Goresan Pena Ayu

Sederhana, (Mencoba) Mengena dan Bermakna

Antara Ba-La-Gha dan Bagaimana September 12, 2016

Filed under: alquran,catatan harian,Hikmah — ayunp @ 3:35 pm
Tags: , , , ,

Mendampingi anak-anak ini  memang menyenangkan. Tapi..ada satu yang mengganjal. Bagaimana cara mengajak mereka untuk salat? Haruskah saya salat sendirian dan rela membuat mereka salatnya jadi tertinggal karena saya tidak mau mengajak?

Saya bingung sekali, apa kata-kata yang harus saya ucapkan untuk mengajak mereka salat?

Mudah sih, “Yuk salat!” Selesai kan?

Tapi, nggak semudah itu…Masalahnya, anak-anak ini paling hanya salat sehari sekali..

Dan, menjelang Idul Adha, akhirnya saya menemukan jawaban secara implisit dari QS: As-Saffat:102. Dalam surat itu, terdapat dialog antara Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di awal ayat itu, ada kata ba-la-gha. Ya, asal kata baligh! Oh, jadi begini cara berkomunikasi dengan anak yang sudah baligh! Tidak langsung memerintah, namun awali dengan frasa ‘bagaimana menurutmu?’ atau ‘bagaimana pendapatmu?’ Kata kuncinya, mulai dengan kalimat tanya ‘bagaimana’.

Ok, Bismillah saya coba ya. Ada satu kesamaan anak-anak itu  dengan Nabi Ismail. Sama-sama sudah baligh.

Begini kira-kira…

“Nak, Ibu boleh minta satu hal?”

“Apa Bu?”

Bagaimana kalau di sela pertemuan ini,  kita break 10 menit untuk salat ashar?”

Apa ya   tanggapan mereka?

Kita lihat saja nanti.

Tapi, harus tetap optimis bahwa mereka bisa menyambutnya dengan positif!

 

 

Iklan
 

Surat dari Mas Menteri untuk Para Pendidik Juli 28, 2016

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:38 pm
Tags: , , ,

surat dari mas menteri

 

Three Days with Raushan Juli 23, 2016

Filed under: catatan harian,Hikmah — ayunp @ 6:24 am
Tags: , , , , , ,

Selasa, 19 Juli 2016

Di H-1 menghadapi tahun ajaran baru, saya sempat galau. Di tengah kegalauan itu, ibu kepala sekolah menyuruh saya untuk melaksanakan sebuah tugas.  “Bu Ayu, besok tolong dampingi Raushan untuk lomba debat bahasa Inggris tingkat DKI ya di SMAUHT*. Berangkat jam 6 dari sekolah karena lombanya akan dimulai jam 07.30.”

Oke, berarti dari rumah saya harus berangkat jam 5.30 supaya tidak terlambat 🙂

“Tapi, Raushannya sudah tahu Bu kalau saya dampingi?” tanya saya.

“Oh, nanti biar guru bahasa Inggrisnya yang memberi tahu.”

Menjelang jam 7  malam, tiba-tiba telepon pintar saya berbunyi. Nomor depannya 0888 dan belum tersimpan di telepon saya. Saya kemudian mengangkatnya dan ada suara anak laki-laki di sana. Dan benar dugaan saya, itu Raushan yang menelepon. Dia mengonfirmasi apakah benar saya menjadi guru pendampingnya ketika lomba debat besok.

Rabu, 20 Juli 2016

Saya berangkat dari rumah jam 05.30 dan sampai di sekolah sekitar jam 05.50. Saya berusaha agar bisa tiba lebih awal sebelum Raushan sehingga dia tidak perlu menunggu. Setelah tiba di sekolah, saya memarkir motor saya, mentab kartu kehadiran, dan kemudian segera menghubungi Pak Ubang, supir sekolah yang akan mengantar ke SMAUHT. Menjelang jam 6, Raushan belum datang. Saya kemudian berinisiatif untuk meneleponnya. Ternyata, dia sudah hampir sampai di sekolah.

