ke bandara naik taksi. Saat sampai di bandara, orang tuaku membeli tiket  pesawat di loket. Setelah membeli tiket, aku dan orang tuaku naik pesawat. Saat sampai di rumah, aku sangat rindu rumahku. Hari ini adalah hari yang menyenangkan

Tulisan Kedua

Berlibur ke Rumah Kakek

oleh Erlen

Pada suatu hari, aku diajak oleh ibu dan ayah ke rumah kakek di Ciledug. Kami berangkat menaiki mobil. Sesampai di sana, aku turun dari mobil dan bersalaman dengan kakek. Setelah itu, aku diajak kakek pergi ke sawah menaiki sepeda. Sesampai di sana aku berjalan dan aku melihat kerbau yang sedang membajak sawah. Aku menanam padi di sawah. Di sana ternyata ada orang-orangan.

Aku lelah. Kata kakekku, sebaiknya kita istirahat di kursi itu. Sehabis itu, kami pulang ke rumah. Sesampai di rumah kakek, aku mengatakan kepada ayah dan ibu, aku ingin menginap di sini. Ibu membolehkan menginap karena aku sedang libur sekolah. Aku berterima kasih kepada ayah dan ibu. Itulah cerita yang menyenangkan berlibur ke rumah kakek.

Sobat, apa cerita liburanmu? ^^

 

Catatan 22 Oktober: Dari Riuh Sampai Lagu Tik-Tik Bunyi Hujan Oktober 23, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 2:27 am
Tags: ,

Pada 22 Oktober ini, aku kembali mengajar  di kelas 6 SD yang begitu riuh. Anak-anaknya suka sekali berbicara, sampai-sampai aku harus sering berteriak untuk mendiamkan mereka. Ada juga anak yang bercanda dan bermain-main. Aku sempat merasa kesal juga.

Hari ini aku mengajar Bahasa Inggris. Sekali lagi, kesabaranku diuji. Pelajaran yang sebelumnya sudah pernah kusampaikan ternyata telah sedikit dilupakan oleh mereka.

Setelah aku menerangkan kembali materi yang pernah kusampaikan dulu, kemudian aku menyuruh mereka mengerjakan soal latihan. Suasana kelas ramai dengan pertanyaan sehingga membuat aku sibuk untuk menjawabnya.

“Kak, I’d rather apa artinya?”

Pears itu apa kak?”

Librarian itu apa kak?”

Bahkan arti her dan his juga ditanya.

“Adik-adik,kataku,”kalau ketemu her atau his itu diartikan -nya!”

Setelah sedikit ‘rusuh’, akhirnya latihan selesai dikerjakan. Sebelum mereka pulang, saya mengajarkan mereka sebuah lagu.

Tik-tik bunyi hujan disebut rainy

Langitnya cerah namanya sunny

Kalau berawan namanya cloudy

Berkabut foggy bersalju snowy

Mereka senang diajarkan lagu itu.”Kak, nanti aku mau nyanyi lagu itu di sekolah! teriak seorang murid kepadaku.

Aku juga merasa senang karena mereka bisa menyanyikan lagi lagu anak-anak. Pasalnya,  kebanyakan lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu dewasa bernada cinta ‘picisan’

Dan…aku akhirnya menemukan sebuah strategi! Kalau mengajar mereka, aku harus menggunakan media lagu. ^0^

Catatan:

Terima kasih untuk pengajar muda yang sudah posting lagu tik-tik hujan untuk media pembelajaran Bahasa Inggris di belajar.indonesiamengajar.org.

 

Hidup Damdas 16 Batu! Oktober 16, 2012

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 4:25 pm
Tags: , ,

Damdas 16 Batu a la Ayu

Senin sore kemarin, Farhan, muridku yang masih duduk di kelas 4 SD, mengajakku untuk belajar Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta (PLBJ). Ternyata, dia akan menempuh ulangan tengah semester besok dan pelajaran itu yang akan diuji. Jadilah dia ‘mendaulatku’ agar berperan sebagai pengetes hasil belajarnya siang tadi. “Ayo Kak, tanyain aku tentang PLBJnya, bahan (ulangannya) cuma bab 2 dan bab 3, bab 1-nya nggak,” rajuknya kepadaku.

Tanya jawab pada materi bab 2 berlangsung lancar karena pokok bahasannya cukup mudah, mengenai alat-alat komunikasi. Dia menjawab pertanyaanku dengan baik. Alat-alat komunikasi tradisional, pemanfaatan alat komunikasi, dan cara merawat alat komunikasi, sudah dihafalnya ‘di dalam kepala’. Kalau begitu, aku pantas mengatakan ‘WOW’ kepadanya.. ^^

Nah, ‘masalah’ akhirnya datang pada tanya jawab materi bab 3. Ternyata oh ternyata, materi pada bab itu adalah tentang permainan tradisional Betawi! Ketika aku bertanya padanya ,”Farhan, sudah pernah main ini?” Dia menggeleng tanda tak pernah. Apa pula permainan ini, namanya sungguh aneh, “DAMDAS 16 BATU”. Baru sekarang aku mengetahui ternyata ada permainan macam itu!

Dengan setengah malas, aku bertanya saja padanya,”Apa nilai dari permainan ini.” Dia juga menjawabnya dengan nada yang enggan, “Membantu konsentrasi dalam belajar, melatih kejujuran…”

Dia kemudian merajukku lagi,”Kak, kita coba aja yuk permainannya!” Mendengar itu, aku tambah tak bersemangat lagi. “Aduh Nak, beberapa menit lagi jam mengajarku tiba, aku belum sempat rehat barang sebentar”, gumamku dalam hati.

Dia tiba-tiba meninggalkanku keluar. Untuk apa? Ya, dia ternyata benar-benar mencari batu untuk main damdas itu! Baiklah, aku menjadi semangat kembali. Dengan sigap, kuambil kertas koran yang ada di dekatku, lalu kutiru bidang permainan damdas yang ada di buku. Yap, akhirnya jadi juga. Walaupun garisnya mencong-mencong tak karuan, yang penting sudah miriplah!

Dan…Dia kembali dengan membawa batu-batu kecil. Lalu kususun batu-batu itu di bidang damdas tadi. “Wah, ternyata batunya kurang, Farhan!” Dia kemudian berlari keluar dengan cepat dan membawa batu tambahan.

Permainan damdas akhirnya dimulai. Kita berdua suit untuk menentukan siapa yang maju terlebih dulu. Tiba gilirannya maju. Lalu giliranku. Nah, tiba-tiba di tengah permainan aku berpikir,”Bagaimana ini, batuku dan batunya selintas sama. Harus dibedakan!” Akhirnya aku ambil spidol biru untuk mewarnai batunya agar berbeda dengan batuku.

Permainan dimulai kembali. Perlahan, aku baru mengerti cara memainkannya. Mirip seperti bermain halma atau catur jawa. Ternyata asyik juga ya!

Aku akui, Farhan lebih pandai dariku. Dia berhasil memenangkan dua dari dua ronde yang kita mainkan bersama…

Hidup Damdas 16 Batu!