Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Selamat Menempuh Amanah, ROHIS 34 2016… November 4, 2014

Filed under: cerita da'wah sekolah — ayunp @ 3:19 pm
Tags: ,

IMG_8155559869195

Waktu terus berjalan. Kini tiba saatnya tongkat estafet kebaikan itu beralih. Dan akhirnya Allah takdirkan, ROHIS 34 2016 yang menerimanya…

Langkah-langkah ke depan tentunya lebih berat. Namun yakinlah bahwa semua bisa dijalani dengan pertolongan Allah. Teruslah berusaha, berdoa, dan bertawakkal kepadaNya, agar Islam bisa tegak di sekolah kita tercinta, SMAN 34.

Untuk memulai langkah-langkah itu, mulailah dari perencanaan yang matang. Setelah itu, berusaha mewujudkan perencanaan tersebut ke amal nyata. Selama mewujudkan amal tersebut, jangan segan untuk saling mengingatkan dalam bingkai kebenaran dan kesabaran. Setelah amal tersebut selesai dilakukan, periksalah kembali. Apakah amal tersebut sudah sesuai dengan yang direncanakan, apakah amal tersebut telah berlangsung secara efektif, dan seterusnya…

Lebih lanjut, teruslah berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Berusaha untuk menjaga target dan kualitas ibadah harian, terutama salat dan tilawah Alquran. Berusaha untuk menjaga kehadiran dalam halaqoh setiap pekannya sebagai sarana penguat ruhiyah dan ukhuwah. Berusaha untuk mengenal, memahami, dan menolong satu sama lain. Berusaha untuk sabar, lapang dada, dan berprasangka baik pada saudara-saudarinya…

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membantu dan menguatkan adik-adik ROHIS 34 2016. Teruslah bersemangat karena kalian sudah berada di jalan yang benar, insya Allah. Jalan Allah memang berliku, tapi ia tak akan pernah keliru…

Lillah..Fillah..Billah

Sepenuh cinta,

@ayu_np
Rohis 34 2007

 

Terima Kasih ROHIS 34 2015 :)

Filed under: cerita da'wah sekolah — ayunp @ 2:18 pm
Tags: , ,

‘Main’ sama anak-anak ROHIS lagi? Kenapa nggak? Itu yang terjadi di bulan Juli 2012, tepatnya di bulan Ramadhan. Pertama kali bertemu sama ade-ade yang tanpa ragu memberikan pilihan ‘ikut ROHIS’ di formulir yang harus diisi sama murid baru 34. Daaan saat itu pula jadilah mereka bagian dari ‘ROHIS 34 2015’. Hmm, kalau saya angkatan 2007, berarti jarak umur antara saya dan mereka lumayan jauh juga, 8 tahun! Tapi lanjuut aja dah…Bismillah bisa!

Dan akhirnya bener kok, bisa! Menjadi bagian dari mereka bukan hanya terbatas pada pertemuan pekanan setiap Jumat yang disebut #Melingkar. Tapi lebih dari itu… Saya harus ikut serta dalam setiap agenda yang mereka lakukan. Dan salah satu agenda yang harus saya ikuti adalah pemilihan ketua ROHIS 34 dan Kaputnya…

IMG_20140405_154516

Singkat cerita, akhirnya terpilihlah Ketua ROHIS 34 dan Kaput yang baru di bulan Oktober 2013 setelah melalui proses yang lumayan panjang. Dan setelah itu, terbentuklah BPH dan staf-stafnya. Wuih, senang melihat ade-ade yang awalnya masih ‘lucu-lucu’ itu berkembang, belajar menjadi pemimpin. Bukan pemimpin biasa, tapi pemimpin untuk menegakkan Islam di 34! Bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Bersyukur bisa menjadi bagian dari ROHIS 34 2015!

Bersama ROHIS 34 2015 memang banyak dinamika. Saya sudah ‘kenyang’ dicurhatin. Hehe… Namun demikian, saya melihat banyak kekuatan di sana. Ikhwan dan akhwat yang kompak namun berusaha tetap menjaga adab dalam berinteraksi. Ada usaha untuk berinovasi dalam membuat program, misalnya aplikasi android timeschedule ROHIS, training wirausaha, lomba desain poster untuk publikasi Tafakur Alam, menghidupkan kembali nasyid, daan sepertinya masih banyak lagi (maaf gak hafal^^). Ada juga semangat untuk mengisi ruhiyah dalam #Melingkar setiap pekannya…

Selain itu, beberapa hal ‘spesial’ yang saya dapatkan terkait kebersamaan saya dengan ROHIS 34 2015. Pertama, terkait passion saya dalam Dakwah Sekolah. Saya sudah lebih dari tiga tahun bantu-bantu di 34, tapi baru merasa mendapat passion itu di tahun 2012 sampai sekarang. Dan passion itu saya dapatkan bersama ROHIS 34 2015! Kedua, sadar akan kesalahan yang lalu. Saya menyadari kalau di tahun-tahun yang lalu ada kesalahan yang saya lakukan, yaitu tidak berusaha disiplin untuk meluangkan waktu berkontribusi maksimal di 34. Dan Allah memberikan saya kesempatan untuk memperbaikinya bersama ROHIS 34 2015. Allahu Akbar!

