Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

 

Three Days with Raushan Juli 23, 2016

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 6:24 am
Tags: , , , , , ,

Selasa, 19 Juli 2016

Di H-1 menghadapi tahun ajaran baru, saya sempat galau. Di tengah kegalauan itu, ibu kepala sekolah menyuruh saya untuk melaksanakan sebuah tugas.  “Bu Ayu, besok tolong dampingi Raushan untuk lomba debat bahasa Inggris tingkat DKI ya di SMAUHT*. Berangkat jam 6 dari sekolah karena lombanya akan dimulai jam 07.30.”

Oke, berarti dari rumah saya harus berangkat jam 5.30 supaya tidak terlambat 🙂

“Tapi, Raushannya sudah tahu Bu kalau saya dampingi?” tanya saya.

“Oh, nanti biar guru bahasa Inggrisnya yang memberi tahu.”

Menjelang jam 7  malam, tiba-tiba telepon pintar saya berbunyi. Nomor depannya 0888 dan belum tersimpan di telepon saya. Saya kemudian mengangkatnya dan ada suara anak laki-laki di sana. Dan benar dugaan saya, itu Raushan yang menelepon. Dia mengonfirmasi apakah benar saya menjadi guru pendampingnya ketika lomba debat besok.

Rabu, 20 Juli 2016

Saya berangkat dari rumah jam 05.30 dan sampai di sekolah sekitar jam 05.50. Saya berusaha agar bisa tiba lebih awal sebelum Raushan sehingga dia tidak perlu menunggu. Setelah tiba di sekolah, saya memarkir motor saya, mentab kartu kehadiran, dan kemudian segera menghubungi Pak Ubang, supir sekolah yang akan mengantar ke SMAUHT. Menjelang jam 6, Raushan belum datang. Saya kemudian berinisiatif untuk meneleponnya. Ternyata, dia sudah hampir sampai di sekolah.

Sembari menunggu dia datang, saya bersama Pak Ubang segera naik ke mobil sekolah dan menunggunya di tempat parkir. Selang beberapa menit, Raushan datang juga. Dia ternyata diantar oleh ibunya. Saya kemudian keluar dari mobil dan bersalaman dengan ibunya.

“Ibu, untuk besok bagaimana?”tanya Ibunya Raushan

“Oh, Raushan masuk sekolah seperti biasa bu.”

“Bukannya lombanya 3 hari bu?”

“Oh, iya ya bu…” jawab saya sambil agak kebingungan

“Tolong titip anak saya ya… ”

Waduh, saya baru tahu kalau ternyata lombanya tiga hari, dari Rabu sampai Jumat. Ibu kepsek sepertinya lupa menyampaikannya kepada saya. Baiklah 🙂

Saya benar-benar melaksanakan anjuran Bapak Mendikbud di #HariPertamaSekolah untuk mengantar anak, tapi yang diantar adalah anak didik bukan anak kandung sendiri 🙂

Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, saya dan Raushan segera pamit. Setelah saya bersalaman, giliran Raushan yang mencium tangan ibunya. “Jangan lupa doanya ya, Nak!”pesan ibu kepada anak laki-lakinya itu.

Saya dan Raushan naik ke mobil sekolah. Di perjalanan, dia menjelaskan kepada saya kalau lomba pada hari ini diberitahukannya mendadak sekali, baru pada hari Selasa. Padahal, ini lombanya tingkat provinsi. Untungnya, saya masih ingat ketika dia mengikuti lomba debat di tingkat kota.

“Kamu dapat poin tertinggi kan waktu lomba di tingkat kota?”

“Iya, Bu.”

“Yang  dapat poin kedua perempuan kan?”

“Iya, dari (SMA) Tirta Marta. Yang ketiga laki-laki dari (SMA) 47.

Setelah sedikit membahas hasil lomba, saya memberitahukan kepadanya guru-guru yang akan mengajarnya di kelas XII.

“Wah, kamu beruntung nih tahu duluan dibandingkan teman-teman kamu!”

“Iya Bu, tenang aja saya nggak akan nyebarin kok.”