Sembari menunggu dia datang, saya bersama Pak Ubang segera naik ke mobil sekolah dan menunggunya di tempat parkir. Selang beberapa menit, Raushan datang juga. Dia ternyata diantar oleh ibunya. Saya kemudian keluar dari mobil dan bersalaman dengan ibunya.

“Ibu, untuk besok bagaimana?”tanya Ibunya Raushan

“Oh, Raushan masuk sekolah seperti biasa bu.”

“Bukannya lombanya 3 hari bu?”

“Oh, iya ya bu…” jawab saya sambil agak kebingungan

“Tolong titip anak saya ya… ”

Waduh, saya baru tahu kalau ternyata lombanya tiga hari, dari Rabu sampai Jumat. Ibu kepsek sepertinya lupa menyampaikannya kepada saya. Baiklah 🙂

Saya benar-benar melaksanakan anjuran Bapak Mendikbud di #HariPertamaSekolah untuk mengantar anak, tapi yang diantar adalah anak didik bukan anak kandung sendiri 🙂

Setelah berbincang sejenak dengan ibunya, saya dan Raushan segera pamit. Setelah saya bersalaman, giliran Raushan yang mencium tangan ibunya. “Jangan lupa doanya ya, Nak!”pesan ibu kepada anak laki-lakinya itu.

Saya dan Raushan naik ke mobil sekolah. Di perjalanan, dia menjelaskan kepada saya kalau lomba pada hari ini diberitahukannya mendadak sekali, baru pada hari Selasa. Padahal, ini lombanya tingkat provinsi. Untungnya, saya masih ingat ketika dia mengikuti lomba debat di tingkat kota.

“Kamu dapat poin tertinggi kan waktu lomba di tingkat kota?”

“Iya, Bu.”

“Yang  dapat poin kedua perempuan kan?”

“Iya, dari (SMA) Tirta Marta. Yang ketiga laki-laki dari (SMA) 47.

Setelah sedikit membahas hasil lomba, saya memberitahukan kepadanya guru-guru yang akan mengajarnya di kelas XII.

“Wah, kamu beruntung nih tahu duluan dibandingkan teman-teman kamu!”

“Iya Bu, tenang aja saya nggak akan nyebarin kok.”

Sedikit cerita, Raushan itu murid yang saya ajar waktu kelas XI tahun ajaran lalu. Dia anak IPA, tetapi tetap antusias ketika belajar mata pelajaran IPS. Dia cukup aktif dan perhatian di pelajaran saya. Nilainya juga meningkat di semester kedua. Saya ingat, pernah di satu pertemuan yang membahas tentang organisasi internasional, dia memberitahukan kepada saya bahwa Inggris berencana keluar dari Uni Eropa. Kalau bukan dia yang memberi tahu, saya mungkin tidak akan mengupdate berita tersebut. Rencana itu benar-benar terjadi setelah  lebih banyak rakyat Inggris yang memilih opsi keluar dari Uni Eropa pada referendum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di kemudian hari, opsi terbanyak itu dikenal dengan istilah #Brexit.

Oke, kita kembali ke obrolan Raushan dengan saya.

“Bu, kata teman saya yang sudah di sana (SMAUHT), hari ini hanya technical meeting saja. Lombanya baru mulai besok.”

“Oh ya?”

“Iya Bu, nanti kita lihat aja di sana.”

Setelah mencari-cari keberadaan SMAUHT karena Pak Ubang sempat nyasar, akhirnya sampai juga di sana, sekitar jam 7.15. Dan ternyata benar, hari ini lomba debatnya belum dimulai.