IMG_6425420153022

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk ROHIS 34 2015. Semoga Allah menerima semua amal kebaikan kalian dan memaafkan serta memperbaiki hal-hal yang masih kurang. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk tetap berkontribusi walau sudah ‘lulus’ jadi BPH dan staf di periode ini. Kembali lagi untuk membantu adik-adiknya menegakkan Islam di 34. Dan satu hal, tetap istiqomah #Melingkar setiap pekan, jangan putus seumur hidup…Semoga kebersamaan kita abadi hingga di surgaNya. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin…

Lillah… Fillah… Billah…
Sepenuh cinta,
@ayu_np
ROHIS 34 2007

 

Membangun Tangga-Tangga Menuju Surga Desember 7, 2013

Filed under: cerita da'wah sekolah,Hikmah — ayunp @ 3:06 am
Tags: ,

Wahai jiwa yang tenang!

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu

dan masuklah ke dalam surgaKu

(al Fajr 27-30)

Kudengar ayat itu dari murobbiyah pertamaku di waktu SMP. Seorang mahasiswi tingkat pertama yang rajin sekali berbagi di hadapanku pada hari Jumat. Pembawaannya yang ceria dan suka bercerita membuatku jatuh cinta padanya. Kefasihannya dalam membaca Alquran adalah sumber kerinduan untuk berjumpa dengannya.

Dialah yang mengajakku untuk menunaikan dua ibadah sunnah yang utama, Dhuha dan Tahajjud. Dialah yang mengingatkanku tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Dialah yang tak malu-malu menasihatiku untuk tidak berpacaran. Dialah yang menuntunku untuk menjauhi hal-hal yang meragukan.

Seluruh ajakan, pengingatan, nasihat, dan tuntunan yang telah dia berikan membuatku mengerti tugasku yang sebenarnya di dunia ini. Tugas yang telah melekat sejak dulu hingga kelak aku menghadapNya: menjadi hamba Allah yang berjiwa tenang. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu telah kubangun melalui lisan dan perilakunya!

Ternyata, pembangunan tangga-tangga menuju surga tak berhenti. Terus berlanjut hingga aku berada di SMA. Murobbiyahku berganti. Dia amat berbeda dengan murobbiyahku yang dulu. Lebih tegas, namun tetap lembut. Lagi-lagi, kefasihannya dalam membaca Alquran membuatku kagum. Kehadirannya dalam pertemuan pekanan nyaris tak pernah tergantikan. Padahal, dia juga seorang aktivis dakwah kampus yang padat dengan berbagai kesibukan dan agenda.

Pada sebuah kesempatan, dia mengulas ayat ini:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

(at Taubah 24)

Seketika kutersentak. Baru kutahu, ternyata cinta kepada Allah, Rasul, dan Jihad harus didahulukan daripada cinta-cinta yang lain. Alhamdulillah, aku menyadari itu lewat perantaraannya.

Melalui lisannya, dia menyemangatiku untuk mulai berdakwah di jalanNya. Melalui teladannya, dia mengajakku untuk menjadi da’iyah yang profesional dan berwawasan luas. Melalui semangatnya, dia menyeruku untuk teguh menapaki jalan dakwah ini.

Lisannya, teladannya, semangatnya adalah bahan untuk membangun pondasi kecintaanku terhadap jalan dakwah. Hingga saat ini, aku masih mencintai jalan ini dan berusaha untuk teguh menapakinya meski tertatih. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu semakin meninggi lantaran seruanmu kepadaku untuk meninggikan kalimat Ilahi!

 

Antara Senyum, Sayang, dan Nama Panjang Maret 31, 2013

Filed under: catatan harian,cerita da'wah sekolah — ayunp @ 2:40 pm
Tags: ,

Nama, sebuah rangkaian huruf penuh makna yang menjadi pengikat perkenalan antara dua insan. Dengan nama, seorang insan telah memperoleh identitas diri. Dengan nama, seorang insan tak akan asing bergaul dengan insan lain. Lebih jauh, dengan nama, seorang insan bahkan dapat menyentuh hati insan lain.

