Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Surat dari Pak Anies Baswedan, Maret 2012 Oktober 14, 2012

Filed under: Catatan Perjalanan,Hikmah — ayunp @ 3:12 pm
Tags:

Ketika ingin menghapus surat elektronik yang ada di gmail, saya teringat dengan surat dari Pak Anies Baswedan yang dikirimkan pada tanggal 5 Maret 2012. Surat ini memberitahukan kalau saya tak lolos Direct Assesment untuk menjadi Pengajar Muda. Ketika membaca surat ini untuk kedua kalinya, saya sempat menangis. Saya terharu dengan encouragement yang diberikan!

Ayu Novita Pramesti yang baik,
Semoga surat ini menemui Ayu Novita Pramesti dalam keadaan sehat dan selalu bersemangat. Alhamdulillah, kami bersyukur bahwa proses rekrutmen telah selesai dan berjalan dengan baik. Tahapan seleksi kemarin merupakan pengalaman yang luar biasa bagi seluruh tim. Ayu Novita Pramesti dan kawan-kawan calon Pengajar Muda datang membawa nuansa baru: muda, cerdas, tangguh, idealis yang realis, berkarakter dan siap berjuang di pelosok Indonesia. Kami bersyukur dan bersyukur bisa bersentuhan dengan nuansa baru, dengan semangat anak-anak muda seperti Ayu Novita Pramesti.
Kehadiran Ayu Novita Pramesti meyakinkan kita untuk makin optimis dalam melihat masa depan republik ini. Kita semua bangga menyaksikan  para calon Pengajar Muda. Kita melihat wajah masa depan, wajah Indonesia kita. Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, lebih makmur, dan lebih adil. Disana, kelak Ayu Novita Pramesti dan teman-teman segenerasi Ayu Novita Pramesti akan menjadi pilar utama kemajuan.  Bentangkanlah keyakinan bahwa peluang untuk maju dan berkembang sangatlah luas.
Kebanggaan dan kebahagian itu menandai betapa sulitnya tim seleksi membuat keputusan. Tim seleksi benar-benar harus kerja ekstra.  Tim seleksi yang dibekali dengan alat-alat penilai obyektif, berpengalaman melakukan seleksi secara profesional itu dihadapkan dengan realita yang selama ini sering tertutup. Di seleksi tahap kedua kemarin, berderet anak-anak muda pejuang, menyatakan siap untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Promotor kemajuan yang selama ini tidak terlihat. Ayu Novita Pramesti dan teman-teman calon Pengajar Muda lain adalah realita luar biasa dari Indonesia, Ayu Novita Pramesti adalah aset bagi Republik tercinta ini. Rasanya  ingin memberi peluang untuk semua berangkat menjadi Pengajar Muda. Tapi kenyataan menghalangi keinginan kita itu. Dan dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwaAyu Novita Pramesti belum berkesempatan untuk menjadi Pengajar Muda. 
Kabar ini mungkin terasa berat bagi Ayu Novita Pramesti. Kamipun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya mengambil keputusan yang berat ini. Tapi saya yakin sekali, Ayu Novita Pramesti memiliki potensi yang sangat besar, Ayu Novita Pramesti adalah aset muda yang membanggakan. Saya percaya Universitas  Indonesia sebagai almamater dan orang tua Ayu Novita Pramesti pasti bangga melihat kemajuan dan potensi yang Ayu Novita Pramesti miliki sekarang. Ayu Novita Pramesti yang tetap besar hati dan tetap optimis, itu bayangan saya saat Ayu Novita Pramesti membaca surat ini.
InsyaAllah, dengan semua potensi itu Ayu Novita Pramesti akan leluasa mendapatkan kesempatan lain dan tetap akan meraih masa depan yang gemilang sambil tetap mengabdi untuk kemajuan bangsa kita tercinta.

Kamipun tidak ingin terputus komunikasi hanya karena Ayu Novita Pramesti meneruskan kegiatan Ayu Novita Pramesti lewat jalur lain. Saya berharap sekali, keberlanjutan interaksi kita dirawat. Saya berharap Ayu Novita Pramesti tetap meneruskan bertukar gagasan baik lewat facebook maupun kegiatan-kegiatan bersama yang lain. Kami merasa bahwa Ayu Novita Pramesti bisa tetap berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Gerakan Indonesia Mengajar ingin sekali mengembangkan semangat belajar pada semua. Saya membayangkan dan berharap Ayu Novita Pramesti tetap bisa turut serta dalam kegiatan-kegiatan itu.