Sedikit cerita, Raushan itu murid yang saya ajar waktu kelas XI tahun ajaran lalu. Dia anak IPA, tetapi tetap antusias ketika belajar mata pelajaran IPS. Dia cukup aktif dan perhatian di pelajaran saya. Nilainya juga meningkat di semester kedua. Saya ingat, pernah di satu pertemuan yang membahas tentang organisasi internasional, dia memberitahukan kepada saya bahwa Inggris berencana keluar dari Uni Eropa. Kalau bukan dia yang memberi tahu, saya mungkin tidak akan mengupdate berita tersebut. Rencana itu benar-benar terjadi setelah  lebih banyak rakyat Inggris yang memilih opsi keluar dari Uni Eropa pada referendum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di kemudian hari, opsi terbanyak itu dikenal dengan istilah #Brexit.

Oke, kita kembali ke obrolan Raushan dengan saya.

“Bu, kata teman saya yang sudah di sana (SMAUHT), hari ini hanya technical meeting saja. Lombanya baru mulai besok.”

“Oh ya?”

“Iya Bu, nanti kita lihat aja di sana.”

Setelah mencari-cari keberadaan SMAUHT karena Pak Ubang sempat nyasar, akhirnya sampai juga di sana, sekitar jam 7.15. Dan ternyata benar, hari ini lomba debatnya belum dimulai.

Sebelum technical meeting ada acara pembukaan lomba oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan pembukaan ini sempat ngaret sampai jam 08.30. Ya, harap maklum karena penyelenggaranya dinas 🙂

Setelah acara pembukaan dan technical meeting selesai, Raushan berdiskusi dengan teman-temannya dari sekolah lain untuk mempersiapkan materi lomba debat esok hari. Saya memberinya waktu sampai jam 12 siang. Sembari menunggu, saya juga mengobrol dengan guru dari sekolah lain.

Saat sedang mengobrol, saya membuka aplikasi line saya dan mendapat pesan dari Raushan. Dia memberitahukan kepada saya kalau sedang mencari tempat foto kopi di luar SMAUHT. Saya mengizinkan dan tetap mengingatkannya untuk segera kembali ke sekolah setelah selesai foto kopi.

Jam 12 lebih sedikit, Raushan kembali bersama teman-temannya. Saya cukup terkejut karena ternyata dia mengizinkan teman-temannya untuk memperbanyak buku petunjuk lomba debat yang dia miliki. Anak yang baik. Dia tidak segan untuk berbagi kepada teman-temannya yang notabene adalah rivalnya dalam lomba.

Di perjalanan pulang, saya mengajaknya ngobrol kembali. Kalau diem-dieman, asli nggak enak banget. Saya lah yang sering membuka obrolan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, saya dan dia lebih banyak mengobrol tentang lomba debat bersama seorang ibu guru yang menumpang mobil sekolah. Beliau adalah panitia lomba debat tersebut. Sebuah keuntungan buat Raushan karena dia berdiskusi lebih jauh soal lomba yang akan dimulai keesokan harinya.

Setelah ibu guru itu turun, saya ngobrol dengannya lagi.

“Rumah kamu dimana?”

“Dekat kok Bu, di daerah Pondok Labu. Depan kompleks timah.”

“Oh, yang di deketnya lagi di bangun tol ya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu biasanya dijemput atau pulang sendiri.”

“Saya pulang sendiri. Naik angkot.”

Wuih, anti mainstream!  Karena anak-anak di sekolah saya biasanya diantar sama supirnya naik mobil.

“Hari ini jam terakhir ngapain Bu?”

“Masih belajar sih, tapi kalau kamu mau pulang nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa Bu, saya mau ikut belajar aja.”

Nanggung, Nak…bentar lagi juga pulang. Batin saya.

“Ya sudah, nanti ibu lihatin jadwalnya di ruang guru.”

Dasar anak suka belajar 🙂

Kamis, 21 Juli 2016

Hari ini, lomba dimulai. Seperti kemarin, Raushan diantar lagi oleh ibunya. Dia awalnya sempat bingung mencari saya dan Pak Ubang karena kami agak terlambat untuk menuju parkiran.

Selama di perjalanan, saya lebih banyak diam. Tidak terlalu banyak bicara. Raushan pun demikian.

Alhamdulillah, sampai di SMAUHT tidak terlambat walaupun jalannya agak jauh sedikit karena jalan yang dilewati kemarin ada yang ditutup. Sampai di sana, Raushan memilih untuk berada di luar tempat lomba dulu. Saat itu, saya mulai membuka obrolan dengannya.