Pernah dengar kisah Hasan al Banna, seorang da’i asal Mesir yang hilir mudik menyeru manusia, mulai dari warung kopi hingga pelosok kampung? Salah satu kehebatannya adalah mampu menghafal nama objek dakwahnya dengan baik hingga membuat mereka terperangah. Pernah tahu kisah seorang guru agama di sebuah sekolah menengah atas? Beliau mampu menghafal seluruh nama murid di kelas yang diajarnya dan kemudian menyebut nama-nama itu di setiap munajat malamnya secara berurut!

Itulah ajaibnya sebuah nama yang dihafal dan diucapkan dengan sepenuh hati. Tersenyumkah bibir ini jika bertemu dengan para penghafal dan pengucap nama-nama itu?

Hampir satu tahun ini, saya diamanahkan untuk mengisi mentoring keislaman adik-adik kelas saya di  sebuah sekolah menengah atas yang terletak di selatan Jakarta. Jarak umur saya dengan adik-adik itu cukup jauh, kurang lebih delapan tahun. Oleh karena itu, saya harus pandai-pandai ‘merebut’ hati mereka. Langkah pertama yang saya lakukan adalah  mulai menghafal nama panggilan mereka satu per satu  ketika pertama kali bertemu. Agar ingat, saya langsung menggunakan nama-nama itu untuk memanggil mereka. Selain itu, saya juga membaca biodata mereka. Satu hal yang saya perhatikan dalam biodata itu adalah nama panjang mereka. Setelah itu, saya mulai menghafal nama panjang mereka masing-masing.

Berkaitan dengan nama-nama itu, ada sebuah peristiwa yang sangat berkesan bagi saya. Suatu hari, ketika mentoring belum dimulai, saya secara spontan memanggil satu per satu mereka yang telah hadir dengan nama panjangnya masing-masing. Hal ini saya lakukan tanpa rencana sebelumnya dan bertujuan untuk mencairkan suasanan saja agar terasa lebih akrab. Ternyata, ‘keisengan’ saya ini sepertinya menimbulkan kesan di hati mereka. Setelah selesai saya menyebutkan nama mereka semua, ada seorang adik yang bertanya, “Kakak, sayang ya sama kita?” Dengan tersipu malu, saya tersenyum simpul sembari berkata,”Iya Dik, Kakak sayang kalian…” Saat itu, saya merasa lega. Mereka semua akhirnya ikut tersenyum juga.

Subhanallah, dengan menghafal nama, senyum itu hadir dan sayang itu terungkap dalam kata.

Terima kasih adik-adikku, semoga senyum dan sayang kita abadi…

*seperti dituliskan untuk Lomba Menulis ‘Senyum Simpul’ Majalah Ummi

 

Awalnya Kubertanya Oktober 5, 2012

Filed under: cerita da'wah sekolah,Hikmah,Puisi — ayunp @ 4:32 pm
Tags:

Awalnya kubertanya

Mengapa harus tetap berada di sini?

Akhirnya kutemukan jawaban

Aku harus berbagi nikmat hidayah ini padamu

Awalnya kubertanya

Mengapa harus  tetap tinggal di sini?

Akhirnya kutemukan jawaban

Aku harus menjadi pemandu bagimu untuk menempuh langkah-langkah Ilahi ini

Awalnya kubertanya

Mengapa harus tetap teguh di sini?

Aku harus bersamamu, barang sejenak saja

Dengan kau, generasi rabbani masa depan

Moga yang sejenak ini

Bisa mengantarkan kita ke nikmat abadi nanti

Aamiin

 

Gak Mau Delivery KFC lagi? Agustus 12, 2012

Filed under: cerita da'wah sekolah — ayunp @ 10:52 am
Tags:

Malam Bina Iman dan Taqwa SMPN 85 Jakarta adalah sebuah event yang tidak pernah saya lewatkan dua tahun Ramadhan ini. Tahun lalu, ada sebuah peristiwa yang membuat saya geli. Ada sebagian teman-teman yang ‘keukeuh’ mau delivery KFC tengah malem! Awalnya mereka sendiri yang mau telepon. Tapi karena mereka ‘meracau’ ga jelas dan mas-mas di KFC nya pada bingung, akhirnya saya yang ambil alih. “Sini kakak yang ngomong! Kamu tulis di papan tulis apa yang mau dipesen!”

Memang nasib ya…saya pula yang mengkoordinir uang mereka dan yang nungguin si Mas-mas deliverynya datang. Cuman satu yang beda: saya ga ikut makan.hehe

Nah, di mabit tahun ini saya sekamar sama sebagian mereka. Spontan, saya langsung bilang,”Dek, tahun lalu ikut mabit kan? Masih inget kakak nggak?” Mereka jawab, “Iya Kak masih inget. Yang delivery KFC itu kan?” Lalu saya ledekin deh mereka,”Gak mau Delivery KFC lagi nih?” Mereka diem aja tuh..hehe