Sebelum technical meeting ada acara pembukaan lomba oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan pembukaan ini sempat ngaret sampai jam 08.30. Ya, harap maklum karena penyelenggaranya dinas 🙂

Setelah acara pembukaan dan technical meeting selesai, Raushan berdiskusi dengan teman-temannya dari sekolah lain untuk mempersiapkan materi lomba debat esok hari. Saya memberinya waktu sampai jam 12 siang. Sembari menunggu, saya juga mengobrol dengan guru dari sekolah lain.

Saat sedang mengobrol, saya membuka aplikasi line saya dan mendapat pesan dari Raushan. Dia memberitahukan kepada saya kalau sedang mencari tempat foto kopi di luar SMAUHT. Saya mengizinkan dan tetap mengingatkannya untuk segera kembali ke sekolah setelah selesai foto kopi.

Jam 12 lebih sedikit, Raushan kembali bersama teman-temannya. Saya cukup terkejut karena ternyata dia mengizinkan teman-temannya untuk memperbanyak buku petunjuk lomba debat yang dia miliki. Anak yang baik. Dia tidak segan untuk berbagi kepada teman-temannya yang notabene adalah rivalnya dalam lomba.

Di perjalanan pulang, saya mengajaknya ngobrol kembali. Kalau diem-dieman, asli nggak enak banget. Saya lah yang sering membuka obrolan terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, saya dan dia lebih banyak mengobrol tentang lomba debat bersama seorang ibu guru yang menumpang mobil sekolah. Beliau adalah panitia lomba debat tersebut. Sebuah keuntungan buat Raushan karena dia berdiskusi lebih jauh soal lomba yang akan dimulai keesokan harinya.

Setelah ibu guru itu turun, saya ngobrol dengannya lagi.

“Rumah kamu dimana?”

“Dekat kok Bu, di daerah Pondok Labu. Depan kompleks timah.”

“Oh, yang di deketnya lagi di bangun tol ya?”

“Iya, Bu.”

“Kamu biasanya dijemput atau pulang sendiri.”

“Saya pulang sendiri. Naik angkot.”

Wuih, anti mainstream!  Karena anak-anak di sekolah saya biasanya diantar sama supirnya naik mobil.

“Hari ini jam terakhir ngapain Bu?”

“Masih belajar sih, tapi kalau kamu mau pulang nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa Bu, saya mau ikut belajar aja.”

Nanggung, Nak…bentar lagi juga pulang. Batin saya.

“Ya sudah, nanti ibu lihatin jadwalnya di ruang guru.”

Dasar anak suka belajar 🙂

Kamis, 21 Juli 2016

Hari ini, lomba dimulai. Seperti kemarin, Raushan diantar lagi oleh ibunya. Dia awalnya sempat bingung mencari saya dan Pak Ubang karena kami agak terlambat untuk menuju parkiran.

Selama di perjalanan, saya lebih banyak diam. Tidak terlalu banyak bicara. Raushan pun demikian.

Alhamdulillah, sampai di SMAUHT tidak terlambat walaupun jalannya agak jauh sedikit karena jalan yang dilewati kemarin ada yang ditutup. Sampai di sana, Raushan memilih untuk berada di luar tempat lomba dulu. Saat itu, saya mulai membuka obrolan dengannya.

“Gimana persiapannya? Udah buat prediksi sama teman-teman kan tentang motion debat yang akan keluar?

“Iya, udah Bu.”

“Berarti tinggal perkuat kontennya ya? lanjut saya.

“Kalau konten, nanti Bu tergantung motionnya apa yang dikasih.”

Di hari H lomba, saya tidak terlalu banyak bicara dengannya. Dia tampak asyik ngobrol dan bercengkrama dengan teman-temannya dari sekolah lain. Dia dan timnya tampil di babak kelima. Sembari menunggu, mereka menonton teman-teman lain yang berdebat di empat babak sebelumnya. Dia dan timnya baru tampil setelah istirahat makan siang.