“Gimana persiapannya? Udah buat prediksi sama teman-teman kan tentang motion debat yang akan keluar?

“Iya, udah Bu.”

“Berarti tinggal perkuat kontennya ya? lanjut saya.

“Kalau konten, nanti Bu tergantung motionnya apa yang dikasih.”

Di hari H lomba, saya tidak terlalu banyak bicara dengannya. Dia tampak asyik ngobrol dan bercengkrama dengan teman-temannya dari sekolah lain. Dia dan timnya tampil di babak kelima. Sembari menunggu, mereka menonton teman-teman lain yang berdebat di empat babak sebelumnya. Dia dan timnya baru tampil setelah istirahat makan siang.

Bahkan, saya mengingatkannya agar melaksanakan salat zuhur melalui line chat sajaKata-katanya saya benar-benar pilih agar tidak terkesan menyuruh. Tapi sayang, line chat nya hanya diread  dan sepertinya hatinya belum tergerak untuk menuju ke masjid sekolah

😦

Alhamdulillah,  dia tampil di babak kelima dengan sangat baik. Berperan sebagai pembicara kedua yang  berhasil melakukan satu kali interupsi dan juga menyampaikan reply speech. Setelah menunggu sepuluh menit, hasil babak pertama hingga babak kelima diumumkan oleh juri. Dan dia berhasil menempati peringkat ketujuh dari tiga puluh pembicara. Dengan demikian, dia termasuk 12 pembicara terbaik yang akan masuk ke babak selanjutnya. Hebat!

Di babak selanjutnya, dia juga tampil sangat baik. Kestabilan performanya terjaga. Ketika itu, saya merasa yakin dia akan masuk menjadi 6 pembicara terbaik. Bahkan, saya juga berharap dia bisa masuk menjadi 3 pembicara terbaik. Tetapi keyakinan dan harapan saya itu masih harus dibuktikan pada keesokan hari.

Di perjalanan pulang, saya juga lebih banyak diam. Namun dia sedikit berdiskusi tentang lomba debat yang  baru selesai jam 5 sore  tadi dengan ibu guru yang ikut menebeng lagi hari ini. Setelah ibu guru itu turun, saya memulai lagi pembicaraan dengannya.

How do you feel today?”

(senyum-senyum saja tidak menjawab)

“Oh iya, SDmu di Cikal ya?”

“Iya bu.”

“Kalo SMP?”

“Di Lazuardi.”

“Oh, yang di Jalan Margasatwa itu ya?”

“Iya bu.”

“Kan kamu pernah di New York. Terus bagaimana sekolahnya?”

Ketika saya bertanya itu, dia bercerita agak panjang. Saya agak lupa detailnya. Tapi yang jelas ternyata dia lahir di Belanda, kemudian sempat berpindah ke Swiss dan New York. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia sampai sekarang. Ya, risiko anak diplomat…

“Tapi nanti kuliah di Indonesia kan?”

“Iya bu, saya kan mau nyebrang ke (fakultas) hukum. Kalau S-1 di luar mana bisa…Beberapa bulan lagi ayah, ibu, dan adik saya mau pindah ke New York karena ditempatkan di KJRI sana. Tapi saya nggak ikut karena mau kuliah di sini.”

“Ok, kalau S-2 ya baru kamu di luar negeri ya…”

“Iya Bu…”

Saya juga sempat menyinggung sedikit tentang lomba debat.

“Kalau kamu masuk 3 besar, nanti finalnya di Palu.”

“Palu? Itu dimana?”

“Di Sulawesi Tengah.”

“Semoga bisa masuk tiga besar ya Bu.”

“Iya, ibu selalu berdoa kok supaya kamu bisa.”

Ketika maghrib tiba, kamipun sampai di sekolah.

Sebelum turun dari mobil, Raushan sempat memastikan lagi kepada saya.

“Besok kita berangkat jam 6.30 kan?”Sama ibu lagi kan ke sananya?”

“Iya Nak…”

Jumat, 22 Juli 2016

Raushan tiba lebih dulu dari saya. Dia tampak menunggu sambil berdiri di dekat parkiran motor. Saya melihatnya lebih dulu dan langsung saya panggil. Akhirnya dia menghampiri saya menuju parkiran motor.

“Maaf, Ibu baru sampai.”

“Nggak apa Bu. Kalau berangkatnya jam 6 saya malah nggak ada yang ngantar.”