Selamat berkarya dan berjuang. Saya berharap kita bisa terus berkomunikasi. Dan, suatu saat nanti kita bersama akan menyaksikan kisah sukses dan kisah pengabdian yang membanggakan dari Ayu Novita Pramesti.
Salam hangat,

 
Anies Baswedan

Iklan
 

Perjalanan Pertamaku ke Luar Negeri: Singapura, Desember 1998 Mei 21, 2012

Filed under: Catatan Perjalanan — ayunp @ 2:54 pm

Perjalananku ini bukanlah perjalanan yang baru.Hampir 14 tahun yang lalu aku melakukan perjalanan ini. Baru sekarang aku menuliskannya karena  ketika itu aku masih seorang bocah kelas 4 SD yang belum mengerti dunia tulis-menulis. Perjalanan ini cukup bersejarah buatku karena inilah pertama kalinya aku menjejakkan kaki di luar negeri.

Ketika itu bulan Desember, bertepatan juga dengan bulan Ramadhan. Aku sekeluarga, kecuali kakakku yang pertama, berangkat ke Singapura untuk menghadiri wisuda program master ayahku. Kala orang beramai-ramai umroh di bulan suci itu, aku malah pergi ke sebuah negeri mungil yang terkenal dengan kedisiplinan penghuninya.

Antara Changi, Orchard Road, dan Window Shopping

Pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Changi , aku terkagum-kagum. Amat berbeda dengan Soekarno-Hatta yang masih ‘amburadul’. Ketika menunggu taksi di depan bandara untuk menuju hotel Crowne Plaza, para calon penumpang mengantre dengan sabar. Tak ada desak-desakkan. Tak ada kesemrawutan seperti di negeri sendiri.

Kekagumanku bertambah ketika telah sampai di hotel yang berada di tengah-tengah salah satu kawasan tersibuk di dunia, Orchard Road. Lalu-lalang orang di Orchard Road terlihat sangat jelas dari lift kapsul transparan yang aku naiki. Tertib dan teratur, itulah suasana yang aku lihat.

Di Orchard Road, banyak sekali pusat perbelanjaan. Ada dua yang terkenal, Lucky Plaza dan Sogo. Karena keluargaku suka sekali ‘window shopping’, kedua tempat itu tak luput dikunjungi. Bahkan ‘window shopping’ berlanjut hingga ke Suntec City. Aku harus naik MRT untuk menuju ke sana.

Sentosa Island is Cable Car!

Perjalanan yang cukup mengasyikkan adalah ketika berwisata ke Sentosa Island. Satu yang aku tunggu, naik kereta gantung (cable car). Aku begitu takjub karena ketika itu di negeriku belum ada yang seperti itu. Naik kereta gantung di Taman Mini pun aku belum pernah. Sungguh, ini pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Namun sayang, aku lupa dimana menaruh cinderamata berupa gantungan kunci berbentuk cable car itu…

Waktu Wisuda Tiba

Kini tibalah waktu wisuda ayahku. Di sebuah ruangan hotel yang tak terlalu besar, upacara wisuda berlangsung khidmat. Aku bertemu tokoh-tokoh penting ketika itu, yaitu Pak Agum Gumelar dan Pak Hamzah Haz. Satu orang yang membuatku terkesan, yaitu Pak Sukiyat, seorang Tionghoa pemilik Es Teler 77. Lulus SMP pun tidak namun berhasil meraih Honoris Causa!

Ditegur Penjaga Toilet

Di toilet umum sebuah pusat perbelanjaan, aku mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Setelah buang hajat, aku langsung ke luar dari toilet. Namun tiba-tiba seorang wanita India yang menjaga toilet menegurku. Dengan bahasa yang tak ku mengerti, dia menyuruhku untuk menyiram kembali kloset yang baru saja selesai ku pakai. O, rupanya aku belum bersih benar menyiramnya 🙂
Sekali lagi, aku belajar arti kebersihan di negeri ini dari seorang penjaga toilet.

Itulah sekelumit catatan perjalananku. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali menjelajahi negeri Singa ini…