Bahkan, saya mengingatkannya agar melaksanakan salat zuhur melalui line chat sajaKata-katanya saya benar-benar pilih agar tidak terkesan menyuruh. Tapi sayang, line chat nya hanya diread  dan sepertinya hatinya belum tergerak untuk menuju ke masjid sekolah

😦

Alhamdulillah,  dia tampil di babak kelima dengan sangat baik. Berperan sebagai pembicara kedua yang  berhasil melakukan satu kali interupsi dan juga menyampaikan reply speech. Setelah menunggu sepuluh menit, hasil babak pertama hingga babak kelima diumumkan oleh juri. Dan dia berhasil menempati peringkat ketujuh dari tiga puluh pembicara. Dengan demikian, dia termasuk 12 pembicara terbaik yang akan masuk ke babak selanjutnya. Hebat!

Di babak selanjutnya, dia juga tampil sangat baik. Kestabilan performanya terjaga. Ketika itu, saya merasa yakin dia akan masuk menjadi 6 pembicara terbaik. Bahkan, saya juga berharap dia bisa masuk menjadi 3 pembicara terbaik. Tetapi keyakinan dan harapan saya itu masih harus dibuktikan pada keesokan hari.

Di perjalanan pulang, saya juga lebih banyak diam. Namun dia sedikit berdiskusi tentang lomba debat yang  baru selesai jam 5 sore  tadi dengan ibu guru yang ikut menebeng lagi hari ini. Setelah ibu guru itu turun, saya memulai lagi pembicaraan dengannya.

How do you feel today?”

(senyum-senyum saja tidak menjawab)

“Oh iya, SDmu di Cikal ya?”

“Iya bu.”

“Kalo SMP?”

“Di Lazuardi.”

“Oh, yang di Jalan Margasatwa itu ya?”

“Iya bu.”

“Kan kamu pernah di New York. Terus bagaimana sekolahnya?”

Ketika saya bertanya itu, dia bercerita agak panjang. Saya agak lupa detailnya. Tapi yang jelas ternyata dia lahir di Belanda, kemudian sempat berpindah ke Swiss dan New York. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia sampai sekarang. Ya, risiko anak diplomat…

“Tapi nanti kuliah di Indonesia kan?”

“Iya bu, saya kan mau nyebrang ke (fakultas) hukum. Kalau S-1 di luar mana bisa…Beberapa bulan lagi ayah, ibu, dan adik saya mau pindah ke New York karena ditempatkan di KJRI sana. Tapi saya nggak ikut karena mau kuliah di sini.”

“Ok, kalau S-2 ya baru kamu di luar negeri ya…”

“Iya Bu…”

Saya juga sempat menyinggung sedikit tentang lomba debat.

“Kalau kamu masuk 3 besar, nanti finalnya di Palu.”

“Palu? Itu dimana?”

“Di Sulawesi Tengah.”

“Semoga bisa masuk tiga besar ya Bu.”

“Iya, ibu selalu berdoa kok supaya kamu bisa.”

Ketika maghrib tiba, kamipun sampai di sekolah.

Sebelum turun dari mobil, Raushan sempat memastikan lagi kepada saya.

“Besok kita berangkat jam 6.30 kan?”Sama ibu lagi kan ke sananya?”

“Iya Nak…”

Jumat, 22 Juli 2016

Raushan tiba lebih dulu dari saya. Dia tampak menunggu sambil berdiri di dekat parkiran motor. Saya melihatnya lebih dulu dan langsung saya panggil. Akhirnya dia menghampiri saya menuju parkiran motor.

“Maaf, Ibu baru sampai.”

“Nggak apa Bu. Kalau berangkatnya jam 6 saya malah nggak ada yang ngantar.”

Dia akhirnya menuju mobil sekolah setelah bersalaman dengan beberapa guru yang ditemuinya.

Di perjalanan berangkat,  saya juga lebih banyak diam. Saya hanya bertanya satu pertanyaan.

“Kemarin kamu sampai rumah jam berapa?”

“Jam 6.30, Bu. Macet.”

Pak Ubang juga menimpali.