Dia akhirnya menuju mobil sekolah setelah bersalaman dengan beberapa guru yang ditemuinya.

Di perjalanan berangkat,  saya juga lebih banyak diam. Saya hanya bertanya satu pertanyaan.

“Kemarin kamu sampai rumah jam berapa?”

“Jam 6.30, Bu. Macet.”

Pak Ubang juga menimpali.

“Saya baru sampai rumah jam 8.00.Macet banget di Depok!”

Ketika sampai di SMAUHT, Raushan agak gelisah. Dia tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir saja. Sepertinya, dia agak nervous sebelum mendengar pengumuman 6 pembicara terbaik yang akan maju ke babak final. Ada temannya yang mengingatkan supaya dia jangan terlalu nervous.

Akhirnya doa saya terkabul. Raushan berhasil masuk menjadi enam pembicara terbaik sehingga berhak masuk ke babak final. Motion di babak final agak sensitif buat saya karena membahas tentang pro-kontra penerapan syariat Islam di sebuah negara. Raushan berada di affirmative team yang berperan sebagai pemerintah yang tidak setuju terhadap penerapan syariat Islam di sebuah negara.

Sebelum maju, saya sempat berbisik kepadanya,

Good Luck, Raushan!”

Thank you, Miss” balasnya.

Raushan tetap tampil dengan performa terbaik. Bahkan ada beberapa teman dari sekolah lain yang merekam speechnya. Raushan menjelaskan dengan sangat baik mengenai mengapa pemerintah perlu melarang penerapan syariat Islam dengan disertai contoh negara-negara Islam yang melakukan ‘penyimpangan’. Bahkan dia sempat mengakhiri penyampaian contoh-contoh itu dengan frasa yang menyindir,’ What a wonderful country!’.

Namun dalam hati saya agak miris juga. He, ini anak sekolah Islam kenapa bisa ngomong begini 🙂 Tapi ya sudah, karena seorang debaters harus ‘bermain’ sesuai dengan peran yang diperolehnya. Di perjalanan pulang nanti, saya berniat untuk menanyakan pendapatnya sebagai pribadi mengenai syariat Islam.

Di dalam hati, saya hanya bergumam sendiri..Ya, kalau syariat Islam diperdebatkan, pihak yang antisyariat, cepat atau lambat akan kalah deh. Sehebat apapun argumen untuk menentangnya, syariat Islam yang langsung diciptakan oleh Allah akan selalu tampak kesempurnaannya. Di situ uniknya Islam. Semakin ditentang, semakin dicaci, semakin tampak cahayaNya.

Saya langsung teringat ayat ini

Ash Shaff 8

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Bahkan, argumen Raushan langsung dicounter  oleh Hafizh dengan berapi-api. Hafizh adalah pembicara yang ada di negative team yang berperan sebagai rakyat yang mendukung penerapan syariat Islam. Uniknya, setelah debat selesai, mereka berdua langsung bersalaman dan Hafizh berkata kepada Raushan,” What a great debate!”

Singkat cerita (karena udah malem nih ), Raushan akhirnya mendapat peringkat kelima sehingga dia tidak berhasil meraih posisi tiga besar. Alhamdulillah, dia tidak merasa kecewa karena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran. Dan alhamdulillahnya lagi, dia hari ini pergi salat jumat tanpa perlu saya ingatkan. Di perjalanan pulang ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya, dia berpandangan cukup positif terhadap syariat Islam. Satu hal lagi yang juga menggembirakan, dia ternyata  suka membaca buku apa saja karena pengaruh dari ayahnya.

Sebelum sampai di sekolah, dia bertanya kepada saya, “Bu, hari ini  ngapain di jam terakhir?”

“Oh, cuma nonton pensi aja dari anak kelas X. Nggak belajar.”

“Ya udah deh, saya mau pulang aja…”

What a good boy ! Nah gitu, kalau udah nanggung jamnya, pulang aja ke rumah. Nggak usah ‘kerajinan’ deh 🙂

 

Nice to be with you in these 3 days, Uci*.

Stay hungry, stay foolish.

Never stop learning!

IMG_20160722_233825

 

*SMAUHT: Sekolah Menengah Atas Unggulan Husni Thamrin, sebuah sekolah negeri yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur

*Uci: panggilan Raushan di  keluarganya

 

Ramadhan Delivery Juni 6, 2015

Filed under: catatan harian — ayunp @ 2:08 pm
Tags:

buku ramadan

Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) di SMPN 85 Jakarta adalah sebuah acara yang tidak pernah saya lewatkan dua Ramadhan yang lalu, tepatnya tahun 2011 dan tahun 2012 .  Di Tahun 2011, ada sebuah peristiwa yang membuat saya geli. Ada sebagian anak-anak yang ‘keukeuh’ mau delivery makanan dari sebuah restoran cepat saji di tengah malam! Awalnya, mereka sendiri yang telepon ke restoran itu. Saat menelepon, mereka ‘meracau’ tidak jelas sehingga mas-mas pelayan resto yang menerima telepon menjadi bingung. “Sini kakak yang ngomong! Kalian tulis makanan apa yang mau dipesan!” tegas saya.

Setelah mengetahui berapa harga pesanan yang harus dibayar, saya mengumpulkan uang mereka untuk membayar pesanan itu. Saya pula yang menunggu pesanan itu datang. Sayangnya, saya tidak ikutan makan lho! 🙂

Nah, di MABIT selanjutnya pada tahun 2012, saya sekamar lagi dengan sebagian anak-anak itu. Spontan, saya langsung bilang,”Dek, tahun lalu ikut mabit kan? Masih ingat kakak nggak?” Mereka jawab, “Iya Kak masih ingat. Yang delivery itu kan?” Lalu saya ledekin deh mereka,”Nggak mau delivery lagi nih?” Mereka diam aja tuh..hehe.

tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan in Love

 

Kemarin Kita Belajar Desember 31, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 11:46 am
Tags: ,

Kemarin kita belajar

bahwa makan  bukan aktivitas biasa

ada ibadah di dalamnya

ada pengenalan terhadap kuasaNya dan kasih sayangNya

yang harus selalu kita ingat

makan itu untuk hidup

bukan hidup untuk makan

Kemarin kita belajar

untuk menghasilkan sebuah karya

butuh koordinasi dan kerja sama

rela berbagi tugas

sesuai kemampuan yang ada

1419952386560

Kemarin kita belajar

kalau menginginkan sesuatu

tak cukup hanya berkata dan berkhayal

harus bergerak

melakukan yang kita mau

selama kita bisa

Kemarin kita belajar

bagaimana caranya

menolak cinta yang tak perlu

melupakan cinta yang sudah lewat

Kemarin kita belajar

Sekarang kita terus belajar

Nanti kita tetap belajar

Tak boleh berhenti

sampai akhir usia

1419952399611

 

Bukan… Desember 25, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 2:55 pm
Tags: ,

Bukan dijebak

tapi dikenalkan perlahan

pada medan yang lebih luas

pada amal yang lebih beragam

Bukan ditipu

tapi dikenalkan bertahap

agar mengerti

agar tidak kaget

Bukan dikendalikan

tapi diarahkan

agar mengerti

harus jalan ke mana

harus bagaimana melangkah

Bukan dikekang

tapi ditunjukkan

mana yang benar

mana yang salah

Bukan diasingkan

tapi dikondisikan

sebelum dikeluarkan

di segala medan perjuangan

 

Kado Sederhana untuk Mama September 22, 2014

Filed under: catatan harian — ayunp @ 3:37 pm
Tags: , ,

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
(Luqman:14)

Mungkin saya bukan sosok yang romantis dalam memberi hadiah.He, maksudnya kalau memberi hadiah lebih suka yang simple-simple aja. Ya, bahasa mudahnya, gak mau ribet- ribet laah. Yang penting ada bentuk perhatian walaupun sederhana.

Besok, 23 September, Mama saya berulang tahun yang ke-67. Awalnya, saya mau memberikan mug yang ada ilustrasi foto beliau. Hmmm, rupanya rencana itu belum bisa terwujud sekarang. Soalnya, desain ilustrasinya belum jadi. Maklum, desainernya masih anak sekolah dan lagi padet-padetnya sama tugas dan kegiatan. Padahal, saya udah pesan jauh-jauh hari. Gak apa, saya maklum kok 🙂

Alhasil, hari ini, saya jadi bingung mau kasih apa buat kado mama besok. Daaan, akhirnya kepikiran mau kasih coklat aja. Harganya dipilih yang sedikit agak mahal, sekitar 20,000an. Insya Allah, mama suka kok 🙂

Saya sadaaar betul, ini pemberian yang sangat sangat sederhana. Gak akan bisa membalas kebaikan yang sudah diberikan Mama kepada saya. Tapi..ini perhatian kecil yang bisa saya berikan.