“Saya baru sampai rumah jam 8.00.Macet banget di Depok!”

Ketika sampai di SMAUHT, Raushan agak gelisah. Dia tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir saja. Sepertinya, dia agak nervous sebelum mendengar pengumuman 6 pembicara terbaik yang akan maju ke babak final. Ada temannya yang mengingatkan supaya dia jangan terlalu nervous.

Akhirnya doa saya terkabul. Raushan berhasil masuk menjadi enam pembicara terbaik sehingga berhak masuk ke babak final. Motion di babak final agak sensitif buat saya karena membahas tentang pro-kontra penerapan syariat Islam di sebuah negara. Raushan berada di affirmative team yang berperan sebagai pemerintah yang tidak setuju terhadap penerapan syariat Islam di sebuah negara.

Sebelum maju, saya sempat berbisik kepadanya,

Good Luck, Raushan!”

Thank you, Miss” balasnya.

Raushan tetap tampil dengan performa terbaik. Bahkan ada beberapa teman dari sekolah lain yang merekam speechnya. Raushan menjelaskan dengan sangat baik mengenai mengapa pemerintah perlu melarang penerapan syariat Islam dengan disertai contoh negara-negara Islam yang melakukan ‘penyimpangan’. Bahkan dia sempat mengakhiri penyampaian contoh-contoh itu dengan frasa yang menyindir,’ What a wonderful country!’.

Namun dalam hati saya agak miris juga. He, ini anak sekolah Islam kenapa bisa ngomong begini 🙂 Tapi ya sudah, karena seorang debaters harus ‘bermain’ sesuai dengan peran yang diperolehnya. Di perjalanan pulang nanti, saya berniat untuk menanyakan pendapatnya sebagai pribadi mengenai syariat Islam.

Di dalam hati, saya hanya bergumam sendiri..Ya, kalau syariat Islam diperdebatkan, pihak yang antisyariat, cepat atau lambat akan kalah deh. Sehebat apapun argumen untuk menentangnya, syariat Islam yang langsung diciptakan oleh Allah akan selalu tampak kesempurnaannya. Di situ uniknya Islam. Semakin ditentang, semakin dicaci, semakin tampak cahayaNya.

Saya langsung teringat ayat ini

Ash Shaff 8

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.”

Bahkan, argumen Raushan langsung dicounter  oleh Hafizh dengan berapi-api. Hafizh adalah pembicara yang ada di negative team yang berperan sebagai rakyat yang mendukung penerapan syariat Islam. Uniknya, setelah debat selesai, mereka berdua langsung bersalaman dan Hafizh berkata kepada Raushan,” What a great debate!”

Singkat cerita (karena udah malem nih ), Raushan akhirnya mendapat peringkat kelima sehingga dia tidak berhasil meraih posisi tiga besar. Alhamdulillah, dia tidak merasa kecewa karena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran. Dan alhamdulillahnya lagi, dia hari ini pergi salat jumat tanpa perlu saya ingatkan. Di perjalanan pulang ketika saya ngobrol-ngobrol dengannya, dia berpandangan cukup positif terhadap syariat Islam. Satu hal lagi yang juga menggembirakan, dia ternyata  suka membaca buku apa saja karena pengaruh dari ayahnya.

Sebelum sampai di sekolah, dia bertanya kepada saya, “Bu, hari ini  ngapain di jam terakhir?”

“Oh, cuma nonton pensi aja dari anak kelas X. Nggak belajar.”

“Ya udah deh, saya mau pulang aja…”

What a good boy ! Nah gitu, kalau udah nanggung jamnya, pulang aja ke rumah. Nggak usah ‘kerajinan’ deh 🙂

 

Nice to be with you in these 3 days, Uci*.

Stay hungry, stay foolish.

Never stop learning!

IMG_20160722_233825

 

*SMAUHT: Sekolah Menengah Atas Unggulan Husni Thamrin, sebuah sekolah negeri yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur

*Uci: panggilan Raushan di  keluarganya

 

Ramadhan Delivery Juni 6, 2015

Filed under: catatan harian — ayunp @ 2:08 pm
Tags:

buku ramadan

Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) di SMPN 85 Jakarta adalah sebuah acara yang tidak pernah saya lewatkan dua Ramadhan yang lalu, tepatnya tahun 2011 dan tahun 2012 .  Di Tahun 2011, ada sebuah peristiwa yang membuat saya geli. Ada sebagian anak-anak yang ‘keukeuh’ mau delivery makanan dari sebuah restoran cepat saji di tengah malam! Awalnya, mereka sendiri yang telepon ke restoran itu. Saat menelepon, mereka ‘meracau’ tidak jelas sehingga mas-mas pelayan resto yang menerima telepon menjadi bingung. “Sini kakak yang ngomong! Kalian tulis makanan apa yang mau dipesan!” tegas saya.

Setelah mengetahui berapa harga pesanan yang harus dibayar, saya mengumpulkan uang mereka untuk membayar pesanan itu. Saya pula yang menunggu pesanan itu datang. Sayangnya, saya tidak ikutan makan lho! 🙂

Nah, di MABIT selanjutnya pada tahun 2012, saya sekamar lagi dengan sebagian anak-anak itu. Spontan, saya langsung bilang,”Dek, tahun lalu ikut mabit kan? Masih ingat kakak nggak?” Mereka jawab, “Iya Kak masih ingat. Yang delivery itu kan?” Lalu saya ledekin deh mereka,”Nggak mau delivery lagi nih?” Mereka diam aja tuh..hehe.

tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway Ramadhan in Love

 

Indahnya Lingkaran Itu… April 20, 2015

Filed under: Hikmah,yang bagus — ayunp @ 3:01 pm
Tags: , , ,

Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat di atas, para ghuraba (orang-orang terasing) masa kini mewujudkan sabada Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang shalat malam dan puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya.

Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah dakwahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizki membawakan pisang goreng yang tadi pagi dibuat ibunya atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.

Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan mabit (menginap) agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka rihlah (berwisata). Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahi dan mengagumi ciptaanNya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan, atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang jauh lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan.
“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR.Muslim, dari Abu Hurairah)

Di sana kita bisa jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah…ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Maka tepatlah jika forum seperti ini disebut sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.

Bahkan ketika suatu waktu anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di masjid kampus atau masjid kampung, mushola sekolah atau rumah seorang ustadz , lalu anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin kerena iseng saja, Insya Allah anda tidakkan kecewa.
“… Seorang malaikat berkata, “Rabbi di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan majelis itu. Allah berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk mem-bersamainya!” (Potongan hadits Mutaffaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah, lihat Riyadhush Shalihin Bab Keutamaan Lingkaran Majelis Dikir)

Maka demi Allah, apa yang anda tunggu? Perkenalkan diri anda pada mereka sejelas-jelasnya. Katakan, anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu Insya Allah akan mencarikan majelis lain yang indah untuk anda. Kalau di kampus anda ada kegiatan bernama Mentoring maka bergabunglah. Setelah itu, bisa jadi Allah akan menguji anda, mungkin dengan perasaan bawah majelis ini tidak seperti yang anda harapkan, maka bersabarlah…

Mungkin kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.
Source:Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah

 

Ngajar PKn Pakai Meme, Why Not? :) April 15, 2015

Filed under: cerita mengajarku — ayunp @ 12:48 am
Tags: , ,

Ini dia meme pertama saya tentang sistem perundang-undangan. Cukup berhasil karena anak-anak tertawa saat saya tunjukkan ini kepada mereka 🙂

Meme Hierarki PerUUan

 

Jaket Kuning untuk Semua – Kisah Inspiratif Para Penerima Beasiswa di Universitas Indonesia Januari 21, 2015

Filed under: yang bagus — ayunp @ 3:28 pm