Walah, rasanya mah udah berkaca-kaca deh kalau ingat-inat kebaikan Mama dari duluuu waktu saya kecil sampai sekarang segede ini. Saya paham betul, Mama gak pernah nuntut yang aneh-aneh sama saya. Tapi saya lah yang harus nuntut diri saya untuk ‘lebih’… Lebih sabar, lebih menerti, lebih perhatian, lebih banyak mendoakan…

Kalau memang harus berpisah..saya harus lebih siap. Dansemoga bisa berkumpul bersama beliau di jannahNya kelak.Aamiin.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
(Al-Isra 23-24)

 

Jumat Terakhir di Syawal 1435 H: Menyambung Rasa Agustus 22, 2014

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:53 pm
Tags:

Waktu kira-kira menunjukkan pukul 11.30. Setelah sampai di sekolah berwawasan lingkungan itu, saya langsung menuju ke kantin untuk menunggu anak-anak keluar dari kelasnya.

Awalnya, saya ingin menunggu di bangku berpayung. Tapi, mendadak saya urungkan niat itu. Saya tertarik untuk duduk bersama-sama bapak dan mbak yang terlihat sedang akrab berbincang.

Bapak yang duduk di dekat mbak itu sudah saya kenal wajahnya. Semenjak saya bersekolah sampai sekarang, beliau tetap setia membantu untuk menjaga kebersihan sekolah. Tapi saya belum tahu namanya.

“Bapak, gimana kabarnya? Sehat-sehat?
“Iya, Alhamdulillah.”

Kemudian mbak yang duduk agak berjarak dari saya bertanya, “Guru ya, Mbak?”

“Bukan, Mbak. Saya alumni, bantu ngisi anak Rohis…”

Bapak itu kemudian menimpali,”Iya nih, dia pembina di sini…”

Saya tersenyum saja mendengarnya.

Kemudian saya mulai berusaha untuk berbincang akrab dengan Mbak itu. Ternyata dia alumni angkatan ’89.

Di tengah perbincangan, tiba-tiba, saya ingat suatu kebiasaan Bapak itu.

“O iya, Pak! Waktu saya sekolah dulu, sering lihat di jalan kalau Bapak suka naik sepeda onthel. Sekarang masih, Pak?”

“Oh, udah nggak. Sekarang ganti jadi naik motor. Makanya lihat nih perutnya jadi gendut gini…”

Mbak itu kemudian menimpali,
“Iya nih, karena suka naik sepeda, Bapak awet muda. Dari dulu ya gitu-gitu aja mukanya sampai sekarang.”

Kemudian, mbak itu pamit duluan. Tinggal saya dan bapak yang masih duduk, menunggu bel berbunyi. Obrolan masih berlanjut.

“Saya dari bujangan sampai sekarang punya anak, tetap (kerja) di sini. Dari tahun ’78. Dulu saya suka jaga gerbang karena belum ada satpam. Sampai-sampai saya suka berantem sama anak-anak. Tapi, anak-anak masih suka nyariin saya. Ada (alumni) yang jadi wakapolda terus main ke sini, nanyain, Sana mana Sana…
Saya ingat wajah anak-anak yang udah jadi alumni, tapi nggak kenal namanya.”

Ya, akhirnya saya tahu! Namanya Pak Sana…

Saya membatin, berarti Pak Sana udah kerja 30 tahun lebih. Saya kemudian ‘iseng’ bertanya lagi.

“Tapi Bapak udah jadi PNS kan?”
“Belum, udah tes berkali-kali. Tapi katanya sekarang berkasnya lagi diurus.”

Obrolan terus berlanjut.

“Anak saya ada yang lagi skripsi di UIN. Terus sudah ada yang kerja. Yang paling kecil masih SMP kelas 3.”

Kemudian, ini perkataan yang membuat saya kagum…

“Saya nggak mau anak saya bodoh kayak bapaknya, cuma tukang sapu. Minimal (lulus) D-3…”

Dan, keinginan beliau hampir sempurna. Tinggal satu anak lagi yang akan diantarnya menuju bangku SMA serta kuliah. Ya Allah, semoga Kau mudahkan..

Rasa kagum dan bangga terhadap tekad beliau tersambung hari ini di hati saya. Namun ada sedikit penyesalan, mengapa saat sekolah dulu saya tidak bisa ngobrol akrab seperti ini dengan beliau? Astaghfirulloh…

Bel akhirnya berbunyi. Anak-anak ramai keluar. Senang bisa bertemu mereka lagi. Anak kelas XII IPA dan XII IPS. Awalnya, memang ingin #Melingkar bersama mereka. Tapi, itu urung dilakukan karena ada acara perkenalan dengan anak Rohis kelas X. Saya mengajak mereka untuk ikut berkenalan dengan adik-adik barunya.

Alumni yang jadi kakak mentor kelas Xnya ternyata belum datang karena masih di jalan. Apa saya yang harus mengisi perkenalan adik-adik?

Selang berapa lama, akhirnya saya diminta juga setelah beberapa kali menolak. Setelah tilawah, ternyata kakak alumninya baru datang. Tapi, mungkin karena baru pertama kali bertemu dan anak-anaknya banyak sekali, tetap saya yang diminta mengisi. Baiklah…Tapi bukan karena saya yang paling tua kan ya? ^^

Kelas X, XI, XII, dan kakak alumni saya minta memperkenalkan diri satu per satu. Setelah itu, saya menjelaskan hal yang singkat sekali. Pertama, tentang tujuan masuk ROHIS, yaitu untuk memperbaiki diri sendiri dan kemudian memperbaiki orang lain. Kedua, tentang karakter anak Rohis yang diambil dari masing-masing huruf yang ada dalam singkatan R.O.H.I.S (Rehabilitation Optimist Happiness Inisiative Sample). Saya juga menekankan pentingnya mentoring sebagai ‘penggerak’ aktivitas ROHIS. Pada akhirnya, saya mengarahkan agar niat ikut ROHIS adalah untuk mengamalkan perintah Allah di surat al-ashr, yaitu untuk beriman, beramal shalih, dan menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.

Acara perkenalan ditutup dengan menuliskan harapan mereka untuk Rohis ke depan. Saya jadi penasaran kira-kira apa ya harapan anak-anak yang usianya terpaut 10 tahun dengan saya ini? Semoga ada yang mendokumentasikannya dengan rapi ya 🙂

O iya, saya juga senang sekali karena di acara itu bertemu dengan anak ROHIS sekolah tetangga yang dulu pernah mentoring dengan saya dari kelas VII-IX. Setelah kelas IX, dia sempat vakum mentoring. Saya sempat berpikir dia sudah ‘lepas’.Alhamdulillah, ternyata tidak…

Dan…rasa bahagia di hati untuk tetap berbagi dengan yang lebih muda kembali tersambung di sini. Di tempat ini…

Salat zuhur telah ditunaikan. Saatnya bertemu dengan adik-adik Rohis di sekolah tetangga. Semoga yang hadir lebih banyak, karena pekan lalu sempat ‘privat’.

Langkah kaki berhenti di masjid berlantai satu. Ada adik-adik yang duduk di depan masjid dan lantas saya salami mereka satu per satu. Sudah ada yang menunggu di dalam. Mereka adik kelas IX.

Alhamdulillah,yang hadir jumlahnya meningkat. Lumayan, ada empat orang. Pertemuan awalnya dibuka dengan mengulangi surat Alqoriah sampai Annaas. Setelah menanyakan kabar masing-masing, materi tentang makna bismillah dan hamdalah mulai disampaikan.

Mereka antusias. Mendengarkan, bertanya, menimpali, seakan tak henti. Materi jadi berkembang kemana-mana namun tetap ada kaitannya satu sama lain, yaitu bagaimana agar diri ini tetap tunduk dan bergantung padaNya.

Ada satu hal yang membahagiakan ketika saya menanyakan mereka akan masuk SMA mana nanti. Alhamdulillah, ternyata mereka ingin sekali masuk ke sekolah berwawasan lingkungan itu!

“Iya Kak, doain ya…”
“Ok, tapi nanti masuk ROHIS lagi ya…” jawab saya sambil menjabat tangan mereka satu per satu.

Akhirnya, rasa syukur pun tersambung karena akan ada generasi yang melanjutkan estafet kebaikan ini. Insya Allah..